
Setelah mengantar Hanna ke bandara, sopir yang disuruh Cytra langsung kembali ke kantor. Dia tidak memperhatikan lagi apakah wanita berambut pirang keemasan dan bermata biru itu jadi naik pesawat atau tidak. Cytra cuma dilapori bahwa tamunya sudah diantar ke Bandara.
Padahal alasan mau pulang ke Australi itu hanya trik Hanna untuk memancing Alberto keluar dari persembunyiannya. Percuma saja dia jauh-jauh mencari kekasihnya ke Indonesia kalau pulang dengan tangan hampa.
Sialnya Cytra percaya saja dengan Hanna. Maka ia katakan kepada Alberto bahwa Hanna sudah pulang ke negaranya. Tanpa curiga bahwa wanita blonde itu sedang bersiasat untuk menjebak.
Alberto merasa senang mendengar Hanna sudah kembali ke Australi. Setelah mendengar hal itu dari Cytra, dia segera berkemas-kemas kembali lagi ke Bali. Pada jam itu pula dia langsung mendapatkan pesawat. Dan landing di Bandara Ngurah Rai pada pukul 19.30.
Perasaannya berbunga-bunga turun dari pesawat kemudian berjalan cepat menuju ke pintu keluar Bandara.
"Taxi!" serunya memanggil sopir taxi.
Lalu sedan taxi berwarna putih bergaris biru kuning itu meluncur menuju ke homestaynya.
Di bawah sinar lampu jalan yang redup sebuah taxi lain berwarna gelap parkir dengan tenangnya. Di dalamnya duduk seorang wanita berambut coklat keemasan dengan bibir menyungging senyuman.
Alberto baru saja menelpon Cytra kalau dia sudah berada di homestay ketika tiba-tiba pintu depan dibuka seseorang. Kedua mata pria tampan itu terbelalak melihat seseorang datang tanpa mengetuk pintu. Hanna??!!
"Darling...!" sapa Hanna mengembangkan kedua tangannya lalu mendekap Alberto dengan mesranya.
"Jangan tinggalkan aku lagi ya, sayang..." Hanna merayu disaat keterkejutan Alberto belum reda.
"Ingat hubungan kita tidak lagi seperti dulu lagi. Cerita cinta kita sudah berakhir," kata Al sambil melepaskan kedua tangan Hanna yang mendekapnya.
Hanna mau melepaskan pelukannya lalu mengikuti Al duduk di sofa.
"Sorry..., untuk apa kau menemuiku. Kau mau menyerahkan tubuhmu yang sudah bau lelaki lain?"
"Kamu tidak pernah mengerti perasaanku. Aku mohon jangan kau ucapkan lagi kalimat itu. Rasanya hatiku patah berkeping-keping," ucap Hanna sedih.
"Ini sudah takdirmu berpisah denganku. Tidak perlu kau sesali kesalahanmu. Teruskan saja hubunganmu dengan dia."
"Alex tidak pernah mencintaiku. Dia cuma teman dekat."
"Ya dia memang teman dekat, saking dekatnya sampai kau mau diajak tidur di rumahnya," kata Al dengan mimik muka tegang.
"Aku dijebak sayang. Setelah minum minuman yang ia suguhkan aku tak sadar dilucuti pakaianku dan dibawa ke ranjangnya. Paginya aku baru sadar dia sudah merenggut..."
__ADS_1
"Stop!" teriak Al tak ingin Hanna melanjutkan ceritanya. "Tidak perlu kau ceritakan lagi kejadian yang membuatku ingin muntah itu!"
"Tapi itu fakta yang terjadi, Sayang. Aku ini korban, bukan pelaku yang sengaja melakukan hubungan intim."
"Disengaja atau tidak aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau menikmatinya, kan?"
"Sudah kubilang bahwa aku tidak sadar melakukannya."
"Silahkan saja kau bilang tidak sadar. Tapi aku tidak percaya."
"Kamu harus percaya dengan perkataanku. Karena aku adalah kekasihmu, calon istrimu. Kenapa kau lebih percaya dengan orang lain?"
"Alex bukan orang lain. Dia masih saudara sepupuku. Dia mengatakan bahwa kau mencintainya ingin menjadi istrinya. Masa dengan saudara sendiri mau berbohong."
"Percayalah kepadaku, sayang. Alex itu bajingan. Dia pandai memutarbalikan fakta. Dia itu sudah lama iri denganmu."
"Mana bisa dia iri denganku. Dia itu sudah punya istri yang lebih cantik darimu. Tidak mungkin dia iri. Itu cuma karanganmu belaka!"
"Percayalah, Sayang. Aku tidak bohong. Aku rela mencarimu ke sini karena aku tidak bersalah. Aku berharap kau mau memaklumi hal itu dan mau menerimaku kembali," Hanna memohon seraya menggenggam tangan Alberto.
"Apa kau sudah punya penggantiku, si janda preman itu?" tuduh Hanna tiba-tiba.
"Jangan ngomong sembarangan siapa yang kau maksud janda preman itu?" Alberto nampak jengkel.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Cytra kan yang akan kau jadikan penggantiku!" tuduh Hanna sembarangan.
"Masalah kita tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Jangan kau libatkan wanita baik-baik itu dalam masalah kita."
"Mana mungkin wanita baik-baik bisa merampok harta pamanmu yang besar itu. Dia itu preman tau!" tuduhan Hanna makin sengit.
"Sekali lagi jangan kau libatkan dia dalam masalah kita. Dia itu wanita pekerja keras dan cerdas. Tidak mungkin dia bisa mengelola perusahaan paman yang besar itu kalau tidak punya skil dan kemampuan dalam bisnis."
"Halaah! Itu cuma kedok saja. Sebenarnya dia itu preman. Dulu dia bisa merebut Mr Morgant dari Derryl. Sekarang kembali milikku akan dia rebut."
"Tutup mulutmu! Dia mau merebut aku atau tidak itu bukan urusanmu. Dan kau tidak berhak lagi atas diriku karena hubungan kita sudah berakhir!" Alberto emosi Hanna melibatkan Cytra yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa soal hubungan mereka.
"Aku yakin banget dia punya niat memilikimu. Dari sikapnya aku bisa membaca isi kepalanya yang jahat itu."
__ADS_1
"Jangan kau teruskan tuduhanmu yang tanpa dasar itu. Kasihan dia orang tak bersalah kau sangkut pautkan dengan urusan kita."
"Aku ngomong begitu karena aku sudah tahu latar belakangnya. Derryl sudah banyak cerita tentang dia kepadaku. Juga temannya di Jakarta."
"Wanita peselingkuh seperti Derryl kau jadikan sumber berita. Bohong dan kurang bisa dipercaya semua yang dikatakannya kepadamu."
"Saya yakin kalau dia preman yang ingin memilikimu. Kalau tidak percaya akan saya panggil dia suruh mengaku di depanmu."
"Jangan. Kasihan dia tidak tahu apa-apa kau libatkan dalam masalah kita."
Hanna tidak mendengarkan Alberto bicara. Dia sudah memencet nomor telpon Cytra. Al yang berusaha mencegah terlambat. Hanna berhasil memanggil wanita yang diam-diam sudah mencuri hati kekasihnya.
Tidak berapa lama kemudian Cytra datang ke homestay itu tidak sendirian. Dia datang bersama asistennya Mellany. Cytra kaget ketika Hanna menelponnya tadi. Karena sebelumnya Alberto juga mengabarkan sudah di homestay.
"Waduuh...Selamat ya kalian berdua sudah bertemu. Bagaimanapun keadaannya, kalian adalah tamu-tamu penting kami. Katakan saja apa kebutuhan kalian nanti asistenku yang akan melayani," kata Cytra tetap menganggap mereka tamu yang harus dihormati dan dilayani dengan baik.
"Saya tidak butuh uluran tangan kalian," kata Hanna tanpa sungkan kepada Cytra yang sudah berbaik hati kepadanya.
"Han! Jaga mulutmu!" seru Alberto melihat Hanna tidak menyapa dengan baik kepada Cytra.
"Butuh atau tidak butuh kami harus melayani kalian dengan baik. Terutama Tuan Alberto sebagai tamu penting di dalam perusahaan," Mellany yang menjawab atas perkataan Hanna yang tidak sopan itu.
Sementara Cytra diam saja sambil menerawang apa yang sedang terjadi dengan Hanna. Wanita itu kelihatan ada masalah yang berat. Beberapa jam lalu bilang mau pulang ke negaranya. Malah sudah diantar ke bandara oleh sopir. Tapi kenapa sekarang sudah dengan Al di homestay.
"Kenapa cuma Alberto yang dilayani, bukankah aku juga tamu penting?" kata Hanna masih dengan gayanya yang nyengit.
"Maaf anda bukan tamu penting kami, walaupun anda mengaku sebagai calon istri Tuan Alberto," Mellany kembali bicara dengan ketus.
Hanna tersinggung dan hendak memukul Mellany. Namun Cytra yang berada di sampingnya tidak tinggal diam. Dia tangkap tangan yang hampir mengenai wajah asistennya.
"Ouw!!" jerit Hanna karena tangannya masih belum dilepas oleh Cytra.
"Dasar perempuan yang tidak tahu sopan santun," ucap Cytra melepas tangan Hanna sambil mendorong.
Hanna sempoyongan mau jatuh ketika. Sehingga Alberto spontan menahan tubuhnya.
Bersambung
__ADS_1