
Dokter Sifa melihat keadaan Davian tidak bisa menahan air matanya, dia berdiri mematung beberapa meter dari posisi Davian terbaring.
- - -
Di luar ruangan Sam masih terlihat gelisah, beberapa perawat hilir mudik di depannya dia acuhkan, pintu ruang UGD terbuka Sam langsung berdiri menghampiri perawat yang keluar.
"Bagaimana kondisi Davian?" Tanya Sam dengan raut wajah kuatir.
Perawat berlalu meninggalkan Sam tanpa menjawab pertanyaan nya, Sam semakin kesal melihat perawat yang pergi tanpa menjelaskan apapun.
Beberapa menit kemudian perawat kembali dengan kantong darah ditangannya.
"Suster!" Ucap Sam dengan suara keras
Suster terkejut mendengar suara Sam yang menggelegar.
"Bapak tenang dulu disini, pasien sedang kami tangani." Ucap suster langsung masuk ke dalam ruang UGD dengan terburu buru.
- - -
Mesin pendeteksi jantung hanya terlihat garis lurus dengan suara yang nyaring.
"Bawa defibrillator cepat." Ucap dokter memerintahkan perawatan
Dokter Sifa langsung menghampiri Davian
"Saya saja dok." Ucap dokter Sifa dengan tatapan memohon.
Dokter itupun mengangguk dan mundur memberi ruang kepada dokter Sifa
__ADS_1
"Gel." Ucap dokter Sifa.
"150 Joule." Lanjutnya.
Tubuh Davian terhentak ketika alat itu menyentuh dadanya.
"200 Joule." Ucap dokter Sifa yang melihat alat pendeteksi jantung belum menunjukkan tanda-tanda apapun.
Dokter Sifa kembali menempelkan itu ke dada Davian.
"250 Joule." Kata dokter Sifa dengan suara keras.
"Tapi dok." Protes perawat yang sedang memegang defibrillator.
"Lakukan." Perintah dokter Sifa dengan tatapan tajam.
Perawat itu menatap dokter yang pertama menangani Davian dengan tatapan bertanya, dokter itu menggeleng melihat perawat menatapnya.
"CPR." Usulnya kemudian
Dokter Sifa langsung naik keatas ranjang, duduk di atas tubuh lemah Davian.
Dokter Sifa terus menekan dada Davian dengan irama teratur.
"Dav, aku mohon." Ucap dokter Sifa sembari terus menekan dada Davian
Air mata dokter Sifa tidak bisa lagi terbendung, dia terus berbicara dengan suara yang menyayat hati.
"Dav bangun, aku mohon, aku mencintaimu." Kata dokter Sifa yang sudah pasrah, dokter Sifa kini bersimpuh memeluk tubuh Davian.
__ADS_1
Beberapa suster langsung menitihkan air mata melihat kejadian itu. Keajaiban terjadi, alat pendeteksi jantung menunjukkan grafik naik turun menandakan jantung Davian kembali berdetak.
Dokter Sifa tersenyum melihat Davian, dia kemudian turun dari ranjang pasien.
"Tolong dokter lanjutkan, saya akan menemui keluarga pasien dulu." Pinta dokter Sifa pada dokter lain.
"Baik." Jawab dokter itu.
Dokter Sifa keluar dari ruang UGD dengan senyum tersungging di wajahnya.
Sam bergegas menghampiri dokter Sifa yang baru keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana keadaan Davian dokter?" Tanya Sam dengan nada tidak sabar
Dokter Sifa menarik nafas panjang dan tersenyum.
"Davian sudah melewati masa kritisnya, kita berdoa saja semoga dia bisa pulih dengan cepat." Jawab dokter Sifa kemudian berlalu meninggalkan Sam.
Sam duduk kembali dengan perasaan yang lebih tenang setelah mengetahui kondisi Davian.
Beberapa saat kemudian dokter Sifa kembali menghampiri Sam
"Makanlah Sam." Ucap dokter Sifa memberi kantong plastik kepada Sam.
Sam menatap dokter Sifa sebelum menerima kantong plastik itu.
"Davian sudah lebih baik jangan sampai kamu jadi sakit." Ucap dokter Sifa tersenyum kepada Sam.
Sam akhirnya menerima kantong plastik itu, yang ternyata berisi aneka kue dan roti serta air mineral di dalamnya.
__ADS_1
Sam langsung makan dengan lahap di depan dokter Sifa, dokter Sifa hanya tersenyum melihat hal itu.