
Yang perlu segera dibongkar oleh Cytra adalah ketidakjelasan hubungan Vionita dengan Hanna. Kemunculan Hanna secara tidak langsung telah banyak merepotkan dirinya. Kini bahkan ulah wanita itu sudah sangat mengancam jiwanya.
Untung Tuhan masih melindungi sehingga hanya luka ringan di bagian luar yang diderita Cytra.
Hanya dua hari Cytra dirawat di rumah sakit. Hari ini dia sudah berada di rumahnya kembali.
Alberto, pria baik hati itu yang selalu mendampinginya. Walaupun belum menikah sudah seperti suami yang bertanggung jawab. Tak pernah absen selalu meluangkan waktunya untuk keperluan Cytra.
Seperti hari ini, walaupun Cytra tidak memintanya, ia menawarkan diri untuk mengantar pergi menemui Vionita.
"Kamu belum sehat betul. Luka akibat kecelakaan juga belum kering. Biarkan saya mengantarmu pergi ke rumah Mamamu," pinta Alberto.
"Sebenarnya ini masalah pribadi saya dengan dia. Kamu tidak perlu ikut. Biar Pak Jono saja yang mengantar saya," cegah Cytra.
Menurut Cytra, belum saatnya Alberto ia perkenalkan dengan Mamanya. Banyak hal yang sesungguhnya malu diketahui oleh Alberto. Selama ini dia belum tahu persoalan keluarga Cytra yang carut marut.
"Saya ikut, sekalian minta ijin atau mohon doa restu pada Mamamu," ucap Alberto seolah sudah tidak ada keraguan lagi menikahi Cytra.
"Tapi bagaimana kalau Mamaku tidak memberikan doa restu?" tanya Cytra pingin tahu sedalam apa perasaan cintanya.
"Orang belum ketemu Mamamu , kamu kok sudah memvonis begitu sih?"
"Karena aku takut kehilangan dirimu, Sayang," kata Cytra melendot ke bahu Alberto manja.
"Apa pun yang akan terjadi nanti di rumah Mamamu, aku tetap akan menikahi dirimu," ujar Alberto seolah tahu yang sedang dikhawatirkan oleh Cytra.
Cytra mengangkat kepalanya menatap Alberto dengan serius.
"Kamu tidak menggombal? Aku takut apa yang kau katakan tadi nanti akan berubah," kata Cytra dengan perasaan bimbang.
"Kamu tidak usah bimbang dan ragu mengajak aku ketemu dengan Mamamu."
"Maksudku tadi biar sekarang aku sendiri dulu menemui Mama. Karena ini masalah pribadi antara aku dengan dia. Nanti kalau soal pernikahan kita yang akan kita bahas, kita menemui dia bersama-sama," Cytra bersikukuh agar Alberto tidak ikut.
Pria berhidung mancung itu akhirnya mengalah, tidak memaksakan lagi ikut Cytra menemui Vionita.
Calon istrinya itu dibiarkan pergi ditemani Pak Jono sopirnya menemui Mamanya. Padahal disana mungkin ada juga Hanna yang sudah jelas mengibarkan permusuhan.
__ADS_1
Alberto sebenarnya ingin sekali ikut. Disamping khawatir ada apa-apa dengan Cytra yang belum sembuh betul, juga ingin berkenalan dengan Vionita.
Alberto belum kenal calon mertuanya secara dekat. Darimana dia berasal. Kenapa dulu datang ke Jakarta dan menjadi penyanyi. Apakah karena keturunan seniman atau terpaksa menyanyi karena kesulitan ekonomi.
Dan satu hal lagi yang sangat mendesak diketahui, kenapa Vionita bersama Hanna tega mencelakakannya.
Cytra tidak berpikir lagi soal perasaan Alberto yang ia larang ikut serta. Pikiran Cytra terfokus untuk membongkar masa lalu Mamanya. Kini terasa janggal sekali kalau Vionita itu adalah ibu kandungnya.
Perasaan itu muncul sudah lama. Dimulai dari saat Cytra gagal menikah dengan Radita. Tanpa disangka-sangka Vionita menjadi seperti api yang melalap dan menghanguskan harapannya dalam waktu sekejap. Rencana pernikahannya dengan pria itu gagal total.
"Kalau dia adalah ibu yang melahirkanku mengapa setega itu menyaksikan anaknya menderita," gumam Cytra di dalam mobil.
Dan rasanya semakin jelas Vionita bukan ibu kandungnya ketika bersama Hanna ingin membunuhnya melalui kecelakaan mobil. Kalau hanya calon suami yang ia rebut, Cytra masih bisa menerimanya. Tapi ini nyawanya yang diinginkan oleh Vionita.
"Sungguh tak masuk akal kalau perbuatan itu dilakukan oleh ibuku sendiri," Cytra bergumam lagi penuh amarah.
"Nyonya..., Nyonya baik-baik saja," celetuk Pak Jono mengagetkan Cytra yang sedang melamun.
"Pak Jono..., nanti jangan jauh-jauh dari Cytra, ya," katanya setelah perasaannya tenang kembali.
"Saya ikut masuk ke dalam, Nyonya?"
"Siap, Nyonya. Nyonya sendiri dalam keadaan sehat kan?"
"Sehat, Pak. Ini cuma luka kecil saja yang masih diverban."
"Pokoknya kalau Nyonya butuh bantuan tinggal panggil saya saja."
"Ok!"
Perjalanan mereka tinggal beberapa menit lagi sampai di rumah yang besar seperti istana itu. Aneh rasanya kini Cytra seperti mau mendatangi sarang penyamun. Padahal dulu rumah itu menjadi tempat tinggal yang menyenangkan.
"Hati-hati, Nyonya!" ucap Pak Jono mengingatkan ketika mobil sampai di pintu gerbang dan langsung dihadang oleh dua orang security.
"Oh, Nyonya Cytra. Saya kira siapa!" seru salah satu security lalu membuka pintu gerbang yang tinggi dan besar itu.
"Tuan besar ada pak?" sapa Cytra. Padahal bukan tuan besar yang ia cari. Untuk apa bertemu dengan Radita. Dia bukan wanita yang mau mengemis cinta.
__ADS_1
"Tidak ada. Yang ada Nyonya Vionita. Beliau ada di dalam."
"Kebetulan, saya memang sedang mencari Mama Vionita," kata Cytra dan security yang sudah mengenalnya itu menyilahkan.masuk.
Mobil pun masuk dengan perlahan. Dada Cytra bergetar. Perasaannya campur aduk antara terkenang masa yang indah dengan hal-hal buruk yang pernah terjadi dan jangan sampai terjadi lagi.
Sampai mobil berhenti di halaman rumah dan Cytra turun, belum ada tanda-tanda tuan rumah menyambut kedatangannya.
Cytra berjalan mendekati pintu samping. Di belakangnya Pak Jono mengikutinya sesuai yang direncanakan oleh Cytra.
Sebagai orang yang pernah menghuni rumah itu cukup lama, Cytra paham betul seluk beluk bangunan rumah itu. Tapi sekarang rumah itu terasa asing, mungkin karena ia sudah tak pernah berkunjung lagi. Sejak keluar bersama kedua anaknya, Cytra baru kali ini berkunjung lke rumah itu.
"Untuk apa kau datang kesini anak durhaka?" sapa Vionita langsung menghentak setelah pintu terbuka.
"Tidak salahkah yang Mama katakan. Aku bahkan rela menyerahkan calon suamiku untuk Mama rebut," kata Cytra berani.
"Masalah usang sudah kedaluwarsa mau kau ungkit kembali," Vionita merasa terpojok.
"Memang aku kesini bukannya mau mengungkit masa lalu itu. Aku mencari Hanna. Dimana dia Mama sembunyikan?" Cytra langsung kepada pokok permasalahannya.
"Hanna siapa? Aku tidak kenal Hanna!" terlihat mimik muka Vionita berbohong.
"Mama jangan sembunyikan penjahat itu. Mama bisa ikut terseret dipenjara nanti," kata Cytra menakut-nakuti mamanya.
"Saya bilang saya tidak tahu Hanna itu siapa. Bagaimana saya bisa terseret atas kejahatannya?"
"Hanna telah merusak sistem rem mobilku. Sehingga aku mengalami kecelakaan. Untung Tuhan masih menyelamatkan jiwaku sehingga aku cuma menderita luka ringan."
"Kau punya bukti kalau Hanna yang merusak rem mobilmu?"
"Buktinya ada. Pertama sebelum kejadian Mama dan Hanna ke rumah. Barang bukti kedua adalah CCTV di tempat parkir hotel. Tidak lama lagi pasti akan diketahui pelakunya."
Mendengar perkataan Cytra itu sikap Vionita yang tadi bermusuhan tiba-tiba menjadi ramah. Dan menyilahkan Cytra masuk ke dalam diikuti Pak Jono.
"Siapa dia?" tanya Vionita curiga setelah duduk di fofa.
"Bodyguard. Maka Mama jangan bohong. Walaupun sudah tua begitu dia bekas anggota polisi. Mama bisa ditangkap," jawab Cytra menakut-nakuti lagi.
__ADS_1
Vionita nampak grogi. Terlihat duduknya tidak tenang. Sesekali memperhatikan ke tempat Pak Jono duduk di kursi yang berada di seberang mereka.
Bersambung