WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 137. Meretas Kasus Mama


__ADS_3

Dada Ridwan makin bergetar ketika turun dari taxi melihat motor Maulana sudah parkir di halaman rumah Cytra yang besar dan megah itu.


"Berani amat anak urakan itu ngapelin calon istriku. Awas bila berani macam-macam," gumam Ridwan.


Saat ia bergegas berjalan melewati halaman tidak dilihatnya Pak Jono, penjaga rumah. Atau dua anak Cytra yang lucu-lucu itu.


Sampailah langkahnya di teras. Tapi tetap saja suasana sepi tidak ada sambutan. Juga tidak terdengar suara Cytra atau Maulana yang sedang ngobrol.


"Sedang apa mereka?!"


Ridwan lalu melongok ke ruang tamu dan tidak terlihat satu orangpun. Ia lalu mundur keluar dan duduk di kursi teras.


Ingin sebenarnya Ridwan masuk ke dalam mencari mereka berdua. Pikiran buruk Ridwan jangan-jangan mereka berdua ada di dalam kamar. Tapi sangat tidak mungkin. Paling mereka sedang keluar.


Setelah beberapa menit tidak tahu harus berbuat apa di teras itu, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman. Ridwan menyangka yang datang Maulana dan Cytra. Ternyata orang lain yang tidak dikenalnya.


Ada Dua orang di dalam mobil itu. Wanita dan pria. Mereka turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Yang wanita berpenampilan sangat cantik sekali. Wajahnya mirip dengan Cytra. Tapi agak lebih tua sedikit.


"Permisi apakah saudara kenal dengan Cytra Amalia?" kata tamu yang wanita kepada Ridwan dengan sopan. Sedangkan yang pria memperhatikan Ridwan penuh selidik.


"Betul Bu, ini rumah Cytra Amalia," jawab Ridwan ramah.


"Bisa panggilkan Cytra, kami sedang perlu penting," kata tamu yang pria dengan sikap angkuh.


"Maaf sepertinya tuan rumah tidak ada di tempat," jawab Ridwan kira-kira. Karena dia sendiri baru datang dan belum ketemu tuan rumah.


"Anda itu siapa? Kok bisa bilang tuan rumah tidak ada di tempat!" tamu yang pria tiba-tiba bicara dengan emosi.


"Anda juga siapa? Baru datang marah-marah begitu," Ridwan meladeni kemarahan sang tamu dengan berani.


Cekcok atau adu mulut pun tak dapat dihindari. Bentakan dan teriakan bersahutan. Beberapa asisten rumah sampai pada keluar ingin tahu apa yang terjadi. Sedangkan Pak Jono yang sedari tadi tidak kelihatan, kini nampak lari tergopoh-gopoh dari belakang.


"Waduuuh....Maaf Tuan-Tuan semua. Saya baru dari belakang perut mules sekali. Ada apa ini Tuan kok ribut-ribut?" kata Pak Jono menengahi mereka yang sedang bertengkar.


"Dia yang mengawali membentak saya, Pak," Ridwan menunjuk ke sang tamu pria.


"Kamu yang tidak sopan, sembarangan saja bilang tuan rumah tidak ada," sang tamu laki-laki tak mau disalahkan.


"Ya, memang benar Nyonya tidak ada di rumah. Baru saja pergi," kata Pak Jono membenarkan Ridwan.


"Nah! Betul kan apa yang aku bilang!" seru Ridwan.


"Diam! Kamu tidak tahu siapa kami berdua!" bentak sang tamu dengan congkaknya.

__ADS_1


"Memangnya Tuan dan Nyonya ini siapa?" tanya Pak Jono.


"Kami orangtuanya Cytra. Pergi kemana dia, Pak?" tanya kedua tamu tersebut masih dengan sikap yang angkuh.


"Saya tidak tahu," jawab Pak Jono dengan perasaan heran melihat dua orang yang mengaku sebagai orangtua bosnya itu.


"Kita tinggal pergi saja, Sayang. Percuma," kata tamu yang perempuan.


"Ok. Mari kita pulang saja. Percuma berurusan dengan mereka yang tidak tahu apa-apa," kata tamu yang laki-laki mengejek.


"Huh!!"


Sedetik kemudian mereka berdua pulang.


Ridwan dan Pak Jono berdiri memperhatikan mereka sampai masuk ke mobilnya lalu meluncur pergi meninggalkan rumah Cytra.


"Bapak tahu kalau mereka itu orangtua Cytra?" tanya Ridwan heran.


"Maaf saya juga tidak tahu, Tuan. Karena saya bekerja disini masih baru. Mungkin para asisten lainnya juga tidak tahu kalau Nyonya Cytra masih punya orangtua."


"Tadi Nyonya Cytra pergi sama anak-anak saja apa ada lagi yang ikut?" tanya Ridwan.


"Ya, ada seorang pemuda yang pakai celana robek di lutut. Pemuda itu malah yang diminta menyetir," jawab Pak Jono jujur.


"Pergi kemana mereka, Pak? Biar aku susul," tanya Ridwan.


"Ya sudah. Kalau begitu saya nunggu disini saja."


Sambil duduk di kursi teras Ridwan membayangkan Maulana yang sedang pergi satu mobil dengan Cytra.


"Sialan!" Perasaan cemburunya membeludak memenuhi rongga dadanya. "Beruntung sekali si urakan itu!"


Ridwan lalu berpikir kok bisa Cytra pergi bersama Maulana. Apa mungkin karena sudah kenal lama dengan keluarganya. Karena konon Tante Mira juga pernah bekerja sebagai penyanyi cafe. Atau apakah ada sebab lain.


Cukup lama Ridwan menunggu di rumah bersama Pak Jono. Tapi Cytra belum juga pulang.


"Pergi kemana mereka ya, Pak? Kalau cuma makan siang saya kira tidak mungkin berjam-jam begini," kata Ridwan.


"Atau mungkin mereka sedang ada keperluan lainnya, Tuan?" ujar Pak Jono.


"Pacaran maksudnya?"


"Ya, bisa saja seperti itu. Karena Nyonya Cytra disamping masih muda punya kekayaan yang melimpah. Tuan tertarik juga kan dengan Nyonya?" tanya Pak Jono.

__ADS_1


Disaat Ridwan sedang sibuk memikirkan Cytra yang tidak-tidak, disaat yang sama Cytra sebenarnya sedang berada di rumah Tante Mira.


Cytra ingin membuktikan kata-kata Maulana bahwa persetubuhan Vionita dan Radita tanpa disengaja.


Sebaliknha Cytra menduga persetubuhan itu disengaja. Seperti ada persengkokolan dengan tuan rumah. Sehingga Radita dan Vionita begitu bebasnya melakukan persetubuhan.


"Sungguh itu di luar dugaan kami, Cy. Kami saat itu memang ada keperluan keluarga pergi ke Banyuwangi. Sedangkan Vionita saya ajak tidak mau."


"Kejadian itu sebenarnya tidak ingin kupersoalkan lagi. Saya cuma ingin membuktikan cerita Maulana benar atau tidak."


"Memangnya kamu cerita apa, Nak?"


"Saya cuma menceritakan seperti apa yang dikatakan Mama tadi. Kalau kita saat itu sedang pergi ke Banyuwangi."


"Ya, memang seperti itu kronologisnya. Sungguh kami tidak menduga akan terjadi insiden. Bila hal itu membuatmu kecewa kami minta maaf," kata Tante Mira.


"Tante kan seorang wanita sama denganku. Mestinya bisa merasakan apa yang saya rasakan saat ini," kata Cytra.


"Sekali lagi saya minta maaf, Ci." Mira menggenggam tangan Cytra erat-erat.


"Yang aku heran kenapa mereka bisa lepas kontrol begitu. Padahal Mama tahu Radita adalah calon suamiku. Dan Radita jelas tahu bahwa Vionita adalah calon mertuanya. Pasti diantara mereka ada yang dengan sengaja menginginkan hubungan intim itu terjadi."


"Saya tidak tahu tentang itu, Cy. Saya kira hubungan itu terjadi karena suka sama suka."


"Tidak. Pasti ada pemicunya. Di dunia hiburan malam Tante pasti tahu apa yang kumaksudkan."


"Maksudmu Mamamu yang menginginkan hubungan itu terjadi dengan memberi obat perangsang kepada Radita?"


"Perkiraan saya begitu. Radita pasti tidak akan mudah begitu saja menggauli Mama bila tidak ada pemicunya."


"Aku kagum pikiranmu bisa sampai setajam itu, Cy. Pantas kalau kariermu di bidang bisnis cepat melambung," ucap Mira menyanjung, tapi tak dihirukan oleh Citra.


"Berarti benar kan Mama menggunakan pemicu?" tanya Cytra.


Mira mengangguk.


"Lalu saya mau bertanya lagi sama Tante. Mungkinkah Mama melakukannya tanpa ada yang melatarbelakanginya?"


"Ya tentunya ada. Tapi aku tidak tahu apa motivasi Mamamu berbuat seperti itu," jawab Mira.


"Menurutku motivasi Mama yang pertama karena dendam. Ingin membalas perbuatanku dulu. Kedua akibat Tante menjodohkan aku dengan Maulana. Sehingga Mama berusaha menggagalkan pernikahanku dengan Radita. Agar Maulana bisa menikah denganku."


Tante Mira diam mendengarkan. Benar apa yang dikatakan Cytra. Dua faktor itu yang menyebabkan Cytra kehilangan Radita, calon suaminya.

__ADS_1


Sekarang yang bisa Mira lakukan adalah minta maaf kepada Cytra. Sedangkan rencananya untuk menjodohkan Cytra dengan Maulana rasanya sudah tidak mungkin dilaksanakan. Cytra sudah terlanjur kecewa dengan Tante Mira.


Bersambung


__ADS_2