
Keluar dari kamar hotel tempat Hanna menginap, Vionita mampir dulu ke resepsionis sebelum pulang ke rumah.
Dari petugas resepsionis ia mendapatkan data bokingan dua kamar atas nama Hanna Aleara warga Australia.
"Dua kamar itu satu untuk dirinya dan satu lagi untuk temannya. Kami tidak tahu siapa teman tamunya itu," kata seorang resepsionis kepada Vionita.
Vionita membatin. Bisa jadi tamunya itu adalah Radita. Tapi Hanna tadi sudah mengatakan tidak bersama Radita. Dia lalu minta tolong seseorang untuk mengawasi. Tapi hingga malam datang tidak ada info penting. Pada kamar yang diawasi tidak ada orang yang keluar atau masuk.
"Nihil Bu. Dari kamar itu tidak ada satu orang pun yang keluar atau masuk," kata pria yang diminta menjadi spionasenya itu.
"Tapi tolong anda awasi kamar 3003. Apakah penghuninya wanita berambut pirang dan bermata biru itu masih tetap berada di dalam atau keluar. Kalau keluar kemana dia pergi anda ikuti saja, dan laporkan kepada saya. Maaf kalau saya banyak mengganggu waktu anda beristirahat," kata Vionita kepada seseorang yang ia mintai tolongi sebagai spionase.
Sebenarnya tak sengaja Vionita bertemu dengan orang itu. Seorang pria yang masih muda sebaya dengan suaminya. Pria itu yang pertama kali menyapanya dengan memanggilnya: "Mamanya Cytra!"
Saat itu Vionita baru memasuki lobi hotel tempat Hanna menginap. Dan pria yang nampak sebagai eksekutip muda itu sedang menunggu mitra kerjanya di loby hotel.
"Ya, saya mamanya Cytra. Anda siapa?" tanya Vionita.
"Saya pernah dikenalkan dengan Ibu oleh Cytra, tapi entah dimana. Saya sudah lupa tidak ingat lagi?" kata pria yang berpenampilan keren itu. Kelihatan ia bukan orang sembarangan.
"Maaf saya buru-buru tidak bisa berlama-lama dengan anda. Bisa saya minta nomor hapenya biar nanti saya sampaikan kepada Cytra," kata Vionita.
"Nomor hape ibu saja saya minta. Nanti kalau ada apa-apa saya hubungi. Saya tidak keberatan kok membantu Ibu," kata pria keren.
Setelah mencatat nomor yang diminta, pria itu kemudian menyilahkan Vionita melanjutkan keperluannya.
Siapa sebenarnya pria yang berpenampilan sebagai eksekutip muda yang mau membantu Vionita itu? Vionita menyesal lupa menanyakan namanya. Karena saat itu sedang fokus menangkap basah perselingkuhan Radita dan Hanna.
Pria itu seperti malaikat yang datang tiba-tiba disaat Vionita yang sedang teraniaya membutuhkan bantuan.
Malam terus merangkak perlahan. Vionita belum juga bisa memejamkan mata di rumah besar seperti istana itu. Benaknya penuh bayang-bayang Radita yang sedang asyik masyuk dengan wanita. Sangat menyayat hatinya membayangkan hal itu.
Dua butir air bening meleleh ke pipinya. Vionita jadi ingat kata-kata Cytra. "Sesuatu yang diperoleh dengan menguasai hak milik orang lain tanpa izin, akan mendatangkan kegelisahan selalu." Begitu kata-kata Cytra yang masih terus terngiang.
Memang kalau diputar ulang, kejadian pernikahannya dengan Radita ada unsur menguasai hak milik orang lain yang dilakukan Vionita. Karena pada saat itu Radita sudah dalam posisi hampir menikah dengan Cytra.
Tapi begitulah keajaiban dalam hidup ini. Apa yang akan terjadi di depan tidak bisa diketahui sebelumnya. Entah apa maksud Tuhan mempertemukan dia kembali dengan Radita. Padahal sudah beberapa tahun tidak ketemu. Satu sama lain sudah saling melupakan. Dan tak pernah membayangkan bakal ketemu kembali.
Deerth...Deerth...Deerth
__ADS_1
Hape Vionita bergetar di atas meja. Dia belum bisa tidur sehingga mendengar getaran di atas meja yang cukup keras itu. Dengan cepat tangannya meraih benda itu. Karena ia kira yang menelpon suami tersayang, yang sangat dirindukannya pulang malam itu.
Tapi Vionita ragu-ragu untuk menerima sambungan telepon tersebut. Karena nomor telepon yang muncul tidak ia kenal. Seperti orang iseng yang mau mengganggu istirahatnya. Maka ia klik tombol tolak.
Beberapa menit kemudian hapenya bergetar lagi. Pasti penelepon yang sama mengganggu lagi. Ternyata benar nomor yang tidak dikenal itu muncul lagi di layar hape.
"Maaf, anda siapa? Malam-malam begini mengganggu orang tidur," seru Vionita kesal.
["Maaf mamanya Cytra, mengganggu sebentar. Saya tadi yang disuruh membantu mengawasi penghuni kamar hotel 3003,"] kata si penelepon kalem.
"Ya, ampuun... Maaf saya lupa saya kira orang iseng. Ya, ya bagaimana ada info penting?" Vionita senang sekali akan ada informasi mengenai suaminya.
["Ndak tahu ini penting atau tidak. Saya melihat Penghuni kamar 3003 itu suah keluar. Kelihatan dia menemui seseorang di parkiran mobil."] kata orang yang ditugasi mengawasi Hanna.
"Apakah anda tidak keliru. Penghuni kamar itu ciri-cirinya berambut coklat keemasan dan bermata biru," kata Vionita mengkroscek ciri-ciri wanita yang sedang diikuti spionasenya.
["Betul sekali wanita ini ciri-cirinya sama seperti yang disebutkan ibu tadi.] jawab orang itu yakin.
"Terus siapa yang ditemui wanita itu?" tanya Vionita tak sabar pingin tahu.
["Sepertinya aku kenal dia, Bu. Kalau tidak salah namanya Radita]"
"Coba cek nomor mobilnya barangkali saja bukan suamiku orang yang anda lihat itu."
["Ini nomor mobilnya, Bu *****. Betul apa tidak?"]
"Oh, benar itu nomor mobil suamiku. Kamu sebenarnya siapa ko kenal dengan Radita?" Vionita masih saja bertanya. Padahal sudah pasti pria yang menjemput Hanna itu adalah suaminya.
["Sudah ya, Bu. Tugas saya sudah selesai. Maaf saya mau meneruskan perjalanan. Saya titip salam saja pada Cytra."]
"Sebentar, anda siapa sebenarnya?" Vionita penasaran.
["Bilang saja salam dari penggemarnya dulu di cafe"]
Setelah bicara seperti itu sambungan telepon ditutup oleh si penelepon misterius itu. Padahal Vionita masih menginginkan informasi selanjutnya. Karena yang disampaikan cuma pertemuan di parkiran hotel. Selanjutnya bagaimana. Apakah mereka pergi berdua atau berdua masuk ke kamar lagi.
Sebenarnya Vionita ingin minta tolong lagi orang itu mengikuti Radita dan Hanna pergi. Tapi ia pikir rasanya tidak pantas pria sekeren itu ia suruh-suruh.
"Ya, sudahlah yang penting sekarang sudah jelas perselingkuhan itu kongkrit adanya," gumam Vionita. Ia tidak perlu lagi mengejar mereka berdua.
__ADS_1
Lalu Vioniya berusaha membunuh bayangan buruk itu dengan memejamkan matanya. Namun berulang kali berusaha tidak juga bisa tidur.
Waktu terus merangkak cepat. Pada dini hari mendekati subuh, Vionita baru bisa tidur sejenak. Kemudian bangun untuk menjalankan solat subuh. Sekarang ingin ia mendekatkan diri pada tuhannya. Sudah lama ia alpa dan jauh dari Tuhan. Mudah-mudahan hal itu bisa mengobati penyakit hatinya.
Pada pagi hari pukul 08.00, ketika Vionita bersiap berangkat ke tempat kerjanya, terdengar di televisi berita kecelakaan maut antara sedan nopol **** dengan truk treler di jalan tol.
Dalam musibah itu disebutkan pengemudi menderita luka parah. Sedangkan penumpangnya seorang wanita tewas di tempat kejadian.
"Inalillahi waina Lillahi rojiun...," Vionita menitikan air mata mendengar berita tersebut.
Dia lalu menelpon Cytra yang masih berada di Bali dan kerabat keluarga lainnya.
Pada sore hari Cytra baru bisa sampai di rumah duka ditemani oleh Alberto. Dari rumah itu mereka bersama-sama ke rumah sakit tempat Radita dirawat. Sementara jenazah Hanna sudah disemayamkan di kamar mayat.
"Saya nanti yang akan membawa jenazah Hanna ke orangtuanya di Australia," kata Alberto kepada Cytra.
"Hati-hati ya sayang di jalan. Nanti kabari saya kalau sudah sampai disana," kata Cytra.
Esok harinya Vionita kaget melihat orang yang mau membantunya menjadi spionase ada di samping Radita yang menderita luka parah. Di kamar perawatan rumah sakit itu ada pula Cytra.
"Siapa dia, Cy?" tanya Vionita.
"Ibra, Ma. Dia katanya melihat kecelakaan itu terjadi. Katanya Mama yang menyuruh dia untuk mengawasi mereka berdua?" tanya Cytra.
"Ya, Betul dia yang kusuruh mengawasi mereka," jawab Vionita.
"Dia teman lama Cytra, Ma."
"apakah dia dulu yang kamu bilang mau menikah denganmu itu?" tanya Vionita mengingatkan kembali saat-saat manis Cytra dan Ibra.
"Ibralah dulu yang membantu aku pulang setelah hampir saja ditabrak treler. Kemudian menjadikanku sebagai wanita terakhir yang akan dinikahinya. Betul begitu kan, Sayang," kata Cytra.
Ibra cuma mengangguk sambil tersenyum manis. Penampilan pria ini jauh berbeda dengan yang dulu. Sekarang nampak lebih dewasa dan menjadi orang yang berhasil di sebuah perusahaan.
"Kalian berdua memang sudah berjodoh. Buktinya sudah lama berpisah kini bertemu lagi. Itu namanya kalian memang sudah berjodoh," kata Vionita.
Ibra tersenyum manis. Cytra juga.
TAMAT
__ADS_1