
Hanna tidak mungkin akan melepaskan Radita yang sudah masuk ke dalam perangkapnya. Wanita berambut coklat keemasan itu cuma tersenyum manis ketika Radita memohon untuk menyudahi hubungan perselingkuhan.
"Aku juga sebenarnya kasihan kepada Bude Vio. Tapi bagaimana lagi aku sudah terlanjur cinta kepada Tuan. Aku juga akan menderita bila ditinggal tuan," kata Hanna memelas.
Semula Radita hanya ingin memberi pelajaran kepada Vionita. Agar mau merubah sikapnya tidak mudah cemburuan. Apalagi menuduhnya mau kembali ke Cytra. Tapi di klub tempat ia minum-minum bersama temannya itu bertemu dengan Hanna. Dan wanita itu kini telah menjeratnya begitu kuat.
"Tapi aku tidak bisa mendampingimu setiap waktu. Aku sudah punya keluarga dan anak. Mereka juga butuh kehadiranku setiap saat," pinta Radita.
"Terus bagaimana solusinya, Tuan. Pokoknya aku tidak ingin berpisah. Tuan kemarin bilang mau mengantar saya ke Bali kenapa sekarang sepertinya mau putus dengan saya," Hanna mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
Pikir Radita sayang juga kalau putus dengan wanita cantik ini. Karena sangat memuaskannya di ranjang. Sedangkan Vionita sekarang biasa-biasa saja. Berbeda dengan sebelum punya anak. Mungkin karena faktor usia.
"Tidak aku tidak ingin putus dengan kamu, Sayang. Maksudku tadi berilah aku waktu untuk bertemu lebih lama dengan keluarga. Agar Vionita tidak curiga dengan hubungan kita," kata Radita memberikan angin segar kepada Hanna.
"Oh, kalau soal itu gampang, Tuan. Sekarang kita kan baru beberapa hari bertemu. Minggu depan nanti Tuan saya beri waktu sepuas-puasnya kumpul dengan Bude Vionita dan keluarga," ucap Hanna sangat menyenangkan perasaan Radita.
"Ok, terus bagaimana ini acara selanjutnya?" tanya Radita.
"Sabar dong Tuanku yang tampan. Kita ngobrol-ngobrol dulu sekarang. Sama ini ramuan dari leluhur coba kau minum dulu, agar badan Tuan segar dan strong," kata Hanna merayu lagi.
Ajaib setelah mendengar perkataan Hanna itu Radita jadi seperti anak penurut. Apalagi setelah dia minum ramuan yang diberikan oleh Hanna. Rasanya manis dan membuatnya sangat nyaman berada di kamar hotel itu. Padahal waktu datang tadi perasaan Radita gelisah. teringat terus dengan Vionita dan anaknya.
Namun ketika akan dimulai adegan di ranjang tiba-tiba hape Hanna berdering. Terpaksa Hanna melepas tangannya yang sudah memeluk Radita.
"Siapa yang menelpon, Sayang?" tanya Radita.
Hanna tak langsung menjawab. Dia menatap layar hape yang berpijar-pijar. "Diterima atau tidak ya??" gumam Hanna dalam hati. Jantungnya tak ayal ikut berpijar karena gugup dan takut.
"Siapa yang menelpon?" ulang Radita bertanya.
"Istri Tuan yang menelpon," ucap Hanna sambil tetap memegang hape itu.
__ADS_1
"Matikan aja. Tidak usah diterima," suruh Radita gugup.
"Jangan Tuan nanti malah curiga," Hanna menolak.
"Kalau begitu terima saja. Jangan katakan aku disini," pinta Radita.
"Ini VC tuan. Kalau saya buka bisa tercover semua yang ada di kamar ini. Termasuk Tuan yang masih tidur di ranjang itu," Hanna tidak menakut-nakuti, dia juga gugup ada telpon dari istri Radita yang mendadak itu.
Dering hape akhirnya berhenti sendiri. Radita dan Hanna lega. Tapi tidak berapa lama berdering lagi. Hanna terpaksa lari ke kamar mandi untuk menerima panggilan dari istri Radita.
["Lama banget sih, sedang apa kamu, pasti sedang dengan Radita ya?"] suara Vionita di hape langsung menuduhnya bersama suaminya.
Jantung Hanna bergetar. Padahal sudah biasa menghadapi kegentingan suasana seperti itu. Tapi karena lebih banyak punya pengalaman ia hadapi Vionita dengan hati-hati. Pikirnya tidak mungkin Vionita tahu kalau dia sedang bersama suaminya.
"Mana mungkin saya berani mencuri suami Bude, juga suami-suami lainnya," bantah Hanna berusaha setenang mungkin.
["Kalau tidak dengan Radita, kamu sekarang pasti sedang dengan laki-laki. Karena mengapa mengangkat telpon saja lama sekali,"] tebak Vionita lagi.
"Jangan sembarang menuduh Bude, aku ini sedang sakit perut dari tadi bolak-balik ke toilet," Hanna beralasan.
"Baiklah kalau Bude tidak percaya datang saja kesini. Alamat saya masih tetap kok," tantang Hanna.
["Ok! Kalau begitu sekarang aku mau kesitu. Tunggu sebentar aku sudah di jalan kok."]
Gawat. Bagaimana ini??!
Setelah sambungan hape dimatikan Hanna bergegas menghampiri Radita di ranjang.
"Ada apa sayang. Wajahmu kok jadi tegang begitu?" tanya Radita binggung.
"Istrimu sebentar lagi mau kesini. Bagaimana ini? Kita terusterang saja sudah berhubungan atau sementara kau pindah ke kamar lain," saran Hanna.
__ADS_1
"Jangan! Saya lebih baik pindah kamar!"
Radita kemudian cepat-cepat keluar dari kamar dan masuk ke kamar lain yang sudah dipesankan Hanna. Sehingga ketika Vionita datang kamar sudah kosong tidak ada lagi Radita.
"Bagaimana bude, benar kan saya sendiri di kamar ini," kata Hanna.
Vionita merasa tercengang. Semenit yang lalu merasa bakal menangkap basah suaminya yang main serong dengan gadis anak sahabatnya itu. Orang yang ia suruh memata-matai juga mengatakan seorang lelaki yang mirip Radita masuk ke kamar 3003. Tapi kenapa tikus itu lolos ia tangkap.
"Kamu umpetin kemana suamiku?" tanya Vionita tak percaya dengan senyum manis Hanna, seolah tak bersalah.
"Sabar, bude duduk dulu bicara dengan baik-baik. Bude kok bisa mengatakan Radita bersama saya disini. Ceritanya bagaimana?" kata Hanna dengan sikap tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa dengan Radita.
"Dasar perayu yang tidak tahu balas budi. Pokoknya bila ada bukti kamu menyembunyikan Radita akan kumusnahkan kamu dari muka bumi," ancam Vionita sengit.
"Bude kok yakin kalau Radita bersamaku," tanya Hanna ingin tahu barangkali ada temannya sendiri yang membocorkan rahasia.
"Tidak ada yang memberi tahu saya. Tapi dugaanku kuat Radita pergi menemuimu. Tadinya aku menduga Cytra. Tapi Cytra sudah kutelpon dia tidak bersama Radita."
"Bude sudah terkecoh dengan kelicikan Cytra. Bagaimana bisa Tuan bersama saya, kalau masih ada mantan calon istrinya yang masih mengharapkan Tuan. Lebih masuk akal seharusnnya kalau Bude mencari Tuan ke Cytra," Hanna pandai sekali memutarbalikan fakta.
"Tapi Cytra tidak memiliki sifat perayu laki-laki seperti kamu."
"Siapa bilang Cytra tidak punya sifat perayu. Alberto calon suamiku sendiri sekarang direbut olehnya. Apa itu bukan pekerjaan perayu."
Vionita diam berpikir. Ada benarnya juga kata-kata Hanna. Tapi sulit juga menuduh Cytra. Memang Cytra punya masa lalu buram. Tapi Vionita kira itu pelajaran yang sangat berharga bagi Cytra dan tak mungkin ia ulangi lagi.
Vionita bingung juga menghadapi masalah tersebut. Akhirnya ia pulang dengan tangan hampa. Gagal mengungkap perselingkuhan suaminya dengan wanita cantik berambut coklat keemasan dan bermata biru itu.
Sekitar satu jam setelah diperkirakan tidak akan ada lagi gangguan, Hanna panggil Radita untuk datang ke kamarnya lagi.
Tapi Radita mengatakan sudah pergi jauh dari hotel. Tidak jadi pindah kamar. Karena ada tugas penting dari perusahaan. Nanti akan ia kabari lagi dimana dia berada kalau situasi sudah aman.
__ADS_1
Brengsek kau Tuan Radita! Umpat Hanna dalam hati. Tapi ada benarnya juga kalau dia pergi jauh dari Hotel. Vionita pasti tidak akan pulang begitu saja. Pasti dia pasang mata-mata untuk mengawasi gerak-geriknya di hotel.
Bersambung