WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 117. Hati Yang Bercabang


__ADS_3

Setelah masuk ke kamarnya sendiri, Radita tak langsung tidur. Sambil bersandar di ranjang ia menelpon Cytra. Rasanya tak sabar menunggu sampai besok pagi untuk menyelesaikan kemelut di dalam hatinya sendiri.


Hape Cytra aktif dan terdengar ringtoon suara bayi terkekeh di telinga Radita. Tapi sampai intetval tiga kali suara itu terdengar, tidak ada sahutan dari Cytra.


Radita letakan lagi hape di meja samping ranjang. Lalu ia pelorotkan badannya hingga kepalanya menyentuh bantal. Namun otak tetap bergerak tak karuan.


"Kenapa Cytra tidak mau mengangkat telponku. Sudah tidurkah dia. Atau memang tidak mau bicara denganku. Karena aku telah mengkhianati cintanya?" monolog Radita kisruh.


Kemudian ia pejamkan matanya. Tapi lama sudah terpejam tidak juga kantuk datang. Padahal waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi.


"Ya ampuuun..., kenapa aku jadi gelisah sendiri seperti ini. Inikah balasan kepada orang yang tidak bisa memegang janjinya," keluhnya merasa bersalah.


Lalu dengan kesal Radita menggapai lagi hapenya dan diklik lagi nomor Cytra. Dari speaker terdengar kembali suara ringtoon bayi tertawa beberapa menit. Kemudian berakhir dengan suara tuuth..,tuuth...,tuuth, tanda sambungan ditolak.


"Sepertinya dia bangun dan mematikan sambungan telpon. Kenapa sih tidak mau bicara denganku," gumam Radita


Maka Radita penasaran mengklik lagi nomor yang sama dan terdengar suara ringtoon yang sama. Setelah itu terdengar suara Cytra yang membentak; "Berisik, ih!" Lalu telpon dinonaktifkan.


Radita tersentak. Tidak biasanya Cytra sekasar itu padanya.


Radita tidak berani lagi menelpon. Kegelisahannya akibat perbuatannya sendiri ditelannya mentah-mentah pada dini hari itu.


Beberapa jam kemudian sekitar pukul 08.00 Cytra bangun. Ia kaget melihat telpon Radita yang tercatat belasan kali di hapenya.


"Untuk apa dia menelpon aku pada dini hari tadi?" tanya Cytra dalam hati. Dia tidak tahu bila Radita merasa bersalah karena kejadian di cafe itu semalam.


Lantas Cytra hampiri kamar Radita setelah dia mandi dan berdandan santai. Karena hari itu tidak ada kegiatan yang disampaikan asisten seniornya Mellany.


Tok! Tok! Tok!


Cytra mengetuk pintu kamar Radita. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Cytra lalu ketuk lagi. Tetapi tetap Radita tidak membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Ada apa sih kamu, Mas. Tadi bolak-balik menelponku. Sekarang aku hampiri kamarmu malah tidak kau buka pintunya," keluh Cytra.


Cytra akhirnya tinggalkan kamar Radita dengan membawa segumpal pertanyaan.


Cytra tahu bila kemarin Radita ke rumah Tante Mira untuk minta ijin kepada mamanya. Radita sendiri yang bilang kepadanya. Berarti tadi pagi mungkin dia akan mengabarkan hasilnya pertemuan itu, pikir Cytra.


"Tetapi kenapa pagi-pagi sekali dia baru mau mengabarkan. Mungkin karena sibuk bekerja Pulang ke rumah sampai dini hari," Cytra bermonolog.


Laptopnya terbuka lebar-lebar di atas meja kerjanya. Walaupun sibuk membaca laporan posisi keuangan perusahaan per semester dari Mellany, mampir juga ke benak persoalannya dengan Radita.


Cytra tidak pernah berpikir jelek pada Radita. Sikap baik pria itu kepada dirinya dan anak-anaknya membuktikan bahwa Radita sangat mencintai dirinya. Tidak mungkin bila calon suaminya itu berkhianat.


Satu hal lagi yang membuat dia yakin, bahwa dulu Radia sudah jelas-jelas memutus hubungan dengan Vionita secara sepihak. Tanpa memberikan kesempatan kepada Vionita untuk bertanya alasannya.


Baiklah kita tinggalkan dulu Cytra dan Radita. Bagaimana dengan vionita sendiri setelah mengalami momen yang indah malam itu.


Sepulang dari cafe pada dini hari itu, Mira terus meledeknya sampai menjelang istirahat karena lelah kerja seharian di cafe.


"Hebat kau Von, bisa menaklukan hati Radita secepat itu," gurau Mira.


"Cytra dan kamu sama-sama wanita, Von. Dan sama-sama punya hak mendapatkan cinta dari Radita. Anggap saja ini sebuah kompetisi," Mira membesarkan hati Vionita.


"Alaah...! Itu kan karena kamu ada kepentingan untuk menjodohkan Cytra dengan Ridwan, anakmu."


"Alaah...! Dalam hati kecilmu pasti menginginkan perjodohan itu berhasil, kan? Agar kamu dengan mudah bisa memiliki Radita kembali. Jangan bohongi hati kamu sendiri, hayoo...!"


Vionita tersenyum malu. Benar kata Mira. Dalam hati kecilnya ingin sekali Radita kembali kepadanya.


Malam itu sungguh ia sangat teranjung dengan sikap dan kebaikan Radita mau ditemaninya. Padahal awalnya dia ragu-ragu. Mana mungkin Radita masih mencintainya. Karena kalau mau Radita bisa mendapatkan wanita yang lebih muda, gadis dan tentu saja cantik.


Ya, Vionita menyadari lebih tua beberapa tahun dari Radita. Tetapi yang namanya Cinta tidak mengenal umur dan status. Dulu waktu dia mendapatkan cinta pertamanya Radita, memang sedikit minder. Tetapi sekarang entah dari mana dorongan asmara itu datang, dia merasa berhak untuk bercinta dengannya.

__ADS_1


"Sekarang kamu tidak usah berpikir lagi pantas atau tidak pantas bersanding dengan Radita. Status kamu dengan Cytra sekarang sama-sama janda. Terserah Radita saja, akan memilih kamu atau Cytra," kata Mira mengipasi perasaan asmara Vionita.


"Kalau misalnya aku bisa bersanding dengan Radita, apakah mungkin Cytra mau dengan anakmu?" tanya Vionita memikirkan Ridwan yang sampai kini masih membujang. Padahal usianya sudah terlambat menikah.


"Kalau kita mau kerjasama saya kira Cytra bisa kita upayakan agar dapat menikah dengan Ridwan."


"Kamu upayakan agar Ridwan mau merubah sikapnya yang urakan. Itu mungkin yang membuat Cytra enggan bergaul dengannya."


"Anak itu memang susah kalau dinasihati. Dari dulu sikapnya selalu 'semau gue' begitu. Padahal kalau tahu siapa sebenarnya dia, cewek-cewek sudah banyak yang mau dari dulu."


"Biarlah Cytra tahu sendiri tentang Ridwan. Nanti kalau kita tunjuk-tunjukin prestasinya malah kesannya pamer."


"Cytra juga katanya sekarang sudah jadi lady boss, ya. Hebat anakmu bisa merintis hidupnya sehebat itu. Walaupun cita-citanya gagal menjadi diva."


"Perjalanan hidup manusia memang tidak bisa diterka. Kegagalannya menjadi penyanyi kondang malah membuatnya beruntung dalam hidupnya. Waktu dia bersikukuh untuk meneruskan kariernya menyanyi di cafe, dan meninggalkan anaknya, saya kira hidup Cytra akan hancur. Tapi ternyata malah justru sebaliknya."


"Kamu jangan iri dengan nasib baik Cytra. Sebentar lagi kalau kamu menikah dengan Radita, pasti hidupmu tidak akan kalah dengan Cytra," Mira mengipasi lagi perasaan Vionita.


"Ya, kalau dinikahi. Tapi kalau cuma dijadikan barang mainan saja, apa tidak nelangsa hidupku."


"Kamu jangan pesimis dulu. Lakoni saja perjalanan cintamu. Saya ikut berdoa semoga berhasil sampai ke jenjang pernikahan."


"Tapi perasaan bersalah kepada Cytra masih saja terus menguntit, Mir. Dan rasanya aneh masa saya bersaing dengan anak sendiri untuk merebutkan cinta seseorang."


"Ini sudah kehendakNya, Von. Sudah takdirnya perjalanan hidupmu seperti ini."


"Emang begitu sih, Mer. Tapi kalau dipikir-pikir rasanya tidak wajar."


"Sudahlah kamu tidak usah berpikir macam-macam. Sekarang kamu jalani saja hubungan kalian dengan menjaga privacy masing-masing."


Dua sahabat kental yang sama-sama pernah bekerja sebagai penyanyi cafe dan kini membuka usaha bersama berupa cafe kuliner dan hiburan itu masuk ke kamar masing-masing. Dan masing-masing membawa pula gagasan penting dalam benaknya.

__ADS_1


Bersambung


Salam untuk kakak semua, semoga up berikutnya lebih memuaskan para reader 🌺


__ADS_2