
Setelah Maulana pergi ganti Ridwan yang membuat orangtuanya bingung.
Pemuda yang sedang mabuk asmara itu minta kepada Papi-Maminya segera menemui Cytra. Alasannya agar tidak kedahuluan Maulana yang ternyata jatuh cinta juga pada orang yang sama.
"Hati kalian itu seperti sudah buta. Lihatlah dunia ini yang sangat luas. Tidak mungkin cuma ada satu wanita saja yang kalian rebutkan itu. Masih banyak di luar sana yang bisa kau pilih. Jadi tidak perlu nyuruh Papi-Mami untuk mengejar cinta Cytra," kata Umi Salmah menasihati.
Ridwan diam mendengarkan. Tapi entah apa lyang ada dalam pikirannya. Apakah merenungkan kata-kata Maminya atau justru sedang memikirkan wanita yang telah membiusnya dengan pesona yang dimiliki.
"Mamimu benar, Rid. Coba kau pikir lagi dengan hati terbuka. Tidak emosional begitu," imbuh Papinya.
"Ridwan bukan anak kemarin sore, Mi, Pi. Juga bukan tidak mencari pasangan selama ini. Tapi memang baru kali ini yang Ridwan pandang bahwa Cytralah yang paling tepat untuk jodohku," kata Ridwan meyakinkan.
"Itu kan baru pandapatmu secara sepihak, Nak. Masih perlu kau dengarkan pendapat Mami-Papi," kata Haji Aris.
"Tidak Mi, Pi. Pilihan Ridwan sudah tidak bisa dirubah lagi. Pokoknya Ridwan harus menikah dengan Cytra. Cepat sekarang saja kita temui dia sebelum Maulana dan Mamanya melamar lebih dulu wanita itu," desak Ridwan.
Papi-Maminya cuma bisa saling berpandangan. Tidak tahu harus bicara apalagi agar anaknya itu merubah pendiriannya.
"Apakah kamu tahu alamat Cytra sekarang. Dia tinggal dimana di Jakarta ini?"
Ridwan diam lagi. Dia memang belum tahu alamat Cytra sekarang. Karena pada waktu bertemu di Bali tidak sempat bertanya alamatnya. Tapi hal itu mudah bisa bertanya kepada Bu Winar atau Pak Yanu, mitra bisnisnya. Mereka pasti tahu.
"Bu Winar istrinya Pak Yanu punya om yang bekerja sebagai sopir pribadinya. Nanti akan saya tanyakan alamat Cytra kepada mereka. Pasti mereka tahu."
"Hai! Alamat saja kamu masih meraba-raba begitu. Bagaimana kamu bisa mendapatkan hati tahu wanita itu?"
"Sudah pokoknya Papi-Mami tidak usah meragukan kemampuanku. Pasti wanita itu akan aku dapatkan," kata Ridwan penuh percaya diri.
"Okelah. Kita turuti kemauan Ridwan ya, Pi. Karena dia yang pantas menikah lebih dulu daripada anak urakan itu."
Setelah orangtuanya tak mempersoalkan lagi kemauan anaknya itu, mereka pun pergi keluar mencari alamat Cytra.
\*\*
Di area pusat perbelanjaan yang tak begitu ramai, nampak seorang wanita tinggi semampai dengan rambut tergerai indah, baru saja berbelanja bersama dua anaknya. Dua tas plastik besar berisi barang-barang belanjaan menggantung berat di kedua tangannya.
Wanita itu adalah Cytra. Dia sengaja memilih tempat perbelanjaan yang tidak begitu ramai karena menghindari bertemu dengan orang yang mengenalnya.
__ADS_1
Selama beberapa pekan ini dia memang sengaja tidak ingin berkomunikasi dan bersosialisasi dengan siapapun terlebih dahulu. Seharusnya kalau tidak kepepet stok kebutuhan pokok di rumah habis ia tidak ingin pergi keluar.
Ya, Cytra sejak kejadian itu tidak ingin melihat wajah Radita dan Mamanya lagi. Dua manusia itu pasti sedang mencarinya. Paling cuma mau minta maaf dan menyesali perbuatan mereka di rumah Tante Mira. Sunguh menjijikan.
Maka lebih baik dia mencari tempat persembunyian yang tak bakal diketahui oleh mereka. Dan rumah pemberian Mr Morgant yang disukai oleh Putra, karena ada kolam renangnya itu, tempat persembunyiannya paling tepat.
Selama beberapa pekan ini dia merasa nyaman mengurung diri di dalam rumah tersebut. Namun sebagai manusia biasa lama-lama merasa jenuh juga berada di dalam rumah terus-terusan.
Bahkan kedua anaknya sampai bertanya tentang sikapnya yang tidak biasa itu.
Maka disaat anak-anaknya minta keluar, dan kebetulan stok kebutuhan bahan pokok di rumah habis, Cytra pergi ke pusat perbelanjaan dengan memilih tempat yang sepi.
"Yuuh...cepet berlari ke mobil!" seru Cytra mengajak anak-anaknya berlari ke tempat mobilnya diparkir.
Putra dan Sanjaya pun berlari lucu sekali ke mobil.
"Amaaan...," ucap Cytra setelah masuk ke dalam mobil. Karena tiak ada orang yang sampai memergokinya di pusat perbelanjaan itu.
"Ada apa sih Mama buru-buru?" tanya Putra sambil melempar pandangannya ke sekeliling mobil. Anak genius itu mengira Mamanya takut dibuntuti orang jahat.
"Kan kita pakai mobil ndak mungkin kehujanan," si anak genius itu mendebat.
"Oya...ya, kamu bener-bener anak yang pintar," rayu Cytra sambil mengacak-acak rambut Putra yang hitam lebat itu.
Cytra lalu menjalankan mobilnya perlahan keluar dari area pusat perbelanjaan. Kemudian masih dengan kecepatan sedang mobilnya yang mewah itu melaju di jalan raya berkesinambungan dengan mobil lainnya.
"Hati-hati Ma nyupirnya," kata Putra sambil memalingkan mukanya ke belakang.
"Putra ada apa kok melihat ke belakang terus?" tanya Cytra melihat dari kaca spion.
"Mobil itu Ma. Mobil itu kelihatan mengikuti kita, dari depan mall tadi," jawab Putra mengagetkan Cytra yang tetap konsentrasi memandang ke depan.
"Iya dong kalau mobil di belakang ya mungikuti kita. Karena ini jalur satu arah."
"Tidak mau mendahului. Dari tadi di belakang mobil ini terus."
"Apa iya sih?" Cytra memperhatikan lewat spion. Memang nampak ada mobil warna putih yang berjalan pelan di belakangnya. Padahal ada kesempatan untuk mendahuluinya.
__ADS_1
Cytra lalu memperlambat laju kendaraannya karena pertigaan di depan ada belok yang menuju ke arah rumahnya. Tapi mobil putih itu tetap di belakang tidak mau mendahului. Bahkan ikut belok ke kanan.
Cytra bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang ada di dalam mobil itu kenapa selalu di belakangnya terus. Cytra lalu memgurangi kecepatan mobilnya karena tinggal sekitar 100 meter lagi sampai di rumah.
"Mobil itu masih ada di belakang, Ma!" Putra memberi tahu Mamanya lagi.
"Biar aja. Mungkin itu mobil Kak Radita dan Nenek Vionita," kata Cytra menebak.
"Hore! Ada nenek, Dik. Kita akan bertemu Nenek!" seru Putra senang kepada adiknya.
Cytra membatin kalau Putra dan Sanjaya tidak tahu kalau Mamanya sedang tidak suka dengan dua orang itu.
Beberapa menit kemudian Cytra menghentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar. Lalu ia bunyikan klakson memanggil Pak Jono penjaga rumah. Tak lama seorang lelaki berlari dari halaman rumah membukakan pintu pagar.
"Tutup saja pintu pagarnya setelah saya masuk," perintah Cytra kepada Pak Jono.
"Lha itu mobil di belakang?" tanya Pak Jono.
"Tutup saja saya tidak kenal."
"Siap Nyonya!"
Lalu mobil pun masuk ke dalam dan langsung menuju ke garasi.
Sementara mobil di belalangnya distop oleh Pak Jono sambil menutup pintu pagar.
"Permisi, kami boleh masuk?" Terdengar suara lelaki dari balik jendela mobil yang hanya dibuka separuh.
"Maaf Tuan. Saya disuruh Nyonya untuk menutup pintu," kata Pak Jono cuek sambil menyeret pintu besi itu.
"Buka saja tidak apa-apa. Kami tamu, temannya bosmu," pinta sopir mobil berwarna putih itu kepada Pak Jono
"Maaf, Tuan. Saya tidak berani!"
Cytra setelah masuk ke dalam cuek saja tidak mau memandang ke arah pintu pagar. Padahal Pak Jono sedang berdebat dengan pengendara mobil putih yang memintanya untuķ dibukakan pintu pagar.
Bersambung
__ADS_1