WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
BALAS DENDAM


__ADS_3

Suara tangis Monica terdengar sangat menyayat hati, dia sedang bersimpuh di samping makam Sam, Monica langsung pingsan setelah mendengar kabar kepergian Sam dari dokter Sifa.


Davian duduk sambil memegang nisan Sam disampingnya dokter Sifa sedang berusaha menenangkan Monica.


"Aku bersumpah akan membalas orang yang membuatmu terbaring di sini." Ucap Davian dalam hati sambil meremas nisan Sam.


Davian langsung menggotong tubuh Monica yang kembali pingsan, dokter Sifa mengikuti dari belakang, Davian langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


- - -


Seorang laki laki sedang duduk terikat dengan wajah pucat pasi, dia seakan sudah menebak apa yang akan terjadi padanya, di sebelahnya berdiri dua orang pria berbadan besar yang sesekali menatapnya tajam.


Tatapan penuh intimidasi dari dua orang pria itu semakin membuatnya lemas, bahkan dia hampir lupa cara untuk bernafas.


Davian masuk ke dalam bangunan tua, dia baru saja tiba setelah mengantar Monica ke rumah sakit.


Di depan sudah berdiri beberapa orang berbadan besar dengan wajah seram, mereka menganggukkan kepala kepada Davian.


"Dimana dia?" Tanya Davian pada orang yang terlihat seperti pemimpin mereka.

__ADS_1


"Ada di dalam bos." Jawabnya sembari masuk ke dalam menunjukkan ruangan tempat penyekapan.


Davian menatap tajam kearah seorang laki laki yang menunduk dengan wajah sudah tidak berbentuk lagi, dia menyeringai sebelum menghampiri laki laki itu.


"Ferry Ferry." Ucap Davian sambil bertepuk tangan dan tertawa keras.


"Apa kamu sudah siap masuk ke dalam neraka." Davian menjambak rambut dokter Ferry untuk melihat wajahnya.


Dokter Ferry berusaha membuang pandangannya, dia takut melihat tatapan membunuh dari Davian, tenggorokan nya tercekat tidak bisa mengeluarkan suara apapun, rasa sakit yang sedari tadi dia rasakan seakan hilang berganti dengan rasa takut yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Kamu sudah benar benar melampaui batas mu." Kata Davian sembari memukul wajah dokter Ferry.


"Baiklah, aku akan sedikit berbaik hati padamu." Davian menyeringai sebelum melanjutkan ucapannya.


Dokter Ferry langsung meneteskan air mata melihat Davian sudah menggenggam pistol di tangan kanannya dan pisau di tangan kirinya, badannya bergetar hebat.


"Hahahaha." Davian tertawa sangat keras.


"Apa kamu takut." Ucap Davian menyeringai.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap dokter Ferry terbata bata.


"Jika kata maaf mu bisa mengembalikan Sam, aku akan melepaskan mu sekarang." Ucap Davian sinis.


Mulut dokter Ferry seakan terkunci, dia sudah benar benar tidak memiliki tenaga bahkan hanya sekedar untuk bicara.


"Pilihlah." Kata Davian menyodorkan pistol dan pisau ke depan dokter Ferry


Dokter Ferry menggeleng dengan tatapan memohon kepada Davian.


"Jangan membuatku memilih, kamu akan menyesal." Kata Davian melihat tatapan putus asa dari dokter Ferry


Davian bersenandung menikmati tatapan memohon dari dokter Ferry, sesekali dia tertawa dan menyeringai yang menambah kengerian.


"Baiklah kalau kamu tidak mau memilih." Kata Davian memainkan pistolnya.


Davian menodongkan pistol di kepala dokter Ferry, matanya menerawang jauh mengingat wajah Sam.


"Semoga kamu bahagia di sana Sam." Ucap Davian sambil menarik nafas dalam.

__ADS_1


Terdengar bunyi letusan senjata yang sangat keras, kemudian suara menjadi sangat sunyi, hanya suara nafas yang saling bersahutan.


"Bereskan." Ucap Davian seraya pergi keluar dari bangunan tua itu.


__ADS_2