
Houmstay yang berada di dekat kawasan wisata itu terlihat sepi. Pintu dan jendela tertutup rapat. Tidak terlihat satu orang pun di dalam.
Cytra, Hanna dan Mellany akhirnya berhenti mengetik pintu dan memanggil-manggil Alberto yang menginap di rumah itu.
"Benar bukan. Alberto sudah tidak ada disini." ucap Cytra.
Hanna terlihat kecewa. Buntu sudah jalan untuk menemukan kekasihnya. Harapannya untuk merangkai kembali jalinan cinta yang sudah berantakan pupus di depan rumah yang sudah kosong itu.
"Ini semua karena salahku sendiri. Aku tidak menyalahkan dia selalu menghindar kutemui," keluh Hanna dengan muka sedih. Ingin ia menjerit sekeras-kerasnya di depan rumah tersebut bila tidak malu kepada Cytra maupun Mellany.
"Setiap manusia pasti punya kesalahan. Tidak perlu disesali apa yang sudah terjadi," ujar Cytra sambil mengusap-usap lengan wanita berambut pirang keemasan dan bermata biru itu.
"Aku minta maaf sudah merepotkan Nyonya Cytra dan Nona Mellany. Terimakasih, sudah membantu saya mencari Alberto. Ini adalah yang kesekian kalinya aku gagal menemuinya," kata Hanna.
"Sudah berapa lama anda berpisah dengan Alberto?" tanya Cytra.
"Ya, sudah lama hampir setahun. Sekitar tujuh bulan aku sibuk sendiri dengan duniaku di catwalk. Dan beberapa bulan ini aku menyadari kesalahanku telah melupakannya. Terlambat memang untuk memperbaiki hubungan yang sudah retak," Hanna mengungkapkan isi hatinya.
"Jangan putus asa dulu. Barangkali nanti lain hari anda masih bisa bertemu dengannya. Saat ini Alberto mungkin hanya tidak ingin bertemu saja tapi mungkin masih menyimpan cinta kepadamu."
"Sebenarnya lewat surat email sebulan lalu dia sudah menyatakan putus denganku. Tapi aku tidak percaya sebelum bertemu langsung dengannya."
"Oh, begit. Terus gimana ini. Kita cari lagi di tempat penginapan lain atau pulang?" tanya Cytra kemugian.
"Tidak usah. Setelah ini aku langsung pulang saja ke Australi. Terimakasih Nyonya Cytra sudah banyak membantu saya."
Dari rumah homestay itu mereka lalu kembali ke kantor Cytra. Kemudian oleh sopir kantor Cytra, Hanna diantar ke Bandara.
//Kemana sebenarnya pria tampan bernama Alberto saudara sepupu Mr Morgant, mendiang suami Cytra pergi?
Alberto keluar dari tempat penginapan dan terbang ke Jakarta berlangsung sangat singkat. Tidak ada yang melihat saat ia keluar dari homestay yang sudah disewa dan dibayar selama satu pekan itu. Karena sepulang dari kantor Cytra, berkemas sebentar, lalu meluncur ke bandara dengan naik taxi. Karena sebelummya sudah ada yang memberitahu kepadanya bahwa Hanna menyusulnya ke Bali.
Sengaja dia tidak memberitahukan hal itu kepada Cytra atau asistennya. Karena bukan urusan kantor. Ini urusannya dia sendiri secara pribadi.
Dan memang benar. Ketika dia sudah sampai di kantor perusahaan milik Morgant di Jakarta, Hanna tiba di Bali dan langsung menuju ke kantor perusahaan Morgant di Bali.//
Di ruang kerjanya setelah Hanna pamitan kembali ke Australi, Cytra menerima telpon dari Alberto
__ADS_1
"Kok tidak pernah muncul lagi di kantor? Kami semua khawatir ada masalah apa dengan kamu," sapa Cytra.
[" No problem! Saya sampai sekarang masih sehat, segar bugar. Tidak kurang suatu apa pun,"] kata Al ceria di seberang telpon.
"Barangkali ada pelayanan kami yang kurang memuaskan, saya selaku pimpinan disini minta maaf."
["Oh, tidak! Bukan soal itu saya pergi. Kebetulan ada keperluan mendadak jadi saya buru-buru cekout dari homestay."]
"Aku kira kamu tidak puas dengan keadaan di homestay."
["I am very happy. Saya senang tinggal di penginapan di lingkungan yang masih alami itu. Malah saya sangat berkesan dengan warga setempat karena kekeliruanku tempo hari."]
"Oh, soal dua wanita yang kau pergoki masih berpakaian minim itu? Lupakan sajalah. Aku nanti yang akan minta maaf kepadanya atas ketidaksengajaan kamu itu," Cytra belum mau mengaku kalau dua wanita itu adalah dia sendiri dan Mellany. Agr tidak menambah beban pikiran Al.
["Sebenarnya aku ingin minta maaf sendiri kepada meraka. Dua wanita itu pasti orang baik-baik yang kebetulan sedang bersih-bersih jadi memakai pakaian apa adanya. Tapi sungguh aku bukan mau cari kesempatan melihat tubuh mereka. Aku spontan saja mengucap salam tanpa melihat keadaan diri mereka terlebih dahulu."]
"Sudahlah itu soal biasa tidak perlu dipikirkan lagi."
["Kenapa begitu?"]
"Aku sudah memaafkan kesalahanmu yang tidak disengaja itu kok," ucap Cytra yang tentu saja cukup membuat Al bertanya-tanya dalam hati.
"Aku sebenarnya sangat malu mengaku soal yang sepele ini. Tapi agar kamu tidak penasaran dan kepikiran terus soal itu, aku buka saja ya. Bahwa sebenarnya dua wanita itu adalah aku sendiri dan asistenku."
["Whats?!"]
"Ceritanya begini. Aku tidak tahu kalau homestaymu ternyata berada relatif dekat dengan tempat tinggalku. Dan saat kamu joging itu kebetulan lewat depan rumahku terus melihat dua wanita yang sedang bersih-bersih..."
["Jadi dua wanita itu kamu dan asistenmu?"] potong Al.
"Tapi sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Aku juga malu. Yang jelas aku menganggap kamu tidak bersalah."
["Kenapa tidak dari pertama aku cerita kamu mengaku bahwa dua wanita itu adalah kamu dan asistenmu?"]
"Aku juga kaget waktu kau ceritakan pengalaman lucumu itu. Dan malu aku mendengarnya. Ternyata yang membuat kami lari ngumpet ke dalam rumah itu adalah tamu penting kami sendiri."
["Seandainya waktu itu aku tahu dua wanita itu adalah kamu dan asistenmu, aku pasti akan lebih bingung."]
__ADS_1
"Kenapa lebih bingung?"
["Sebab pertama kamu adalah wanita terpandang di perusahaan. Kedua kamu itu....cantik dan seksi!"] kata Al jujur.
Seandainya saat itu Al di hadapannya, pasti akan melihat muka Cytra yang merah jambu karena malu separuh tubuhnya sudah dilihat Al. Apalagi yang melihat adalah tamu penting perusahaan, sekaligus masih saudara mendiang suaminya.
"Sudah-sudah. Ini ada berita penting lagi untukmu," Cytra mengalihkan pembicaraan.
Alberto sebenarnya masih ingin melanjutkan membicarakan soal Cytra dan asistennya yang tanpa sengaja sudah ia lihat separuh tubuhnya yang seksi itu. Pantas saja beberapa hari ini seperti ada yang terus berbisik di telinganya untuk datang ke tempat kejadian yang mengesankan itu.
["What important news is that?!"] suara Al terdengar lagi.
"Tapi berita ini lebih baik jangan dibicarakan di telepon. Karena menyangkut privacymu. Lebih baik kalau kita ketemu saja," kilah Cytra.
["Ya, tidak bisa kalau kita harus bertemu. Karena aku ada di Jakarta sekarang."]
"Oh, jadi kamu di luar kota. Aku kira masih di Bali."
["Tapi aku sudah bisa menebak, soal Hanna kan?"
"Iya!"
["Memang lebih baik jangan dibicarakan di telepon. Tapi tidak apalah kalau cuma informasi tentang dia."]
"Syukurlah kalau kamu sudah tahu. Tapi sekarang dia sudah kembali ke Australia."
["You are sure! Benarkah dia kembali ke Australi?"]
"Ya saya yakin. Karena waktu dia ke bandara diantar oleh sopir kantor. Memang sebelumnya dia tidak percaya bila saya tidak tahu kemana kamu pergi. Setelah kuantar dia ke tempat homestay tempat menginap kamu. Dia baru percaya kalau aku tidak menutup-nutupi keberadaanmu."
["Thanks you. Kamu baik sekali sudah mau meringankan beban pikiranku. Sebelum ke Bali dia sudah mencariku di Jakarta. Untungnya waktu itu aku sudah di Bali. Dan ketika dia mencari ke Bali aku sudah di Jakarta."]
"Tapi aku melihatnya kasihan. Maaf kalau aku sedikit kepo. Kenapa kamu tidak ingin bertemu dengannya?"
["Nanti saja kalau kita bertemu aku jelaskan semuanya. Ceritanya panjang kenapa aku putus dengan dia."]
"Baiklah aku tunggu ya," kata Cytra sekaligus berharap bisa bertemu kembali dengan Al yang tampan dan kalem itu.
__ADS_1
Bersambung