
Tuan Wisnu meremas ponselnya dengan perasaan marah, dia baru saja menerima foto dari orang suruhannya yang dia tugaskan untuk mengawasi Andini.
"Kau benar benar ingin melihat siapa aku rupanya." ucap tuan Wisnu geram.
- - -
Davian baru saja sampai dikantor nya setelah makan siang bersama Andini, dia kembali fokus mengecek beberapa berkas di depannya.
Tok tok tok
"Masuk." Davian merapikan berkas yang sudah selesai dia pelajari.
"Ada paman di depan ingin bertemu." ucap Reno.
Davian langsung berdiri dan keluar untuk menyambut tuan Abas.
"Kenapa tidak langsung masuk paman." ucap Davian sambil mencium punggung tangan tuan Abas.
"Apa kamu sedang sibuk?" tanya tuan Abas setelah duduk di sofa ruang kerja Davian.
"Tidak paman, ada apa Paman?" tanya Davian penasaran.
"Ada sesuatu yang penting ingin paman bicarakan." ucap tuan Abas dengan tatapan nanar.
"Apa itu paman?" tanya Davian penasaran.
"Tentang orang tua mu." jawab tuan Abas singkat.
Tuan Abas mulai pembicaraan dengan bercerita perihal kecelakaan orang tua Davian.
Flashback on
"Abas." panggil tuan Ferdiansyah.
__ADS_1
"Iya kak." jawab tuan Abas.
"Kamu adalah saudara saya satu satunya, hanya kamu yang bisa saya percaya." kata tuan Ferdiansyah sembari menatap taun Abas.
"Maksud kakak?" jawab tuan Abas bingung.
"Saya harap kamu bisa menjaga Davian seperti kamu menjaga anakmu sendiri!" ucapan tuan Ferdiansyah semakin membuat bingung tuan Abas.
"Saya," belum selesai tuan Abas bicara tuan Ferdiansyah langsung memotong pembicaraan.
"Dengarkan saja apa yang mau saya sampaikan." ucap tuan Ferdiansyah tegas,
Tuan Abas pun mengangguk.
"Jika saya pergi kamu harus menjaga Davian, saya titipkan perusahaan ini padamu, suatu hari jika Davian sudah siap melanjutkan perusahaan ini kamu beritahu semua pada Davian." kata taun Ferdiansyah dengan sorot mata tajam.
Tuan Abas hanya diam dia seperti memiliki firasat tidak baik kepada kakaknya, tapi dia tidak berani bertanya lebih kepada tuan Ferdiansyah.
Flashback off
- - -
"Paman tahu akan ada sesuatu karena kakak mengatakan itu tepat sehari sebelum mereka berangkat dan terjadi kecelakaan itu, tapi paman tidak berani bertanya lebih." ucap tuan Abas dengan rasa penuh penyesalan dan menahan air matanya.
"Sudah paman, itu semua sudah di garis kan kita tidak bisa merubahnya." kata Davian memenangkan tuan Abas.
Davian melihat pamannya yang datang untuk menyampaikan hal tersebut dia pun memiliki firasat yang tidak baik.
"Paman kenapa paman menyampaikan hal ini sekarang, Dav merasa belum mampu untuk mengelola perusahaan paman." Davian berani bertanya kepada tuan Abas.
"Itu semua perusahaan ayah mu Dav, paman hanya mengelola saja." jawab tuan Abas.
"Baiklah paman, tapi ini semua bisa kita bicarakan nanti, tidak sekarang paman." tanya Davian yang merasa tuan Abas terlalu cepat memberi tahu semua ini.
__ADS_1
"Nanti atau sekarang sama saja Dav, sekarang paman masih ada waktu untuk bicara denganmu." ucap tuan Abas masih dengan air mata yang menetes mengingat kenangan bersama kakaknya.
Davian ingin bertanya lebih lanjut tapi tuan Abas melarang Davian, dia hanya ingin menyampaikan hal ini, tidak hendak memaksa Davian untuk menjalankan semuanya sekarang.
Waktu sudah menunjukkan puku 6 petang tapi Davian masih termenung di kursi ruang kerjanya, setelah kepulangan tuan Abas, ada sesuatu yang dia rasakan di hatinya tapi dia tidak bisa mengetahui apa itu.
- - -
Di luar gedung milik Davian dua orang sedang duduk dan mengawasi gedung tersebut, mereka menerima perintah dari tuan Wisnu untuk membuat perhitungan kepada Davian, setelah beberapa saat menunggu mereka melihat mobil Davian keluar dari gedung tersebut, mereka langsung menancap gas mengikuti Davian.
Davian melewati jalan sepi kanan kirinya adalah kebun kosong, itu adalah jalan yang biasa dia lalui sebelum sampai di daerah perumahannya, Davian kaget ketika ada mobil yang berhenti mendadak di depannya, dia melihat dari dalam mobil turun dua orang yang menghampiri mobilnya.
Davian menurunkan kaca mobil setelah salah satu dari mereka mengetuknya.
"Ada apa?" tanya Davian tangan kanannya dia sembunyikan sambil menggenggam sebuah pisau lipat kecil.
"Kami hanya ingin menyampaikan pesan dari tuan Wisnu." ucap orang yang berperawakan tinggi besar.
Mendengar nama tuan Wisnu Davian menurunkan sikap waspada nya, dia bertanya lebih lanjut.
"Pesan apa?" tanya Davian dengan tatapan menyelidik.
"Jauhi Nona Andini atau," belum sempat mereka menyelesaikan bicaranya Davian memotong ucapan mereka.
"Atau apa?, tuan Wisnu akan membuatku kehilangan dia." ucap Davian dengan nada tinggi.
"Bukan." jawab tegas dari orang itu.
"Nona Andini yang akan kehilangan anda selamanya." ucapnya kemudian beranjak meninggalkan mobil Davian.
- - -
Andini masih terisak di kamarnya dia bahkan belum sempat mengganti pakaiannya, ketika Andini tiba di rumah tuan Wisnu menyambut nya dengan ekspresi marah dan berkata.
__ADS_1
"Andini jika kamu masih berhubungan dengan dia, papa akan menghilangkan dia dari hidupmu!".