WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 135. Terhalang Masalah Orangtua


__ADS_3

Setelah menutup pintu pagar rumah Pak Jono lari ke dalam menemui Cytra.


"Siapa mereka itu, sudah pergi belum," tanya Cytra.


"Masih menunggu di depan. Mereka mengatakan mau bertemu dengan Nyonya. Sepertinya penting sekali," kata Pak Jono.


"Berapa orang di dalam mobil?"


"Sekitar empat orang dengan sopir."


"Ya, sudah buka pintunya," perintah Cytra karena tahu yang datang ke rumahnya itu bukan Radita dan Vionita.


Pak Jono lari lagi keluar membuka pintu pagar. Dan mobil itu masuk dengan mengeraskan bunyi kenalpotnya. Kelihatan kesal sekali sopirnya kepada Pak Jono.


Cytra memperhatikan dari balik Jendela dengan perasaan was-was. Namun setelah mobil berhenti di halaman, yang keluar dari dalam mobil adalah dua orang lelaki dan seorang perempuan.


Cytra kaget melihat salah satu dari mereka. Sedangkan dua orang lainnya yang sepertinya suami istri ia tidak mengenalnya.


"Hai Ridwan! Aku kira bukan kamu yang datang!" seru Cytra melihat pria itu masuk ke dalam rumah dengan senyum mengembang, didampingi kedua orangtuanya.


"Kenalkan ini Mami-Papiku," ucap Ridwan ramah kepada Cytra.


Cytra menunduk memberi hormat kemudian menyalami mereka satu persatu dan berbasa-basi sebentar sebelum menyilahkan mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Rumah ini sangat megah sekali dan besar," ucap Mami Ridwan sambil memperhatikan bangunan rumah itu. Sedang Papi Ridwan hanya senyum-senyum saja memperhatikan Cytra.


"Ah, biasa saja kok. Mestinya sama besarnya dengan rumah Ibu dan Bapak," balas Cytra dengan sikap merendah.


Setelah beberapa saat bicara tiba-tiba Putra dan Sanjaya menghambur ke depan dan duduk melendot ke Mamanya.


"Mereka yang tadi mengikuti mobil Mama ya??" ucap Putra menyelidik dengan suara lirih dekat ke telinga Mamanya.


Ridwan tertawa melihat tingkah anak genius itu. Memang dirinya tadi yang mengikuti mobil Cytra sejak keluar dari Mall. Saat itu ia sedang lebingungan mencari alamat Cytra. Kebetulan melihat mobil mewah dengan nomor yang sangat ia kenali. Karena Ridwan pernah melihat mobil yang sama dibawa Cytra ke rumah mitra kerjanya di Bali.


"Putra sudah pernah bertemu dengan Om Ridwan kan di rumah Boy?" Kata Ridwan mengajak anak itu ngobrol.


Putra memperhatikan wajah Ridwan dengan serius.


"Ayo Ma ke Bali lagi. Putra sudah kangen sama Boy!" Anak kecil itu menggoyang-goyangkan lengan Cytra.


"Nanti dong kalau Mama ada kesempatan ke Bali lagi," jawab Cytra.

__ADS_1


"Nanti sama saya ke Bali ya, Tra. Kalau Mamamu sudah tidak sibuk lagi," kata Ridwan sengaja menunjukkan kepada orangtuanya sendiri kalau dia sudah akrab dengan Cytra dan anak-anaknya.


Papi Ridwan memperhatikannya penuh suka cita. "Mereka pantas kita sandingkan, Mi," bisiknya ke telinga istrinya.


Tapi perempuan itu menghindar dengan menolehkan kepalanya. Kelihatan kurang senang melihat wanita yang akan menjadi calon istri anaknya itu. Perhatian perempuan itu malah justru tertuju kepada sejumlah foto yang terpampang di dinding.


Disana ada foto laki-laki bule yang memeluk Cytra dengan mesra. Dan foto Cytra dalam style bernyanyi di cafe. Jumlah foto dengan gaya seperti itu cukup banyak tertempel di dinding.


Sedangkan Ridwan dan Papinya lebih banyak perhatian pada sosok Cytra yang cantik serta kedua anaknya yang lucu.


"Bagaimana Mi, Papi atau Mami yang akan menyampaikan tujuan kita," kata Haji Aris dengan berbisik lagi ke istrinya.


"Mami saja yang bicara!" seru Umi Salmah sehingga mengejutkan Cytra dan Ridwan yang sedang bermanja-manjaan dengan Putra dan Sanjaya.


"Mau bicara apa Mi?" Ridwan menghadang agar Mami tidak bicara sembarangan.


Ridwan sudah bisa memperkirakan bila Maminya yang bicara hasilnya bisa kontraproduktif. Karena sejak dari rumah Umi Salmah sudah protes tentang wanita pilihan anak sulungmya itu.


Cytra juga terkejut mendengar suara Umi Salmah yang jelas dan lantang itu. Seperti ada hal penting yang akan disampaikan tentang dirinya.


"Begini Cy. Seperti yang pernah aku bicarakan denganmu tempo hari. Bahwa aku ingin pertemanan kita ini serius. Syukur bisa berlanjut sampai ke pernikahan. Makanya hari ini aku bawa kedua orangtuaku" Ridwan akhirnya yang menyampaikan tujuannya menemui Cytra.


Telinga Cytra mendengarkan Ridwan bicara. Tetapi matanya tertuju kepada Mami Ridwan.


"Aku ingin mendengar pendapat dari Ibu dan Bapak. Kelihatannya Ibu dan Bapak kurang senang Ridwan bersahabat denganku," Cytra memberanikan diri menyuarakan isi hatinya.


"Oh, saya setuju! Saya tidak keberatan kalau Ridwan bersahabat dengan neng Cytra," ujar Haji Aris dengan hangat.


Sedangkan Umi Salmah masih tetap memperhatikan fito-foto Cytra.


"Sepertinya neng Cytra penyanyi ya? Itu foto-fotonya kok banyak sedang bernyanyi," kata Umi Salmah dingin.


"Iya betul, Bu. Itu foto-foto dulu ketika saya masih bekerja di cafe," kata Cytra jujur.


"Bekerja di cafe?" Umi Salmah nampak terkejut.


"Sebagai apa bekerja di cafe?"


"Ya, sebagai penyanyi. Tiap malam dulu saya menyanyi di cafe, Bu," Cytra sengaja memancing reaksi perempuan itu seperti apa.


"Oh, pantas saja suami neng Cytra dulu orang bule," kata Umi Salmah bernada mengejek.

__ADS_1


"Memang kenapa Bu, kalau suami saya dulu orang bule?" kata Cytra dengan menahan emosinya.


"Ya, tidak apa-apa. Saya cuma pingin tahu saja," ujar Umi Salmah dengan nada masih tidak simpatik.


"Saya kira tidak masalah sebagai penyanyi atau apa bekerja di cafe. Yang penting bisa menjaga diri. Tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas," Haji Aris menimpali.


"Papimu sih biasa begitu, Rid. Selalu membelanya kalau bicara soal penyanyi cafe," kata Umi Salmah ditujukan kepada Ridwan.


"Sudahlah Mi. Tidak usah menyinggung lagi soal kesalahan Papi," pinta Ridwan karena kalau diteruskan bisa menyentil perasaan Cytra.


Sedangkan Cytra dalam perbincangan itu sudah tidak suka dengan sikap Umi Salmah sejak awal. Karena kelihatan jelas sangat mencibir profesi penyanyi cafe.


"Maaf, kelihatannya Ibu tidak suka dengan wanita yang berprofesi sebagai penyanyi cafe," kata Cytra kemudian.


"Ya, maaf saya memang tidak suka profesi itu. Karena Papinya Ridwan pernah menjadikan saya sebagai madunya penyanyi cafe. Hingga lahir seorang anak yang urakan itu," Umi Salmah sudah tidak tedeng aling-aling lagi mengungkapkan sikapnya.


"Ya saya sudah dengar cerita itu dari Ridwan. Tapi menurutku bahwa kejadian jelek di masa lalu adalah sebagai nasihat untuk bekal kehidupan di masa yang akan datang."


"Nah begitulah seharusnya Umi menyikapinya," Haji Aris menimpali.


"Kalau saya menganganggap kesalahan di masa lalu itu adalah aib. Memang saya sudah memaafkan kesalahan Papi. Tapi yang namanya aib itu tidak akan terhapuskan sampai kapan pun," ungkap Umi Salmah tanpa merasa rikuh membuka aib suaminya di depan Cytra.


"Itu berarti Mami belum memaafkan kesalahan Papi seratus persen. Karena masih mengingat terus hal itu," kata Haji Aris merasa telah dipermalukan di depan Cytra.


"Salahnya Papi sendiri kenapa mau selingkuh. Sekarang Papi harus mau menerima akibatnya," kata Umi Salmah semakin menusuk jantung suaminya.


"Sudah-sudah! Kok jadi bertengkar sendiri apa tidak malu dengan Cytra," Ridwan melerai kedua orangtuanya yang saling bersitegang.


"Habis Mamimu yang keterlaluan. Membuka aib Papi di depan orang lain. Siapa orangnya yang tidak marah dan malu sekali."


"Papimu itu memang tidak tahu malu. Tidak mau mengakui kesalahannya."


"Saya kan berkali-kali sudah mengaku salah dan minta maaf. Masih saja dibuka aib itu di depan orang lain," kata Haji Aris lalu berdiri dari kursinya dan melangkah keluar.


"Piiii..., Papi mau kemana?" Umi Salmah menyusul suaminya keluar.


"Malu sekali aku Cy sama kamu. Selalu saja mereka bertengkar kalau bicara menyangkut kesalahan Papi," kata Ridwan setelah kedua orangtuanya pergi.


"Tidak apa-apa. Kamu yang sabar saja menghadapi masalah orangtua seperti itu," kata Cytra memaklumi keadaan Ridwan.


"Saya mau menyusul mereka sekalian mohon pamit. Mengenai urusan kita sendiri nanti saja kita bicarakan lagi."

__ADS_1


Cytra menanggapi dengan legawa. Dalam hati merasa kasihan juga kepada Ridwan punya orangtua yang bermasalah. Ridwan tidak tahu bila Cytra juga mengalami masalah yang tidak jauh beda tentang orangtuanya.


Bersambung


__ADS_2