
Risa berjalan menuju rumahnya, dibelakang nya Davian dan Sam berjalan sambil sesekali melirik satu sama lain, bagaimana pun Davian sebelumnya pernah bercerita tentang latar belakang Risa.
"Kalian duduk dulu di sini ya." Ucap Risa sambil menunjuk kursi lapuk di ruang tamunya, Risa berjalan memasuki kamar yang berada di sebelah ruang tamu.
Davian dan Sam duduk tanpa mengeluarkan suara, Davian sibuk melihat setiap detail sudut rumah Risa sedangkan Sam sibuk dengan ponselnya untuk memberi arahan karyawan di kantor karena dia dan Davian meninggalkan kantor tadi.
"Maaf aku ganti baju dulu." Ucap Risa sambil meletakkan dua cangkir teh di meja ruang tamu.
"Kamu tinggal sendiri Ris?" Tanya Davian setelah menyeruput teh yang disajikan Risa.
"Ada mamah dikamar." Jawab Risa sambil menunjuk kamar yang berada di ujung ruangan.
"Papah kemana?" Tanya Davian
Seketika wajah Risa berubah sedih ketika Davian bertanya mengenai papah nya.
"Ada apa?" Tanya Davian kemudian yang melihat wajah Risa sedih.
"Papah udah gak ada." Jawab Risa dengan suara yang berubah menjadi parau.
"Maaf." Ucap Davian merasa tidak enak
Risa hanya mengangguk.
"Sejak kapan?" Tanya Davian lagi.
"Ketika aku kelas 3 SMA." Jawab Risa yang kini terlihat sedang menghapus air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Maaf bukannya aku mau mengorek masa lalu mu Ris." Ucap Davian dengan nada bersalah.
"Tidak papa Dav, terimakasih kamu sudah perhatian." Jawab Risa dengan tersenyum.
"Risa." Suara perempuan terdengar sangat lirih.
"Sebentar ya Dav." Ucap Risa bangkit menuju kamar mamah nya.
Beberapa saat kemudian Risa menghampiri Davian kembali ke ruang tamu, Sam terlihat sedang berada dihalaman rumah sedang bicara dengan seseorang di ponselnya.
"Mamah kenapa?" Tanya Davian setelah Risa duduk.
"Mamah sakit." Jawab Risa.
"Boleh aku melihat mamah?" Tanya Davian penuh harap.
Davian memasuki kamar mamah Risa, disana terlihat seorang wanita yang belum terlalu tua tergolek lemah diatas tempat tidur.
"Mamah apa kabar?" Tanya Davian sembari mencium tangan mamah Risa.
"Seperti yang kamu lihat nak." Jawabnya dengan suara lirih.
"Kamu teman Risa?" Tanya mamah Risa kemudian.
"Dia Vian mah teman Risa dulu waktu SMP." Jelas Risa.
"Mamah mungkin sudah lupa." Lanjut Risa.
__ADS_1
"Vian yang dulu pernah pingsan waktu di rumah." Ucap mamah Risa berusaha mengingat Davian
"Mamah masih ingat." Ucap Davian tersenyum.
"Kamu lebih tampan sekarang." Sambil mengelus wajah Davian.
"Mamah istirahat ya." Ucap Risa lembut sembari menarik selimut mamahnya.
"Sejak kapan mamah sakit?" Tanya Davian ketika mereka sudah kembali ke ruang tamu
Davian cukup dekat dengan keluarga Risa karena rumah masa kecil mereka yang berdekatan membuat mereka sering bermain bersama, selain itu mamah Risa juga menyayangi Davian seperti anaknya sendiri.
"Sejak kecelakaan dulu." Jawab Risa.
"Maksudnya?" Tanya Davian yang terlihat bingung.
Risa pun bercerita kepada Davian, waktu Risa kelas 3 SMA orang tuanya mengalami kecelakaan yang menewaskan papah nya dan membuat mamahnya koma selama hampir 6 bulan, semua harta peninggalan ayahnya habis untuk membiayai pengobatan mamahnya, beruntung Risa anak yang cerdas sehingga dia dapat beasiswa full selama kuliah. Risa memutuskan menjual rumah orang tuanya dan membeli rumah sederhana karena mamahnya membutuhkan biaya yang besar untuk pengobatan di luar negeri.
"Lalu sekarang mamah tidak berobat lagi?" Tanya Davian setelah Risa selesai bercerita.
"Mamah kontrol setiap bulan, aku tidak bisa membiayai mamah di rumah sakit Dav." Jawab Risa dengan raut wajah bersalah.
Davian diam sejenak, dia merasa kasihan dengan Risa yang berjuang seorang diri, Davian merasa masih beruntung walaupun dia juga sebatang kara tapi pamannya selalu memberi semua yang dibutuhkan Davian.
"Sam." panggil Davian.
Sam langsung masuk kedalam rumah mendengar Davian memanggilnya. Davian membisikkan sesuatu ketika Sam sudah berdiri di sampingnya, Sam mengangguk dan langsung mengeluarkan ponselnya sambil berjalan ke halaman depan.
__ADS_1