WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 146. Awal Mengesankan


__ADS_3

Cytra tidak mengira kejadian lucu sore itu menjadi awal yang mengesankan hubungannya dengan Mr Alberto.


Jika sebelumnya dia menghadapinya dengan sikap kaku dan hati-hati dalam bicara, karena Al merupakan tamu penting di perusahaannya, setelah kejadian lucu itu suasana hati Cytra menjadi rilek menghadapi Al.


Sengaja pagi hari Alberto menemui mantan istri pamannya itu karena ada pengalaman menarik setelah menempati homestay penginapannya. Sebuah penginapan yang sangat asri dan teduh oleh pepohonan. Penduduk setempat pun sangat ramah, katanya.


Namun ada kejadian yang membuatnya malu. Sore hari ketika dia berolahraga joging keliling lingkungan bertemu penduduk setempat yang sedang bersih-bersih di halaman rumahnya. Lalu spontanitas dia menyapanya. Tetapi dua wanita yang sedang bersih-bersih di halaman rumah itu malah ketakutan, lari masuk ke rumah.


"Aku tidak menyadari kalau mereka mengenakan pakaian minim. Aku merasa bersalah dan malamnya aku datangi rumah itu. Tapi mereka rupanya sudah tidur," cerita Al pagi itu dan membuat Cytra terkejut di ruang kerjanya.


Tapi kemudian dia tertawa dalam hati. Karena dua penduduk wanita berpakaian minim yang diceritakan Al itu sebenarnya Cytra dan Mellany.


"Kenapa kamu merasa bersalah. Apakah melakukannya karena sengaja ingin menggoda dua cewek itu atau punya maksud tertentu?" tanya Cytra pura-pura tidak tahu kejadiannya. Padahal dia sendiri yang mengalami.


"Sungguh aku tidak tahu kalau mereka masih mengenakan pakaian minim. Aku cuma mau menyapa tidak ada niat mau menggoda apalagi merayu dua cewek itu," ucap Alberto.


Cytra merasa geli sendiri karena Al benar-benar tidak tahu kalau dua cewek itu adalah dirinya dan Mellany.


"Kamu melihat kedua cewek itu sedang apa?" tanya Cytra lagi masih dengan perasaan geli.


"Mereka kelihatannya sedang merapikan tanaman hias. Hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek," kata Al jujur.


"Cantik dan seksi tidak dua wanita itu?" tanya Cytra pingin tahu pandangan mata Al saat itu.


"Tidak jelas karena mereka cepat lari."


"Cuma itu yang kau lihat? Kau tidak memandang lainnya. Misalnya wajahnya?"


"Kejadiannya sangat singkat. Saya tidak sempat mengamati wajah kedua wanita itu. Mungkin nanti kalau saya kesana lagi, aku ingin mengenal dua wanita itu lebih dekat."


"Jangan! Jangan kesana lagi. Kau bisa dipukul karena tanpa ijin sudah melihat separuh tubuhnya yang terbuka itu," Cytra pura-pura mencegahnya.


"Tidak apa-apa kalau mereka memukulku. Asal kesalahanku itu mereka maafkan," Al berkata sungguh-sungguh.


"Kalau mereka memukulmu tidak kau permasalahkan, bagaimana kalau mereka minta ganti rugi dengan memintamu menjadi pacarnya?" Cytra ingin mengerjai Al yang katanya masih lajang itu.

__ADS_1


Alberto memegang jidatnya, nampak bingung untuk menanggapi kemungkinan yang dipaparkan oleh mantan istri pamannya itu.


Cytra tidak tahu bila saat ini Al alergi mendengar kata pacar. Beberapa hari ini dia sebenarnya sedang berduka karna kisah cintanya yang buruk dengan seorang gadis. Maka itulah dia liburan ke Bali untuk menghibur diri dan melupakan kisah cintanya yang berantakan.


"Jangan dong. Masa ganti ruginya minta menjadi pacar saya," ucap Al kemudian.


"Habis kamu itu tipe cowok yang sangat menarik perhatian para cewek di Indonesia," kata Cytra.


"Ya, bagaimana nanti sajalah. Yang penting aku cuma mau minta maaf. Agar tidak terjadi kesalahpahaman aku dengan warga setempat. Karena mungkin aku akan lama tinggal di homestay itu," ungkap Alberto.


"Baiklah. Berarti nanti malam kau akan ke rumah itu lagi?"


"Ya, cuma mau minta maaf."


Setelah selesai mengungkapkan perasaannya itu, Alberto keluar dari ruangan. Cytra kemudian kembali meneruskan pekerjaannya. Pada jam istirahat Cytra minta agar Mellany masuk ke ruang kerjanya. Sekalian makan siang di kantor.


"Mel, kamu masih ingat kejadian sore kemarin. Waktu kita lari masuk ke dalam rumah karena ada bule yang menyapa kita?"


"Ya, saya masih ingat."


"Kok bisa begitu. Memangnya tempat penginapannya dekat dengan rumah Ibu?"


"Tidak dekat, tapi berada di kampung yang sama. Nanti malam dia mau datang ke rumah untuk minta maaf."


"Kok mau datang ke rumah. Memang tadi tidak langsung minta maaf kepada Ibu?"


"Saya belum mengatakan kalau dua wanita yang dia sapa itu adalah kita."


"Maaf, Bu. Menurut saya harusnya tadi katakan saja apa adanya. Jangan menunggu dia datang ke rumah. Nanti kalau salah menafsirkannya bisa panjang urusannya, Bu," kata asistennya yang cerdas itu.


"Maksudmu panjang urusannya bagaimana?"


"Maaf ya, Bu. Apa nanti dia tidak merasa dikerjain oleh Bu Cytra?"


"Ya, saya memang bermaksud begitu."

__ADS_1


"Apakah nanti dia tidak marah atau tersinggung masa liburannya diganggu oleh Ibu. Dia kan tamu penting perusahaan. Yang harus kita jaga privacynya."


"Ya, tidaklah. Sudah kamu tenang saja dan bersiap-siap rumah kita kedatangan tamu pria tampan," kata Cytra senang seperti seorang gadis yang baru jatuh cinta.


Dan hari itu setelah seluruh pekerjaanya selesai, Cytra pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Kalau boleh diungkapkan sebenarnya hatinya kagum juga dengan ketampanan Al. Suasana hatinya hampir sama ketika dia jatuh cinta pada Mr Morgant dulu.


Sesampainya di rumah dia menata perabotan rumahnya serapih mungkin. Mellany melihatnya dengan tersenyum di dalam hati. "Lady bossku rupanya sedang puber lagi," gumamnya.


Malam pun tiba dengan sangat lamban. Cytra sudah tak sabar lagi melihat mimik wajah yang tampan itu terkejut. Kemudian merasa terkesan dengan sikapnya yang memaafkan atas kesalahannya. Selanjutnya malam yang indah ini akan ia isi dengan ngobrol dari hati ke hati.


Cytra ingin tahu lebih jauh jati diri Alberto. Kalau soal hubungannya dengan mantan suaminya dia sih sudah tahu. Tapi soal hobinya, pandangan hidupnya atau wanita seperti apa yang dia sukai, Cytra belum mengetahuinya.


"Kok belum datang sih Bu, sudah jam segini," kata Mellany keluar dari kamarnya. Sedangkan Cytra sedang menunggu di ruang tamu sambil membaca buku.


"Jam berapa sih sekarang?" tanya Cytra sambil tetap membaca.


"Sudah jam 20.30. Mestinya sudah datang karena jam tamu bertandang kebiasaan di kampung ini hanya sampai pukul 22.00," ujar Mellany.


"Di kawasan wisata internasional begini ada aturan jam bertamu?" tanya Cytra heran.


"Kawasan wisata kan masuk dalam wilayah desa juga. Dan rumah ini statusnya bukan tempat penginapan. Tetapi rumah penduduk. Maka mestinya patuh pada aturan penduduk setempat," ujar Mellany sesuai tugasnya sebagai analisis proyek di kantor.


"Kamu kok dari tadi bicaranya seperti tidak suka aku mau ketemu dengan dia. Jangan-jangan kamu naksir juga dengan Al, ya," ujar Cytra bergurau.


"Menurut saya dia terlalu tampan untuk saya. Dan juga beda kelas. Tidak mungkin aku naksir dia," alasan Mellany masuk akal.


"Cinta itu tidak memandang status atau golongan. Buktinya waktu aku dulu dengan Mr Morgant. Seperti apa sih diriku waktu itu dan siapa beliau. Tapi nyatanya cinta bertaut dan sampai menikah. Sayang usia pernikahan kami tidak lama karena beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa."


"Iya, ya Bu," Mellany tak berani membantah argumentasi bosnya. Walaupun sebenarnya dia punya prinsip sendiri dalam bercinta.


Malam itu akhirnya berlalu begitu saja. Ditunggu hingga pukul 22.00 Al belum juga datang. Cytra akhirnya masuk ke kamarnya. Begitu juga Mellany karena besok pagi sudah harus bangun untuk bekerja lagi menyiapkan laporan akhir tahun.


Sementara Cytra di kamarnya sulit memejamkan matanya. Benaknya bertanya-tanya kenapa Al tidak jadi datang. Apakah dia tahu kalau sedang dikerjai. Apa mungkin Al sudah tahu yang sebenarnya???


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2