
Dokter Ferry dan dokter Sifa sedang duduk di sudut salah satu restoran mewah di kota itu.
"Sifa." panggil dokter Ferry.
"Hmm." dokter Sifa menjawab dengan ekspresi wajah yang tidak suka.
"Maaf membuat tak nyaman." ucap dokter Ferry.
"Itu kamu tau." jawab dokter Sifa ketus.
"Aku hanya ingin tahu perasaan mu kepadaku sebelum aku pergi." dokter Ferry menatap mata dokter Sifa.
"Untuk apa?" tanya dokter Sifa sambil membuang wajah melihat tatapan dokter Ferry.
"Agar aku bisa pergi tanpa beban di sini." ucap dokter Ferry sambil menunjuk dadanya.
"Cintaku sudah hilang saat kamu pergi dulu Fer." dokter Sifa berkata seraya berdiri meninggalkan dokter Ferry.
"Tunggu Sifa." dokter Ferry bangkit menarik tangan dokter Sifa.
"Bisakah aku minta satu hal saja." pinta dokter Ferry.
Dokter Sifa hanya memandang dokter Ferry
"Satu hal saja." dokter Ferry menatap dokter Sifa dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Katakan!" jawab dokter Sifa.
"Ijinkan aku datang ke rumah mu besok sebelum aku pergi." ucap dokter Ferry penuh harap.
"Baiklah." jawab dokter Sifa melepaskan tangan dokter Ferry dan langsung pergi meninggalkan restoran itu.
- - -
Davian dan Sam baru saja selesai meeting, Davian tersenyum bahagia, karena jadwalnya di luar negeri lebih cepat satu hari dari rencana awal.
"Aku angkat telfon dulu Dav." ucap Sam menjauh dari Davian.
"Apa dari kekasih mu?" jawab Davian menggoda Sam.
Sam hanya menjawab dengan senyuman
"Bagaimana?" ucap Sam setelah mengangkat telfon.
"Dia adalah kekasih dokter Sifa." jawab seseorang di ujung sana.
"Ceritakan." perintah Sam.
Orang itu mulai bercerita tentang dokter Ferry dan dokter Sifa.
Dokter Ferry adalah kekasih dokter Sifa saat mereka kuliah kedokteran dulu, hubungan mereka sudah terjalin sejak awal perkuliahan hingga sama sama menyelesaikan perkuliahan, saat itu dokter Ferry mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, dokter Sifa sebenarnya tidak setuju tapi dokter Ferry tetap memaksa, akhirnya dengan berat hati dokter Sifa menyetujui, pada awalnya hubungan mereka baik baik saja hingga akhirnya dokter Sifa mengetahui bahwa dokter Ferry memiliki hubungan dengan wanita lain di sana, akhirnya dokter Sifa memutuskan semua komunikasi dengan dokter Ferry tanpa ada kata putus dan mereka kembali bertemu di rumah sakit.
__ADS_1
"Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu dengan rapi." perintah Sam setelah mendengar laporan dari orang suruhannya.
"Baik." panggilan berakhir Sam kembali ke dalam ruang meeting tempat Davian menunggu.
Sam menghampiri Davian dengan muka masam
"Apa kekasihmu merajuk?" tanya Davian melihat muka Sam yang masam.
"Hanya teman." jawab Sam singkat.
Sam memilih tidak mengatakan masalah dokter Sifa kepada Davian, dia ingin semua jelas dulu, bagaimana pun Sam tahu bahwa Davian sangat mencintai dokter Sifa, bahkan melebihi saat Davian bersama Andini dulu.
"Siapkan semuanya Sam, kita langsung pulang." ucap Davian ketika mereka keluar dari ruang meeting.
"Apa tidak istirahat dulu Dav?" tawar Sam.
"Aku sudah rindu dengan Sifa." ucap Davian sambil tertawa.
"Semoga dokter Sifa mengambil keputusan yang tepat," ucap Sam dalam hati melihat tawa dari Davian.
- - -
Dokter Sifa baru tiba di rumahnya, dia membuka ponselnya untuk melihat apakah ada pesan dari Davian.
"Apa kamu sesibuk itu," gerutu dokter Sifa setelah melihat ponselnya.
__ADS_1
Keesokan harinya dokter Sifa sedang bersantai di rumah karena hari ini dokter Sifa libur.
"Masuk." ucap dokter Sifa setelah membuka pintu dan melihat dokter Ferry ada di depan.