WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 153. Kekasih Bayangan


__ADS_3

Sore sangat cerah. Matahari sudah tidak menyengat lagi di pinggir kolam renang di belakang rumah Cytra. Angin bertiup sepoi membawa aroma harum dari bunga kamboja.


Di bawah pohon kamboja yang rimbun itu, Alberto duduk memandang riam air kolam. Disana terlihat Cytra sedang berenang dengan tenangnya. Tubunya yang bening nampak mengkilat tertimpa cahaya matahari yang mulai redup.


Alberto teringat saat tak sengaja melihat Cytra dan Mellany mengenakan celana pendek dan singlet sedang bersih-bersih di halaman rumah. Tapi pemandangan kali ini jauh lebih indah dari saat itu. Apalagi ketika ia muncul dari dalam kolam, naik ke tangga dan melilitkan handuk lebar menutupi bagian tubuhnya yang sensitif.


"Seperti bidadari yang baru mandi dari kahyangan!" gumam Alberto memperhatikan tubuh Cytra berjalan ke tempatnya duduk di bawah pohon kamboja.


Cytra sebenarnya risih duduk di samping pria tampan itu dengan pakaian minim. Tapi sejak merasa bersaing dengan Hanna, Cytra perlu menunjukkan kelebihan dirnya di depan Alberto.


"Kamu jauh lebih cantik dibandingkan Hanna," ucap Alberto ketika Cytra sampai di depannya dan mengambil orange juice dari atas meja.


"Bilang apa sih kamu. Aku tidak suka kau banding-bandingkan dengan dia," kata Cytra sambil duduk bersandar di kursi setelah menyedot orange juice..


"Maaf, bukan maksudku membandingkan kamu dengan dia. Karena dia tidak ada apa-apanya dengan kamu," Alberto meralat kalimatnya.


"Kalau dia tidak ada apa-apanya, untuk apa tadi kau menerima dia di kantor?" tanya Cytra menyelidik.


"Aku tidak bisa ngumpet, dia datang sangat mendadak dan memaksa ajudan masuk ke ruangan kerjaku," kata Alberto jujur.


Cytra percaya hal itu. Dia sendiri waktu mau menemui Alberto juga ditahan oleh Ajudan di pintu masuk. Tapi dengan alasan dia istrinya akhirnya ajudan Alberto menyilahkannya masuk. Mungkin Hanna menggunakan taktik yang sama seperti dirinya. Sehingga bisa bertemu dengan Alberto.


Tapi Cytra tidak mau menunjukkan begitu saja percaya dengan alasan Alberto.


"Aku tidak percaya. Menurutku kamu itu masih punya rasa cinta sama dia, jadi tidak tega bila waktu itu kamu ngumpet tidak menemuinya."


Kalimat Cytra agak sedikit memojokan Alberto.


"Sungguh aku sudah tidak cinta dia lagi. Aku sudah putusin hubungan kami berakhir. Tapi dia masih terus saja memaksaku."


"Tidak cinta tapi kamu merasa kasihan tidak menemuinya, kan? Itu namanya kamu masih sayang." Cytra terus memojokan Alberto.


"Sungguh, Cy. Aku sudah tidak mencintainya lagi. Tapi mungkin benar katamu. Dia kan jauh-jauh datang dari Australi masa saya tega tidak menemuinya," kata Al.


"Sepanjang kau masih kasihan dan tidak ada niat untuk menjauhinya, yaah...sampai kapan pun dia akan terus datang merayumu."


"Terus aku harus bagaimana. Apakah kau punya ide, saran atau solusi?" tanya Alberto.

__ADS_1


"Tidak punya!" ketus Cytra menjawab


"Tolong aku, Cy. Aku tidak bohong, aku sudah tidak cinta lagi kepada Hanna. Aku ingin menjauhinya," kata Alberto kelihatan sungguh-sungguh.


"Saran? Memangnya aku ibumu, gurumu. Kamu itu sudah bukan lagi anak kecil dalam masalah ini," kata Cytra lebih bertujuan mengelitik perasaan Alberto.


"Aku datang kesini sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepadamu," kata Alberto membuat Cytra terhenyak sebentar.


"Sesuatu apa yang mau ìkau katakan?" tanya Cytra penasaran.


"Tolong bantu aku beberapa waktu saja. Setelah Hanna menjauhiku aku tidak akan minta bantuanmu lagi," janji Alberto.


"Kamu butuh bantuan apa dariku. Uang atau tenagaku untuk mengusir Hanna dari kehidupanmu?" Cytra penasaran.


"Bukan... Bukan itu. Tapi kamu jangan marah ya. Aku butuh kau untuk sementara menjadi pacarku."


PYAR!!


Kepala Cytra mendadak terasa seperti pecah berkeping-keping. Selama ini dia memang menunggu Alberto mengajaknya jadi kekasihnya. Tapi bukan pacar sementara atau kekasih bayangan seperti yang dikatakan barusan.


"Gimana, Cy. Bisa tidak?" tanya Al.


"Aku mau masuk ke dalam dulu ganti pakaian" ucap Cytra sambil beranjak dari kursi dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Alberto merasa tidak enak dan menyesal mengutarakan niatnya itu. Dia cuma melongo melihat Cytra berjalan masuk ke dalam rumah.


Di dalam kamar setelah membilas tubuhnya di kamar mandi dan ganti pakaian, Cytra tidak langsung menemui Alberto lagi.


Dia dekati foto Mr Morgant yang masih terpasang di dinding kamar. Di usapnya wajah mendiang suaminya itu dengan penuh perasaan. Lalu dipandangnya sorot mata pria yang sudah memberikan harta benda yang sangat melimpah itu.


"Sorot matamu seperti masih mencintaiku, Sayang," gumam Cytra di depan foto Mr Morgant.


Cytra teringat waktu pertama kali Morgant menyatakan cinta kepadanya. Begitu spontan tanpa ragu-ragu. Ternyata dia suami yang setia dan baik hati. Sayang usianya tidak panjang.


Cytra berharap, karena masih saudara sedarah, Alberto tidak jauh beda dengan Morgant. Setidaknya untuk sementara ini biarlah pria itu menjadi teman dulu.


"Kalau sekarang kau minta diriku menjadi pacar sementara tidak masalah?" gumam Cytra sedikit kesal dengan kemauan Alberto itu.

__ADS_1


Cytra lalu keluar dari kemarnya dan kembali ke tempat Alberto duduk di tepi kolam renang.


Langit sudah gelap. Lampu-lampu di kolam itu juga sudah menyala dengan indahnya. Membuat suasana di tempat mereka duduk sangat romantis.


"Lupakan saja apa yang saya katakan tadi. Saya tidak sengaja membuatmu marah. Tadi saya cuma spontan saja mengatakan itu karena panik menghadapi Hanna," kata Al meralat apa yang sudah diucapkan beberapa nenit yang lalu.


"Tidak apa-apa. Tidak masalah kok bila saya harus membantumu dengan cara seperti itu."


"Jadi kau mau menjadi pacarku untuk sementara?!" seru Alberto gembira.


Cytra tersenyum manis. Berusaha bersikap seperti biasanya. Tidak ada masalah Alberto menginginkan dirinya menjadi pacar, kekasih bayangan atau apa pun namanya!


"Terimakasih, Cy. Hatiku merasa tenang sekarang. Mudah-mudahan tidak akan kesulitan lagi nanti menghadapi Hanna," kata Alberto berharap.


"Tapi apa mungkin rencanamu ini akan berhasil?" tanya Cyta.


"Paling tidak aku bisa beralasan yang cukup kuat bila dia datang lagi."


"Memang dia mau datang lagi mau apa. Bukankah tadi pagi sudah bertemu denganmu?" tanya Cytra dengan perasaan cemburu.


"Tadi pagi belum sempat aku tandatangani karena dia buru-buru menyimpan lagi surat itu ketika kamu datang."


"Surat? Surat apa yang diminta kau tandatangani?" tanya Cytra kaget, ternyata Hanna sudah jauh melangkah untuk menjerat Alberto.


"Surat perjanjian pernikahan dan dia minta biaya dari saya yang jumlahnya minta ampun sampai satu miliar," terang Alberto.


"Busyet! Bener-bener mau merampok kamu dia. Bukan hanya tubuh kamu yang dia inginkan. Tapi juga hartamu."


"Aku juga berpikiran seperti itu. Aku akan ia jadikan sebagai sapi perahan untuk menopang hidupnya yang glamor itu."


"Salahmu sendiri kenapa terpikat dengan wanita yang ternyata tidak hanya sebagai penghibur tapi perampok!" keluh Cytra.


Alberto nampak menyesal apa yang sudah ia lakukan dengan Hanna. Malu rasanya diketahui oleh Cytra.


Padahal sebelum Hanna muncul ia sudah merencanakan kehidupan yang baru di Indonesia. Negeri yang indah dan masyarakatnya yang ramah tamah ini, ingin ia jadikan sebagai tempat tinggal yang terakhir.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2