WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 163. Prasangka Buruk


__ADS_3

Radita pulang ke rumah seolah cuma numpang mandi sebentar dan setelah itu minta kepada istrinya untuk menyiapkan beberapa stel pakaiannya. Karena katanya ada kegiatan di luar kota beberapa hari.


"Ada apa lagi sih, Pa. Masa baru pulang sudah mau pergi lagi," tanya Vionita.


"Tidak usah banyak tanya. Sudah belum saya suruh menyiapkan pakaianku," Radita menjawab dengan kasar.


"Papa sekarang kelihatan beda, sih. Tidak seperti biasanya," Vionita curiga melihat Radita begitu bersemangat pargi ke luar kota.


Padahal biasanya kalau ada urusan pekerjaan di luar kota dimandatkan kepada anak buahnya. Anak buahnya banyak. Dan pintar-pintar semua. Mereka sangat ahli di bidangnya masing-masing.


Tapi sekarang dia memang harus pergi. Bukan untuk mengurus tender. Melainkan ada keperluan lain yang sangat rahasia. Tidak boleh Vionita tahu.


"Ini tender besar. Saya harus mengurusnya sendiri," kata Radita berbohong.


"Iya percaya ada tender tapi apa tidak bisa Papa memandatkan kepada staf-staf Papa. Jangan cuma mau enaknya saja mereka bekerja," Vionita menyarankan.


"Tidak bisa, Sayang. Mereka semua juga sedang sibuk," bantah Radita.


"Saya ini kangen sama Papa. Lagi pingin berduan. Kenapa sih Papa barang sebentar tidak mau tinggal di rumah," Vionita merayu agar Radita tidak pergi.


"Paling sehari dua hari saya pergi kok, Ma. Setelah itu nanti aku layani kangenmu itu semalam suntuk," Radita merayu agar diijinkan pergi oleh istrinya.


"Janji lho. Mama benar-benar kangen lho, Pa. Nanti setelah urusan selesai Papa cepat pulang," dengan berat hati Vionita akhirnya melepas suaminya pergi.


Mereka berpelukan dan saling berciuman dengan mesra. Setelah itu Radita mengambil mobilnya dan tancap gas menuju ke sebuah tempat. Dimana disana seseorang sudah menunggunya dengan tidak sabar.


Sementara Vionita yang ditinggalkan di rumah merasa galau atas kepergian Radita. Bayangan yang menakutkan bermunculan di benaknya. Perlahan-lahan perasaan curiganya kepada Cytra merebak kembali. Anak angkatnya itu sampai sekarang belum menikah setelah gagal dengan Radita. Masih ada kemungkinan bila Radita kembali padanya.


Vionita kemudian mengambil hapenya dan mencari nomor telpon Cytra. Setelah ketemu ia klik nomor itu dan langsung terdengar suara Cytra yang sepertinya sedang dalam perjalanan. Memancing Vionita berprasangka buruk kepada Cytra.


"Kamu bersama siapa sekarang?" tanya Vionita. Bayangannya Cytra sedang bersama suaminya.


"Sendiri, Ma. Ada apa Mama menelpon?" Cytra heran juga tiba-tiba Vionita menelponnya.


Padahal sejak menikah dengan Radita, Vionita seperti menghindarinya bertemu. Telpon pun tidak pernah.

__ADS_1


"Ndak ada apa-apa. Cuma pingin nelpon saja," jawab Vionita tidak sesuai dengan isi hatinya.


"Pasti Mama sedang cari Radita, Kan? Dan Mama mengira sedang dengan saya kan?" sangka Cytra karena terasa ada nada kegelisahan dalam diri Vionita. Apalagi saat ia datang ke rumah besar seperti istana itu, Vionita nampak cemburu sekali dengannya.


"Tidak saya tidak punya pikiran seperti itu," Vionita membantah, padahal memang dia menyangka Radita pergi bersama Cytra dengan pura-purav ada tender di luar kota.


"Saya bisa merasakan kegelisahan Mama dari sini kok," ucap Cytra.


"Kegelisahan apa. Saya tidak gelisah kok," Vipnita berusaha tegar.


"Maaf, Ma. Ini kritik saya kepada Mama. Bahwa sesuatu yang diambil dari milik orang lain, itu pasti akan menimbulkan kegelisahan selalu."


"Apa maksudmu ngomong begitu?" Vionita emosi.


Maksud Cytra bicara seperti itu adalah untuk menyindir Vionita yang telah mengambil milik Cytra.


Tapi Cytra tidak mau memperpanjang persoalan yang sudah lama itu. Toh kini di sampingnya sudah ada Alberto.


"Sudahlah tidak usah dibicarakan lagi masalah Radita," ujar Cytra, menarik kembali persoalan yang sudah ia lontarkan.


"Sori ya, Ma. Aku sudah ada penggantinya yang lebih tampan dan muda dari Radita," akhirnya Cytra pamerkan saja apa yang sudah ia miliki sekarang. Daripada diejek Vionita.


"Pengganti apa. Memang kamu bisa gantikan Radita di hatimu. Aku tahu kalau kalian masih saling mencintai, iya kan?" Vionita tidak mau percaya begitu saja omongan Cytra.


"Mama dari tadi kok seolah menyodor Radita pada saya. Memang Radita sekarang sudah tidak cinta sama Mama?"


"Jangan pura-pura sok bodoh kamu!" seru Vionita jengkel.


"Sumpah, Ma. Radita tidak dengan saya sekarang. Coba Mama tanya pada wanita perayu itu. Barangkali sekarang Radita sedang dengan Hanna," Cytra menunjuk ke Hanna. Wanita yang sudah ia ketahui sebagai penghibur lelaki hidung belang.


Omongan Cytra yang terakhir itu cukup membuat Vionita berpikir ulang berprasangka buruk pada Cytra. Dan tidak ada jeleknya kalau dia tanya kepada Hanna seperti saran Cytra.


"Ok, saranmu saya terima. Tapi awas bila kau berbohong padaku. Walaupun aku bukan ibu yang melahirkanmu, aku ini sudah susah payah membesarkan kamu orangtua asuhmu. Kamu mengerti maksudku?"


"Aku tidak akan melupakan jasa Mama. Mama masih saya anggap sebagai ibuku sendiri. Tadi saya mengkritik Mama karena maksudku baik. Mama perlu menanyakan kepada Hanna.

__ADS_1


Barangkali dia tahu Radita pergi dengan siapa."


"Baiklah aku tanyakan sama dia," ucap Vionita, lalu ia putus sambungan telponnya dengan Cytra.


Tapi kemudian dia berpikir lagi apakah mungkin Hanna mencurangi budenya sendiri. Ibu Hanna adalah teman karibnya yang setia dulu. Berdua sama-sama datang dari Jawa untuk menaklukan Ibu Kota. Sayang usia ibu Hanna pendek, ia meninggal karena over dosis obat-obatan.


Hanna kemudian dirawat oleh Vionita untuk sementara sebelum diadopsi oleh sebuah keluarga dan dibawa ke Australia.


"Mungkinkah air susu dibalas dengan air tuba? Kebaikan Vionita dibalas dengan kelicikan Hanna yang tega alan menggaet suaminya,?


"Aku rasa tidak mungkin Hanna berbuat seperti itu. Aku sudah membantunya menghalangi Cytra membongkar kejahatannya. Tidak mungkin dia membalasnya dengan kejahatan pula kepadaku," Vionita berpikir keras.


**


Sementara itu Hanna yang sedang dipikirkannya, tenang-tenang saja berada di tempat peraduannya. Yaitu di kamar 3003 lantai 13 sebuah hotel berbintang.


Sejak Tuan Radita dilepas pulang ke rumah ia tidak keluar dari tempat peraduannya itu. Takut barangkali nanti ada pihak berwajib yang akan mengenalinya sebagai pelaku terjadinya rem blong.


Seperti Ratu Cleopatra yang sedang menunggu korbannya, Hanna sudah persiapkan perangkap baru. Sebuah perangkap yang akan membuat korbannya mau berlama-lama dengannya. Kalau perlu tidak bisa pulang lagi ke rumah. Dan hidup bersamanya sampai harta kekayaannya terkuras habis


Malam baru saja datang setelah dia selesai dandan. Dan tak berapa lama Radita datang dengan tanpa mengetuk pintu.


Hanna menyambutnya penuh bahagia. Tubuh Radita yang tinggi tegap itu dipeluknya penuh mesra.


"Saya hampir saja tidak bisa datang, karena Vionita melarangku pergi lagi. Tapi kemudian dia membolehkan," kata Radita.


"Apakah dia curiga pada Tuan?"


"Dia memang curiga. Tapi tidak tahu kalau aku mau ketemu kamu."


"Baguslah. Tuan berarti bisa menjaga rahasia kita berdua."


"Dampai berapa lama hubungan rahasia ini akan berlangsung. Kalau bisa kita sudahi saja malam ini. Saya kasihan pada Vionita," Radita memohon.


Tentu saja hal itu sangat mengagetkan wanita berambut coklat keemasan itu. Ia tidak ingin permainan penuh bahaya itu cepat berakhir. Targetnya adalah Radita menjadi miliknya sepenuhnya. Soal Vionita nanti akan ia pikir belakangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2