
Mira tahu banyak perjalanan hidup Vionita sejak dari Cytra masih anak-anak. Tetapi dia tidak tahu kenapa Vionita pergi dari kampungnya ke Jakarta. Karena Mira baru kenal seteĺah Vionita bekerja sebagai penyanyi di sebuah cafe.
Penggemarnya yang paling setia dan baik hati yaitu Prama Agustin, Presdir Prama Group. Bersama suaminya Samyokgie, Agustin selalu mengunjungi cafe tempat Vionita bekerja setiap malam Minggu. Tidak hanya mendengarkan suara Vionita menyanyi, tapi juga ngobrol dan makan bersama sampai cafe tutup.
Vionita dan Agustin sudah seperti saudara adik kakak. Maka tidak aneh bila saat Agustin sakit keras, Vionita sering menemani di rumah. Tidak sekedar menghibur dengan lagu-lagu nostalgia. Tetapi juga mengambilkan makanan dan menyuapinya. Juga memijit-mijit kaki dan tangan wanita yang lebih pantas jadi ibunya itu.
Tidak aneh pula ketika Agustin meminta Vionita dan Samyokgie menikah. Karena katanya Vionita mirip dengannya. Wanita yang telaten dan etos kerjanya tinggi. Tapi bagi Samyokgie tidak begitu. Vionita dianggap wanita asing yang berambisi masuk ke dalam rumah tangganya. Maka walaupun sudah menikah setelah Agustin meninggal, Samyokgie masih tetap menganggapnya sebagai orang asing. Walaupun Vionita lebih cantik lelaki itu tak pernah menyentuh tubuhnya.
Hingga datang seorang gadis yang mampu menaklukan hatinya. Gadis itu adalah Cytra anak kandung Vionita sendiri. Entah apa yang ada dalam pikiran Cytra saat itu. Tiba-tiba saja telah terjadi persetubuhan antara Cytra dan Samyokgie. Kesuciannya terenggut dalam waktu sekejap. Setelah itu ia merasa menyesal sudah melukai hati ibu kandungnya sendiri. Tapi perlahan-lahan akhirnya Citra mencintai Tuan Samyokgie.
Vionita saat itu tidak bisa berbuat lain kecuali menyerahkan Cytra untuk dinikahi Samyokgie. Walaupun hati sakit seperti teriris sembilu.
Kini jika mengingat kejadian itu Vionita ingin menjerit sekeras-kerasnya. Ingin membalas sakit hatinya yang terpendam sekian tahun. Dan perasaan itu sekarang ia rasakan sangat kuat menggodanya.
"Radita harus aku miliki sepenuhnya. Bukan hanya pacaran atau sekedar menyemaikan kembali cinta lama. Tapi sebagai suamiku," kata Vionita penuh keyakinan di depan Mira.
"Aku senang mendengarnya. Itu berarti kau punya semangat hidup baru. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang aku lihat kau seperti manusia hidup segan mati tak mau," ledek Mira.
Vionita tersenyum malu.
Bertepatan itu Ridwan masuk ke rumah, entah pulang darimana.
"Kalau masuk ke rumah itu mbok uluk salam to, Rid. Jangan asal slonong aja," Mira menasihati.
"Mama biasa kurang mendengar. Orang tadi Ridwan sudah mengucapkan kok," cowok tampan bergaya urakan itu ngeles.
"Benar ndak Von. Kamu denger tadi dia mengucap salam?" Mira tak mau mengalah mengkroscek ke Vionita.
"Stop! Lupakan soal itu. Ini ada kabar menarik!" seru Ridwan membuat Mira dan Vionita menatapnya penasaran.
"Kabar apa itu, Rid? Papamu kawin lagi?" Mira langsung menyinggung Purnama mantan suaminya.
__ADS_1
"Mama itu selalu berpikiran buruk pada Papa dari dulu. Dia sekarang lebih homely, Ma. Tidak lagi seperti waktu hidup dengan Mama," kata Ridwan membela Papanya.
"Berubah apanya," ucap Mira bersungut-sungut.
Mira tahu Ridwan selalu membela papanya. Selalu menilai Mamanya suka boros dan senang berhura-hura hingga Purnama meninggalkannya.
"Stop. Aku datang kesini bukan mau bicara soal Papa. Tapi soal wanita sombong itu, yang kalau bicara tidak mau memandang ke lawan bicaranya," kata Ridwan yang memunculkan tanda tanya besar bagi Mira dan Vionita.
"Itu bukan sombong namanya cah bagus. Gadis itu karena malu bertemu pertama kali denganmu," Mira menasihati.
"Malu bagaimana! Orang gadis itu Cytra. Masa dia malu denganku."
"Cytra? Ketemu dimana kamu, Rid?" Mira nampak senang sekali Ridwan mau menemui wanita yang sedang ia incar menjadi menantunya itu.
"Di mall Papa kemarin. Dia sedang mengantar anaknya menghadiri pesta ulang tahun yang berlangsung di mall."
"Terus gimana kamu dengan dia?" tanya Mira tak sabar ingin tahu kelanjutan pertemuan Ridwan dengan calon menantunya.
"Jangan patah semangat. Dekati lagi dia yang masih malu-malu itu. Itu tandanya bahwa dia mau dengan kamu. Biasa sifat wanita kan begitu. Malu tapi mau."
"Tidaklah, Ma. Aku kira Cytra bukan jenis wanita seperti itu. Dia memang tidak punya minat denganku," kata Ridwan pasrah.
"Mamamu benar, Rid. Kamu jangan patah semangat. Nanti aku bantu untuk bicara dengan Cytra agar bersikap lebih baik lagi denganmu," Vionita ikut bicara sekedar untuk mensuport Ridwan. Padahal Vionita sekarang ini masih malas bicara dengan Cytra karena persoalan pribadinya.
"Sekarang pekerjaan Cytra apa sih, Tante?" tanya Ridwan.
"Yang aku dengar dia itu sekarang jadi lady boss dari sejumlah perusahaan yang dikelolanya. Perusahaan warisan mantan suami yang sudah meninggal."
"Wow! Makanya penampilannya keren begitu," Ridwan merasa takjub.
"Makanya kamu berpenampilan yang keren. Jangan urakan begitu. Mana ada wanita seperti Cytra mau melihat penampilanmu."
__ADS_1
"Apakah jaminan bila aku merubah still dia mau denganku," ucap Ridwan merasa terusik dengan kata-kata Mira. "Biarkan saja dia mau menilaiku seperti apa. Tidak masalah kalau dia tidak suka. Tidak perlu aku memaksakan diri merubah profilku agar dia suka!"
"Bagus, Rid! Laki-laki jangan kalah sama wanita. Cytra bukan satu-satunya wanita di dunia ini. Masih banyak lainnya yang lebih bagus!" Vionita menimpali.
"Kamu gimana sih Von? Tidak suka ya Cytra jadian sama dia!" Mira kaget dan langsung menegur Vionita.
"Carikan gantinya dong, Tante. Habis kayaknya tante tidak suka juga," Ridwan ikut kaget Vionita ternyata tidak mendukung perjodohan yang sudah terancang lama itu.
"Pokoknya jangan khawatir Cytra tidak suka denganmu. Pasti nanti ada gadis lainnya yang cocok denganmu," Vionita meyakinkan kepada Ridwan.
"Jangan sembarangan bicara kamu, Von. Kita kan sudah lama merencanakan menikahkan anakmu dengan anakku, kenapa sekarang kamu berubah pikiran begitu?"
"Saya bukannya berubah pikiran. Saya hanya memberikan solusi bila ternyata Cytra menolak dijodohkan. Mau tidak mau kan harus cari gantinya," jawab Vionita memberikan alasan.
"Bener kata Tante, Ma. Batalkan saja perjodohan yang sudah direncanakan karena Cytra belum pasti mau," kata Ridwan sependapat dengan Vionita.
"Sudah kamu anak kecil tidak usah ikut bicara masalah orangtua ini. Sana masuk saja ke kamarmu!" kata Mira meminta anaknya itu pergi. Karena pembicaraan ke depan akan lebih serius antar orangtua.
"Bener Von kita batalkan saja?" tanya Mira dengan perasaan kecewa, setelah tidak ada lagi Ridwan.
"Kamu jangan kecewa dulu begitu dong, Mer. Maksudku kita serahkan saja pada anak-anak. Jika suatu saat ternyata mereka berjodoh saya pun tidak akan menolak menjadikan mereka suami-istri. Sebaliknya jika mereka tak berjodoh, kemudian Ridwan mendapatkan gadis lain aku juga akan merasa senang hati."
"Ah, kamu pintar Von. Maksudmu biar kamu tidak terbebani oleh perjodohan itu, kan? Karena kamu sendiri sedang serius mengejar calon jodohmu?" Mira menebak apa yang ada dalam pikiran Vionita.
"Kenapa bicaramu beralih ke masalahku?"
"Tapi aku pikir dalam persoalan ini memang cocok bila urusan anak-anak kita serahkan saja pada anak-anak untuk menyelesaikan. Biar urusan orangtua tidak terganggu."
"Dan persoalan pribadi kamu dengan papanya Ridwan perlu kau pikirkan juga, kan. Katanya mau rujuk kembali dengan dia," Cytra meledek.
Mendengar itu Mira langsung menyambar piggang Vionita dan mencubitnya. Vionita pun menjerit geli. Mereka saling ketawa riang menikmati perasaan cinta mereka masing-masing, yang sudah dilakoni separuh jalan.
__ADS_1
Bersambung