WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 101 Penyesalan dan Harapan


__ADS_3

Penerbangan internasional baru saja mendarat pukul 18.30. Para penumpang berurutan turun dari tangga. Satu diantara sekian penumpang yang turun dari pesawat itu adalah Ibra. Ia berjalan sendiri tanpa didampingi Deryll.


"Sialan! Aku telah tertipu oleh buaya," gumamnya sambil berjalan keluar dari bandara Ngurah Rai. Kemudian memanggil taxi untuk mengantarnya pulang.


"Malu rasanya pada diri sendiri orang seperti aku bisa tertipu," gumamnya lagi di dalam taxi yang membawanya pulang.


Banyak wanita yang tahu siapa Ibra. Playboy kelas kakap. Kata-kata rayuannya ibarat monster salju di pegunungan Himalaya. Yang mampu membekukan hati siapa pun yang mendengarnya. Tidak ada wanita yang bisa berkutik kalau dia sudah merayu.


Tetapi pria perayu ini sekarang baru kena batunya. Deryll ternyata hanya memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan sebagian aset kekayaan mantan suaminya. Janjinya untuk hidup bersama di Australia dengan kekayaan yang melimpah, ternyata cuma hanya di bibir manis wanita bule itu.


Sudah tidak menarik lagi untuk dikenang kisah cintanya dengan Deryll. Kini dia pulang dengan tangan hampa, hati sakit tak terkira.


"Inilah pembalasan yang harus kuterima. Karma dari perbuatanku sendiri yang selama ini telah banyak menyakiti wanita," kata batinnya.


"Sekarang apalagi yang akan aku lakukan. Balas dendam kepada Deryll pun sudah tak bersemangat. Tidak ada yang ingin aku minta kembali darinya. Wanita itu tidak punya rasa cinta sama sekali padaku. Menyesal aku kenapa membantunya untuk menyusahkan Cytra." Ibra terus bermonolog.


Ketika taxi yang ia tumpangi berbelok ke jalan yang menuju rumahnya, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil melaju cukup kencang. Sopir taxi berbelok terlalu ke tengah jalan. Sehingga tak ayal terjadi benturan cukup keras. Kedua mobil sama-sama terpental ke sebelah kiri.


Setelah kedua mobil berhenti di tempatnya masing-masing, sopir taxi keluar dengan berkacak pinggang. Begitu juga sopir mobil lawannya.


Ibra cuma memperhatikan mereka dari dalam mobil. Terlihat kedua sopir itu bersitegang. Mereka saling adu argumentasi penyebab kecelakaan. Sopir taxi menyalahan kalau sopir mobil lawannya tidak mengurangi kecepatan. Padahal berada di tikungan jalan. Sedangkan sopir mobil lawannya bilang kalau sopir taxi teralu ke tengah melebihi marka jalan.


Adu mulut makin seru bahkan sudah saling mendorong badan lawan bicara. Melihat mereka mau berantem, Ibra cepat-cepat turun dan melerai mereka. Begitu juga penumpang mobil satunya.


"Lho, kamu Ibra anaknya Nyonya Andante!" seru penumpang mobil mewah itu.


Ibra pun sama berseru karena penumpang mobil mewah itu adalah Frans Seda. Mereka pernah bertemu saat dilakukan akuisisi PT ANN.


Melihat itu kedua sopir berhenti bersitegang.


"Kebetulan kita bertemu. Ayo ikut aku ngobrol di cafe saja," ajak Frans.


"Terus urusan mereka bagaimana?" kata Ibra menunjuk ke arah dua sopir yang masih berhadapan dengan sikap kaku.


"Sudahlah kita fity-fity saja. Tidak ada yang perlu mengganti satu sama lain. Kalau soal kerugian sebenarnya pihak saya yang rugi banyak," kata Frans tegas.


Sopir taxi menerima walaupun kelihatan masih dongkol. Tapi kalau melihat kerusakan di mobil mewah itu memang cukup parah. Lampu besar yang harganya di atas lima puluh juta itu pecah berantakan.


"Ayo kamu masuk ke mobilku," ajak Frans setelah Ibra membayar ongkos taxi.


"Kamu darimana kok naik taxi dan membawa tas rangsel begitu?" tanya Frans.

__ADS_1


"Saya baru dari Australia, Om," Ibra memanggil Frans Om karena usianya jauh lebih tua.


"Bisnis apa di Australi?" tanya Frans basa-basi.


Karena dia tahu Ibra itu anak satu-satunya Ny Andante yang manja dan playboy. Tidak mungkin ada urusan pekerjaan.


"Main saja kok, Om," jawab Ibra malu.


"Pasti dengan cewek, ya?" tebak Frans.


"Dengan cewek dong, Om. Masa dengan cowok."


"Hahaha.... Hebat kamu!" seru Frans.


Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah cafe. Ibra yang pikirannya sedang kacau, menurut saja diajak minum-minum. Sampai tak sadar entah sudah berapa sloki yang diteguk bersama Frans dan teman satu lagi sopir pribadi merangkap pengawal Om Frands.


"Ibra, apa yang sedang kau inginkan saat ini?" tanya Frans. Karena melihat Ibra banyak melamun.


"Aku ingin membunuh Deryll! Dia sudah membuat aku kecewa sekali!" kata Ibra sudah dipengaruhi oleh minuman.


"Deryll istri Mr Morgant?"


"Ya. Istri yang sudah diceraikan karena berselingkuh."


"Pokoknya dia sudah mengecewakan aku. Sudah kubantu mendapatkan harta peninggalan Morgant. Tetapi setelah dapat saya dibuang begitu saja."


"Bukankah Cytra yang menguasai harta beliau."


"Betul. Karena itu dia minta bantuanku untuk merayu Cytra. Tapi nytanya apa. Setelah Cytra membagikan sebagian hartanya, Deryll melupakan janjinya menikah denganku."


"Deryll memang licik. Tapi kamu masih bisa menggagalkan Deryll mendapatkan harta tersebut."


"Bagaimana caranya. Sedangkan Cytra sudah menandatangani pelimpahan kekuasaan sebagian harta kekayaan Morgant kepadanya."


"Kamu datangi Cytra dan minta mencabut kembali keputusannya sebelum hal itu digelar di forum rapat pemegang saham."


"Apa belum terlambat, Om?"


"Makanya harus cepat dilakukan. Karena rapat pemegang saham baru akan dilakukan pada bulan depan," kata Frans tahu hal itu, karena dia termasuk orang dalam perusahaan Morgant Corp.


"Apakah Cytra mau mencabut kembali keputusannya?"

__ADS_1


"Bisa apabila kamu bisa merayunya. Cytra kan pernah dekat denganmu. Pasti masih ada sisa-sisa cinta di dalam hatinya," Frans lebih kuat merayu Ibra. Karena ada rencana lainnya yang belum saatnya dibeberkan kepada Ibra.


"Aku tidak mau bertemu dengan Cytra. Aku sudah banyak mengecewakannya," Ibra nampak gamang.


"Makanya kamu perlu temui dia minta maaf. Bila dia mau memaafkanmu, berarti dia masih menerima kehadiranmu. Baru setelah itu kamu rayu dia untuk membatalkan pelimpahan harta kekayaan kepada Deryll," kata Frans membangkitkan semangat Ibra kembali.


Perbincangan dengan pengaruh minuman keras itu berlangsung sampai larut malam. Tentu saja bukan hanya dengan minuman keras Frans membujuk Ibra. Tapi juga menawarkan kelezatan lainnya berupa wanita penghibur.


****


Sementara itu jauh di salah satu sudut kota Jakarta, di sebuah rumah besar seperti istana, Cytra dan Radita sedang menyusun rencana agar Putra dan Sanjaya mau menerima Radita sebagai Papanya.


Selama satu pekan di Bali, Cytra melihat anak-anaknya begitu akrab berkumpul dan bermain dengan Radita. Seakan mereka bukan lagi sebagai adik kakak, melainkan seperti anak dengan Papanya. Cytra senang melihatnya.


"Kamu sendiri sudah yakin dengan pilihanmu untuk hidup bersama denganku?" tanya Radita seakan belum percaya dengan yang diucapkan Cytra beberapa menit yang lalu.


Cytra tidak perlu menjawab pertanyaan yang entah sudah beberapa kali dilontarkan oleh Radita. Sebab Cytra mengungkapkan perasaannya tidak asal terucap dari bibirnya. Tetapi sudah melalui pertimbangan yang matang.


Rasanya terlalu naif kalau Radita mengulang-ulang pertanyaan yang sama seperti itu.


"Kenapa kau selalu pertanyakan hal itu?" Cytra pandang wajah Radita dengan serius.


"Aku sendiri tidak tahu. Aku merasa seperti akan ada sesuatu yang akan menghalangi rencana kita." Ucapan itu seperti mengadu.


"Itu tandanya masih ada keraguan dalam hatimu?" kata Cytra.


"Aku tidak ragu untuk menikah denganmu. Apalagi hakim sudah mengetuk palu kalau aku dan Vika sudah resmi bercerai," ungkap Radita.


"Apa karena kamu masih merasa bahwa aku bekas ibu tirimu?"


"Tidak! Perasaan itu justru sudah hilang sudah lama."


"Oh! Mungkin kamu tak yakin rencana kita untuk membujuk anak-anak tidak akan berhasil?"


"Saya yakin akan berhasil."


"Lalu apa yang membuatmu gamang seperti itu?"


Radita terdiam.


Malam makin nglangut di beranda rumah itu. Radita menangkap lagi perasaan aneh dalam dirinya. Seperti sebuah firasat. Entah apa yang akan terjadi esok pagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2