
Siapa sebenarnya Hanna?
Ternyata dia bukan cuma pegiat di panggung catwalk, tapi juga seorang wanita penghibur di kalangan atas.
Alberto mengaku menyesal mengenal Hanna dalam sebuah pesta para pengusaha di sebuah hotel mewah setahun lalu.
Penampilan Hanna dengan rambut coklat keemasan ditambah sinar matanya yang biru cemerlang, malam itu nampak cantik sekali dan Alberto langsung tertarik.
Setelah berkenalan dan ngobrol serta saling curhat, malamnya mereka bercinta di hotel yang sama. Dan saat itu mereka sepakat untuk melanjutkan hubungan ke pernikahan. Karena merasa saling cocok.
Alberto saat itu belum tahu kalau Hanna ternyata wanita penghibur berkelas. Pandai sekali Hanna menyembunyikannya. Sampai Alberto tak percaya dengan gunjingan banyak orang.
Baru setelah melihat dengan mata kepala sendiri Hanna bermain cinta dengan lelaki lain, Alberto sadar telah tertipu.
"Aku benar-benar menyesal. Mengapa waktu itu langsung menyatakan akan menikahinya tidak kulihat dulu latar belakangnya, darimana dia berasal dan siapa orangtuanya," kata Alberto di depan Cytra.
Hari itu setelah mengantar pulang Hanna sampai ke Bandara Sydney, Alberto berpisah dengan Hanna. Hanna yang meminta tidak perlu diantar sampai rumahnya. Tapi minta kepastian kepada Alberto untuk tidak meninggalkannya lagi.
Setelah berpisah dengan Hanna, Alberto pulang ke rumahnya sebentar bertemu kedua orangtuanya. Hanya sehari dia berada di rumah. Esok harinya dia cabut dari rumah kembali ke Bali. Dan langsung menemui Cytra di ruang kerjanya.
"Saya sebenarnya cuma basa basi saja mau mengantarnya sampai ke rumah. Padahal saya tahu dia sudah tidak punya keluarga. Ayah ibunya kabarnya sudah meninggal. Sehingga hidupnya berpindah-pindah dari hotel ke hotel," cerita Alberto lagi.
"Kamu tahu darimana Hanna tidak punya keluarga," tanya Cytra.
"Dari sejumlah sumber. Dan informanku mengatakan kalau Hanna sebenarnya bukan warga Australia."
"Kalau bukan warga Australia lantas dari mana dia berasal?"
"Dari negeri ini."
"Indonesia?" Cytra terkejut dan heran.
"Apakah sekarang sudah berpindah kewarganegaraan Australia saya belum tahu," ujar Alberto.
"Pantas saja sikapnya seperti berada di negerinya sendiri. Masuk kantorku saja tanpa permisi dan bertengkar dengan security. Dan sikapnya yang kasar itu aku tidak suka. Eeh...malah menuduhku preman lagi," kata Cytra kesal mengingat sikap Hanna.
"Dan ini mungkin akan membuatmu lebih kaget lagi dan heran," kata Alberto kemudian.
"Apa itu?" tanya Cytra penasaran.
"Waktu aku mengantarnya pulang di dalam pesawat dia banyak cerita tentang pengalaman dirinya di Indonesia. Malah katanya dia mengenal keluargamu dan tahu Mamamu bekerja sebagai penyanyi cafe," Alberto mengatakan itu dengan tanpa menyindir atau mengejek, tapi Cytra mendengarnya bak tersengat kalajengking.
"Brengsek!!" Seru Cytra benar-benar kaget dan heran.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Saya cuma menyampaikan apa yang dia katakan," kata Alberto menjadi tidak enak kepada Cytra.
"Memang Mamaku bernama Vionita dulu penyanyi cafe. Aku juga dulu kerja menyanyi di kafe sambil kuliah," Cytra buka saja lebar-lebar masa lalunya tanpa merasa malu.
"Kalau itu saya tahu dari paman Morgant ketika akan menikah dengan kamu."
"Apalagi yang dia katakan tentang aku dan Mamaku," kata Cytra dengan perasaan was-was Al tahu hubungannya dengan Mamanya retak.
"'Banyak sih tapi waktu itu aku kurang mendengarkan. Karena aku kira dia cuma mengibul."
"Dia tidak mengibul. Itu benar apa yang dia katakan," Cytra akui saja apa adanya. Walaupun dia berharap perasaan Al terhadap dirinya tidak berubah.
"Aku tidak tahu kenapa dia menceritakan semua itu kepadaku. Apa mungkin agar aku tidak kembali lagi ke Bali." kata Al seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau punya dugaan seperti itu?" tanya Cytra serius.
"Karena kalau aku kembali ke Bali jelas akan bertemu denganmu. Padahal kemarin Hana sudah menuduhmu yang tidak-tidak. Katanya akan merebut diriku. Seperti kau merebut Uncle Morgant dari Derryl," kata Al dengan tanpa ingin menjelekan Cytra.
Cytra dari kemarin sudah membuang harapannya Al jatuh cinta padanya. Karena Hanna begitu sangat mengharapkan cinta Al. Tapi dengan Al sekarang ada di hadapannya kembali, apa mungkin Al lebih perhatian kepadanya daripada Hanna? Harapan itu melambung lagi setinggi awan.
"Saya bukan merebut Morgant, karena waktu itu Derryl sudah bukan lagi istrinya lagi karena sudah cerai," Cytra meluruskan tuduhan Hanna.
"Ya saya tahu dan saya percaya kalau kamu bukan tipe wanita seperti yang Hanna katakan," kata Al melegakan perasaan Cytra.
"Sebaliknya aku senang sekali kalau kamu menonjoknya. Sayang tidak jadi hahaha....," Alberto tertawa lepas.
"Emang kamu tidak kasihan kalau Hanna aku tonjok'?"
"Kasihan untuk apa. Saudara bukan calon istri juga sudah tidak ada perasaan sama sekali."
"Apakah kamu tidak ada rencana untuk kembali kepadanya?" tanya Cytra sudah menjurus ke perasaan terdalam Al.
"Untuk saat ini tidak akan kembali kepadanya. Tapi entah nanti," jawab Al ingin memancing perasaan Cytra kepadanya.
"Kelihatannya kamu masih bimbang?" tanya Cytra.
"Memang masih bimbang. Apalagi ketika mendengar bahwa Hanna ternyata berasal dari negeri ini juga," jawab Al semakin membuat Cytra penasaran.
"Apa penting kalau kewarganegaraan Hanna ternyata orang Indonesia?"
Alberto diam tak menjawab. Dia malah mengalihkan pembicaraan.
"Saya mungkin akan lama tinggal di negeri yang indah ini. Karena direksi menugaskan kepadaku untuk mengelola perusahaan di Jakarta."
__ADS_1
"Apa hubungannya antara kamu pindah tugas kesini dengan Hanna ternyata warga Indonesia?" Cytra ingin memastikan perasaan Al.
"Ya tidak ada hubungannya. Mau Hanna warga negara Australi atau Indonesia itu urusan dia. Urusanku adalah pekerjaan," jawab Al tegas membuat harapan Cytra muncul kembali.
"Aku kok belum dengar soal itu dari direksi. Kapan keputusan itu diambil?" tanya Cytra serius.
"Belum ada keputusan kok. Itu baru wacana dari direksi. Mungkin kalau serius kamu akan diundang juga oleh direksi."
"Menurut saya kok kamu lebih tepat memimpin perusahaan di negerimu." Cytra kembali membuat sock terapi.
"Lho kok begitu?!" Al nampak kaget mengira Cytra tidak senang dengan berita kepindahan dirinya ke Indonesia.
"Karena perusahaan disana lebih besar. Penghasilannya juga lebih besar dibandingkan disini," Cytra pandai membuat alasan.
"Penghasilan bagiku masuk ke nomor sekian.
Yang nomor satu adalah kenyamanan dalam hidup ini."
"Oh iya karena mungkin Hanna akan pindah juga ke Indonesia ya," kata Cytra bernada menyindir.
"Kenapa Hanna lagi yang kau jadikan pertimbangan?" Al kelihatan terpancing emosinya.
"Tadi kau mengatakan sendiri kalau Hanna warga negara Indonesia. Kalau begitu kebetulan dong. Kalian bisa bertemu terus. Bukankah begitu?" kata Cytra senang melihat Al terpancing
"Yang aku bicarakan soal tugas pekerjaan dan Bukan soal Hanna," ucap Al sengit.
Cytra tertawa dalam hati.
"Kalau kamu pindah ke indonesia karena pekerjaan sebaiknya serius. Lakukan saja. jangan berpikir yang lain-lainnya. Pasti kamu akan berhasil."
"Besok saya sudah berada di Jakarta. Untuk melakukan observasi situasi dan kondisi yang ada. Sehingga kalau direksi memutuskan saya harus pindah, sudah tidak bingung lagi."
"Bagus. Saya yakin kamu bisa memimpin di Jakarta."
"Tapi tetap aku masih butuh bantuanmu sebagai senior, karena aku belum tahu medan di Indonesia," pinta Alberto.
"Hanna nanti pasti menyusulmu lagi kesini. Dia bisa kau mintai bantuan bila menjumpai kesulitan," kata Cytra ingin tahu besar mana perhatian Al kepada dirinya atau Hanna.
Tetapi Al tidak menanggapi hal itu. Dia malah ijin keluar untuk menaruh barang-barangnya di homestay. Membuat Cytra bertanya pada dirinya sendiri tentang perasaan Alberto terhadap dirinya.
Pertanyaan ini belum sempat terjawab sampai hari berikutnya. Hingga Alberto jadi dipindahkan ke Jakarta oleh Direksi.
Bersambung
__ADS_1