
Pembicaraan itu belum selesai. Kata keputusan juga belum ada. Namun ketika Ridwan akan melanjutkan lagi pembicaraan, tiba-tiba datang Maulana dengan gayanya yang selengean.
"Ada rapat besar rupanya!" celoteh si urakan mengagetkan tiga orang yang sedang serius membicarakan tez3ntang rencana pernikahan Ridwan.
"Duduk sini, Nak. Keluyuran kemana saja kamu?" Papi yang paling dekat dengan si urakan membalas sapaan itu.
"Ada rapat apa ini aku kok ndak diajak bicara?" kata Maulana setelah duduk di sofa ruang keluarga itu dengan gayanya yang khas.
"Kamu anak kecil tidak perlu tahu," Umi Salmah menanggapi dengan sikap tidak enak.
"Saya sudah besar, Mi. 25 tahun. Masa masih dianggap anak kecil terus," kata Maulana cuek.
"Biarkan saja dia bicara, Mi. Dia kan anak kita juga." Papinya menengahi.
Umi Salmah mau menyangkal suaminya dengan mengatakan Maulana bukan anaknya, tapi anaknya Aris dengan Mira. Namun tidak jadi karena Ridwan keburu menarik tangan Maulana dan diajak ke ruang lain meninggalkan kedua orangtuanya.
"Saya perlu keterangan yang sangat penting agar kau jawab dengan jujur. Bisa kan?" tanya Ridwan.
"Jelas dong, Kak. Sama Kakak saya tidak berani tidak jujur," kata Maulana dengan nyleneh, tidak langsung menjawab pertanyaan Kakaknya.
"Jawab saja mau atau tidak berkata jujur," Ridwan mendesak.
"Kayaknya ada masalah penting apa sih. Sampai Kakak menginterogasiku seperti ini."
"Saya tidak menginterogasi kamu. Saya cuma tanya saja, tolong jawab dengan jujur!" suara Ridwan mengeras.
"Ok. Silahkan mau tanya apa," kata cowok urakan itu sambil duduk dengan kaki diangkat ke kursi.
"Dasar urakan, duduk yang bener!" Ridwan mengingatkan.
"Aahh! Sirik amat sih Kakak hari ini." Sang adik protes.
"Terserah kamulah dikasih tahu yang bener tidak mau." Sang kakak menyerah.
"Sudah Kakak katakan saja mau apa?" Enak saja si urakan itu menyuruh Kakaknya.
__ADS_1
"Kata Papi dan Mami kamu sudah punya pacar?" kata Ridwan kemudian.
"Belum kok kak. Cuma masih naksir saja."
"Siapa gadis yang kau taksir?" Ridwan khawatir jangan-jangan wanita yang ditaksir oleh adiknya itu sama dengan yang sedang ia bicarakan dengan orangtuanya tadi. Karena menurut cerita Cytra pernah bertemu dengan adiknya itu.
"Ada deh nanti kalau sudah jadian. Saya tunjukan kepada kakak dan Mami Papi," kata Maulana enteng saja.
Ridwan menebak-nebak siapa gadis yang ditaksir oleh adiknya itu. Pasti bukan Cytra. Pikirnya. Karena walupun Cytra mengatakan pernah bertemu dengan adiknya itu, sangat tidak mungkin wanita karier itu tertarik dengan orang urakan seperti itu.
"Memang ada apa Kakak tanya seperti itu?" Kini ganti Maulana yang mengusik perasaan Kakaknya.
Tetapi sebelum Kakak Ridwan menjawabnya, orangtua mereka sudah memanggilnya untuk segera makan siang di ruang tengah.
Maulana langsung meloncat dari kursinya mendengar ada yang menawari makan siang. Dasar cowok selengean dengan cueknya ia tinggalkan saja kakaknya dan langsung menuju ke meja makan, dimana Papinya dan Umi Salmah sudah menunggu di sana.
"Dimana Kakakmu panggil dia suruh makan sekalian," kata Umi Salmah dengan sebal melihat tingkah anak madunya itu.
"Nanti juga kesini sendiri, Mi. Orang tadi sudah denger panggilan Mami," cuek saja cowok urakan itu ngomong sama Umi Salmah, membuat perempuan itu merengut.
Suminya langsung menepuk-nepuk punggung Umi Salmah yang hendak mendamprat anak sialan itu.
Umi Salmah tak jadi mendamprat anak sialan itu. Apalagi kemudian Ridwan datang dan langsung mengambil tempat duduk di samping Maminya.
"Saya belum lapar, Mi. Pingin nyicipi tempe gorengnya saja," ucap Ridwan.
"Jangan terlalu dalam mikir mau menikah. Jadi tidak nafsu makan begitu," kata Maminya tak sadar kalau ada Maulana.
Si cowok urakan mendengar itu langsung berhenti mengunyah makanan. Dia kaget mendengar kalau Kak Ridwan mau menikah.
"Jadi Kakak mau menikah? Makanya tadi ada rapat besar. Siapa kak calon istrinya?"
Ridwan yang ditanya cuek saja mengunyah tempe goreng. Menirukan sikap adiknya tadi waktu diajak bicara di ruang depan. Membuat Maulana agak kesal.
"Bukan rapat besar. Kakakmu tadi baru bilang punya rencana menikah. Dan Papi Mami hanya mendengarkan, bukan sedang merapatkan," kata Papinya. Ia tahu anaknya yang satu ini sangat sensitif dan cepat tersinggung bila merasa tidak diperhatikan.
__ADS_1
"Tapi sepertinya ada yang disembunyikan, seperti ada rahasia yang aku tidak boleh tahu," ucap Maulana curiga.
"Memangnya kalau kamu tahu, kamu bisa bantu apa. Disuruh jaga Mall saja tidak becus. Senengnya main melulu," Umi Salmah ikut bicara yang dapat membangkitkan emosi anak dari madunya itu.
"Tapi jangan pakai rahasai-rahasiaan begitu dong, Mi. Emangnya aku ini belum diakui sebagai anak di rumah ini. Sampai tidak boleh tahu Kak Ridwan mau menikah," kata Maulana mulai emosi.
"Sudah-sudah kok malah berdebat begitu sih. Apa yang tidak mengakuimu sebagai anak disini. Coba tunjukan. Apa yang Kakakmu punya kamu juga punya. Mami Papi tidak membeda-bedakan antara Maulana Ridwan dengan Muhamad Ridwan. Nama saja hampir sama kok." Haji Aris bicara blak-blakan agar anak urakan itu bisa memahami posisi dirinya di rumah.
"Ok, saya percaya, Pi. Tapi saya dikasih tahu dong kakak mau menikah." Maulana tetap membantah.
"Hai anak urakan!. Ini saya kasih tahu bahwa saya ada rencana mau menikah. Titik."
"Kok cuma segitu pemberitahuannya. Memang tadi waktu menyampaikan kepada Mami Papi seperti itu?"
"Memang seperti itu yang aku sampaikan tadi kepada Mami Papi."
"Masa sih. Memangnya Kakak mau menikah dengan patung. Yang tidak punya nama, alamat dan darimana dia berasal. Dari keluarga baik-baik atau tidak. Begitu kan yang biasa Mami ajarkan kepada kita," kata Maulana menyindir ke Umi Salmah.
"Ok, baiklah akan saya katakan kepadamu. Bahwa aku baru punya rencana mau menikah. Sedangkan calonnya Cytra, nama lengkapnya Cytra Amalia. Ibunya bernama Vionita. Cytra sekarang sebagai lady boss dengan kekayaan yang melimpah. Puas kamu." Ridwan membeberkan jatidiri wanita yang akan ia nikahi.
Tentu saja Maulana bagai mendengar suara geledek di siang bolong. Apa yang disampaikan kakaknya itu semuanya sudah ia ketahui. Bahkan sudah lama dia tahu Cytra dan segala kelebihannya itu. Cuma satu yang baru ia ketahui sekarang bila Cytra adalah calon istri kakaknya.
"Tidak boleh! Kakak tidak boleh menikah dengan Cytra!" seru Maulana tiba-tiba.
Tentu saja Kakak dan orangtuanya heran anak urakan itu menghalangi.
"Ada apa dengan kamu melarang Kakakmu menikah dengan Cytra?" Umi Salmah terpancing emosinya.
"Alasannya apa kamu melarangku menikah dengannya?" Ridwan menambahi.
"Pokoknya Kakak tidak boleh menikah dengan Cytra. Cytra sudah dijodohkan oleh Mamanya. Dia sudah menjadi milik orang lain. Tidak baik kalau Kakak merebutnya," Maulana ngotot menghalangi rencana Kakaknya menikah dengan Cytra.
"Tidak mungkin. Kamu ngarang saja. Tahu apa kamu soal Cytra. Bertemu saja baru sekali di rumah Mamamu dan di Mall saat Cytra mengantar anaknya menghadiri ulang tahun teman sekolah." Ridwan pamerkan apa yang ia ketahui tentang Cytra.
Gantian Maulana yang heran. Kok bisa-bisanya Kakaknya tahu kalau dirinya ketemu dengan Cytra baru dua kali. Apa mungkin Kakak tahu langsung dari Cytra. Sialan!
__ADS_1
....Halo raiders lama ndak cuap-cuap. Gimana nih komentnya. Balas ya...🙏🙏🙏
Bersambung