WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 95 Terkenang Masa Lalu


__ADS_3

Pantaskah apabila cinta itu tumbuh dalam diri seorang anak ketika melihat mantan ibu tirinya yang kini sendiri karena suaminya sudah meninggal? Lalu apakah salah bila muncul hasrat untuk mengambilnya sebagai istri?


Apalagi ibu tiri itu kini sedang butuh perlindungan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah berat yang sedang dihadapi.


Sementara itu di benak seorang janda berkata, patutkah apabila aku mencintai bekas anak tiriku? Apakah salah bila muncul keinginan menjadikannya sebagai suami? Apakah ini yang dinamakan cinta yang tumbuh di tempat yang salah?


Cytra dan Radita saling bergulat dengan pikirannya sendiri di dalam kamarnya masing-masing.


Pikiran itu wajar-wajar saja terpelanting di dalam kepala mereka di malam yang sepi setelah teror berupa tembakan itu berlalu beberapa jam yang lalu.


Mereka adalah manusia biasa. Yang sedang punya masalah dalam mengatasi kesendiriannya. Yang punya perasaan ingin melindungi dan dilindungi. Yang punya keinginan meringankan masalahnya masing-masing.


Maka di dalam kamar mereka sendiri yang berada dalam satu atap bangunan rumah besar seperti istana itu, tubuh mereka berguling-guling gelisah di atas tempat tidur. Bisikan setan pun sempat datang menggiring mereka untuk melakukan sesuatu yang melanggar tata susila.


"Lakukan sekarang! Datangi dia nyatakan secara langsung perasaan cintamu. Lalu kau cumbu dia agar kau bisa meringankan beban pikirannya," bisikan setan terdengar nyaring di telinga.


"Jangan! Kamu adalah manusia beradab. Manusia intelektual yang tidak mudah tergiur melampiaskan hawa nafsumu. Jangan lakukan itu. Sampaikan perasaan cintamu jika kau memang jatuh cinta padanya. Tapi jangan kau lumuri perasaan cintamu dengan niat kotor," tukas pikiran sehat mereka.


Pergulatan perasaan itu berlangsung cukup melelahkan hingga mereka tertidur dengan mendekap bantal guling.


Paginya ketika bangun tidur suasana hati Cytra mereka sudah agak mending. Tidak lagi direcoki oleh kemunculan perasaan yang aneh itu.


Sementara Radita sedang memikirkan Vika, istrinya. Hingga pagi itu Vika belum pulang dengan tanpa memberi kabar apa pun.


Tapi pertengkaran kemarin sore sudah jelas bahwa keinginan Vika adalah cerai dengan konsekuensi mendapatkan pembagian harta benda yang sangat memberatkan Radita.


"Kamu akan melepaskanku begitu saja tanpa ada harta benda yang kau berikan? Aku tidak mau! Dulu sudah kau renggut keperawananku dengan imbalan mas kawin yang tak seberapa. Kini akan kau lepas aku dengan tangan hampa? Tidak! Aku tidak.mau!" kata Vika sore kemarin dengan muka masam.


"Lalu untuk apa tujuan kita menikah dulu. Apakah hanya untuk menutupi aib yang telah kita perbuat. Dan setelah itu kau minta berpisah setelah sekarang aman?"


"Aku tidak pernah mencintaimu dari dulu. Hanya karena aku terlalu mabuk minuman, dan kau dengan leluasa meniduriku akhirnya kita menikah!"

__ADS_1


Kalimat terakhir itulah yang membuat perasaan Radita hancur. Kemudian malamnya setelah Vika pergi ia merenunginya sendiri di beranda samping rumah sebelum Cytra datang menemani.


"Kopi panas bisa menyegarkan pikiran kembali yang kusut," kata Cytra tiba-tiba dari belakang menyadarkan Radita yang sedang melamun di depan meja makan.


Nampak di matanya kedua tangan Cytra membawa dua cangkir berisi minuman kopi hangat dengan tenang.


Tentu Radita agak terkejut menerima secangkir kopi hangat dari Cytra. Tidak biasa pagi hari Radita minum kopi walaupun sebenarnya suka. Karena Vika tidak pernah melakukannya seperti Cytra. Paling sebelum berangkat kerja ia makan roti dan minum susu yang di sediakan asisten rumah tangga.


"Trimakasih. Rupanya kamu suka minum kopi setiap pagi, ya?" tanya Radita.


"Hemm....Aku tidak suka kopi," jawab Cytra spontanitas.


"Tidak suka minum kopi tapi kenapa kau menyeduh kopi. Dua gelas lagi," ucap Radita penuh tanda tanya.


Tahu kalau perbuatannya sedang dicurigai oleh Radita, Cytra batuk-batuk kecil untuk menutupi rasa malunya. "Bodoh amat aku ini. Kenapa aku bilang tidak suka minum kopi. Bisa tahu dia kalau aku punya perhatian kepada dirinya," gumamnya dalam hati.


Melihat Cytra batuk-batuk seperti tersedak Radita berlari ke dispenser mengambilkan air putih dan diberikan kepada Cytra.


Perasaan Cytra yang tadi malu kini hilang seketika melihat Radita perhatian juga kepadanya. Lalu air putih itu diminumnya dua teguk.


"Ayo diminum kopinya mumpung masih hangat," kata Cytra ingin membalas kebaikan Radita.


"Maaf aku buru-buru berangkat kerja." Radita berdiri dari kursinya lalu bergegas berjalan keluar.


Cytra masih tetap duduk di depan meja makan yang besar itu. Mimik mukanya cemberut. Tapi hanya sebentar karena Radita muncul lagi sambil berlari masuk ke dalam rumah, dan mengambil secangkir kopi yang sudah dibuatkan oleh Cytra. Lalu diminumnya dua teguk juga.


"Enak! Sayang sudah dibuatkan tidak aku minum," ucapnya lalu bergegas pergi lagi menuju ke pintu depan.


"Hati hati di jalan!" seru Cytra bersamaan Radita menghilang di balik pintu.


Setelah adegan yang sangat romantis itu berlalu, Cytra masih tetap duduk di depan meja makan. Bibirnya menyungging senyum kecil.

__ADS_1


Senang melihat sikap Radita barusan. Sekarang kelihatan baik kepadanya. Sampai mengambilkan air putih segala. Tidak pernah Radita sebegitu perhatian kepadanya selama ini.


Cytra masih tetap duduk di depan meja makan. Ia perhatikan suasana sekitarnya. Tidak ada yang berubah di dalam rumah besar seperti istana itu. Semuanya masih tetap berada di tempatnya. Foto-foto, hiasan dinding dan perabotan. Masih seperti dulu waktu ia tinggalkan setelah Samyokgie, Papa kandung Radita meninggal. Terkenang kembali masa lalunya.


Sekarang Samyokgie sudah tidak ada, kembali kepada Yang Maha Kuasa. Tinggal anak satu-satunya Radita yang menempati serta dua anak hasil perkawiban Cytra dengan Samyokgie: Putra dan Sanjaya.


Kedua bocah itu beberapa menit yang lalu sudah berangkat sekolah diantar dua babysiter dan dua bodyguard. Sesuai yang dikatakan Radita bahwa keamanan terhadap mereka harus lebih kuat. Karena terasa adanya ancaman dari luar yang belum diketahui dengan jelas motivasinya.


"Betapa singkat ternyata waktu berjalan," gumam Cytra sendiri di depan meja makan.


Jika dihitung berdasarkan kalender berarti sudah sekitar empat tahun Cytra meninggalkan rumah besar seperti istana itu. Cytra tinggalkan anak-anaknya karena dia masih ingin melanjutkan kariernya sebagai penyanyi waktu itu.


Radita tidak ingin Putra dan Sanjaya ketularan hidupnya seperti yang dialami Cytra. Sehingga dulu melarang kedua anak itu dibawa hidup bersama Cytra.


"Kamu sudah sangat beruntung dinikahi oleh ayahku. Namamu makin melambung menjadi orang yang sangat dihormati. Maka tidak jadi soal jika kau pergi tanpa membawa anak-anakmu," kata Radita tidak menaruh rasa kasihan kepada Cytra.


Saat itu Cytra merasa dirinya tidak berarti apa-apa dalam kehidupan rumah tangga konglomerat itu.


Wajar jika Radita bicara sekejam itu. Karena perbedaan kondisi yang sangat jauh, seperti bumi dan langit. Apalah artinya Cytra di depan mereka. Dia, cuma seorang perantauan dari Jawa yang mengadu nasib di Jakarta.


Ibarat nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Begitu pikir Cytra ketika menghadapi persoalan yang sulit. Ketika Papa Radita, Samyokgie, menyatakan ingin memperistrinya.


Waktu itu ada dua pilihan yang teramat sulit Cytra tentukan. Menolak lamaran Samyokgie berarti dia akan kehilangan kesuciannya secara percuma. Sedangkan kalau sebaliknya menerima lamaran itu, dia menjadi madu mamanya sendiri. Walaupun akhirnya mamanya, Vionita, menerimakan perlakuan Cytra yang sangat menyakitkan itu...


Cytra menangis mengingat kembali kejadian sepuluh tahun yang lalu itu.


Masih di meja makan ia meneguk lagi air putih yang diberikan oleh Radita tadi. Sementara secangkir kopi yang ia buat sendiri belum diminum sampai menjadi adem.


"Ya, Tuhan kenapa pikiranku ngelantur sampai kepada kejadian buruk itu lagi," gumam Cytra mengenang kembali masa-masa susah dulu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2