
Setelah Radita masuk ke kamarnya Cytra beranjak berdiri dari kursi ruang tengah itu dan berjalan ke kamar Putra. Ternyata disana cuma ada Sanjaya yang tiduran di ranjang sambil main mobil-mobilan.
"Kakak Putra dimana, Dek?" tanya Cytra.
"Tidak tahu!" seru anak itu sambil terus bermain.
"Lho, tadi kelihatannya lari masuk ke kamar," Cytra memeriksa di sudut samping lemari barangkali sembunyi disitu. Juga kolong meja dan tempat tidur. Tetapi tidak dilihatnya anak genius itu.
Cytra lalu keluar dari kamar anaknya itu mencari ke ruangan dan sudut-sudut lainnya yang ada di rumah besar seperti istana itu, juga tidak ada para asisten rumah tangga yang melihat Putra.
Cytra lalu berjalan ke halaman belakang. Ketika ia melewati gudang tempat penyimpanan barang-barang yang sudah tak digunakan, tiba-tiba mendengar suara isak tangis anak kecil di dalam gudang.
Cytra lalu membuka pintu gudang yang tidak dikunci. Ternyata Putra ada di dalam gudang yang gelap dan pengab itu. Dia duduk di lantai yang kotor karena debu. Sedangkan tangannya memegang mainan robot yang sudah rusak.
Tangan dan kaki mainan itu sudah patah tidak utuh lagi. Begitupun pada bagian perutnya sudah remuk tidak karuan.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Cytra merangkul anak itu.
Putra menatap mamanya sebentar lalu memperhatikan lagi mainan yang tidak mungkin bisa digunakan lagi. Kelihatannya mainan itu bekas dibanting atau sengaja di rusak oleh tangan usil.
"Oh, kamu pingin mainan yang seperti itu lagi?"
Putra menggeleng sambil tetap terisak.
"Mainan ini sudah rusak. Tidak bisa digunakan lagi. Ayo keluar dari sini kotor," ajak Cytra sambil mengangkat bahu Putra.
"Kakak Radita jahat. Putra tidak mau punya papa dia," rengek Putra tak mau berdiri.
"Kakak Adit sekarang sudah baik sama Mama. Dia tidak akan mengusir Mama lagi dari rumah ini," bujuk Cytra.
"Kakak Adit jahat, tidak mengganti mainan Putra yang sudah rusak ini."
"Mainan yang mana? Robot ini?" Cytra memegang mainan di tangan Putra yang sudah rusak itu.
Putra mengangguk.
"Kamu kurang hati-hati jadi mainan ini rusak parah begini," kata Cytra sambil mengamati mainan itu dengan seksama. Kelihatannya mainan itu bukan rusak biasa. Tetapi seperti sengaja dirusak.
__ADS_1
"Kakak yang merusak mainan ini," kata Putra masih terisak.
Cytra diam sejenak. Sepertinya ada masalah besar antara Putra dengan Radita sampai mainannya rusak parah begitu. Dan tadi Putra nampak trauma menatap mata Radita yang tajam kepadanya. Hingga dia lari ke gudang. Tapi Cytra mengira masuk ke kamarnya sendiri.
"Kenapa Kakak merusak mainanmu sampai rusak begini?"
Putra menggeleng.
"Ya, sudah nanti Mama bilang sama Kakak agar mengganti mainanmu yang sudah dirusak seperti ini. Tapi Putra harus segera keluar dari tempat kotor ini.
"Jangan Ma. Nanti putra dipukul," putra nampak ketakutan.
"Dia tidak berani memukul kamu lagi karena sekarang ada Mama," tangan Cytra menepuk-nepuk bahu Putra agar rasa percaya dirinya tumbuh lagi.
Setelah berkata begitu putra mau diajak berdiri dan keluar dari gudang.
Dalam benak Cytra masalah Putra itu harus dia selesaikan dengan Radita. Walaupun kelihatan sepele mungkin hal itu yang membuat Putra tidak mau kalau Radita menikah dengannya.
Maka usai makan malam, Cytra minta Radita jangan beranjak dulu dari meja makan karena dia mau bicara. Sedangkan anak-anak sudah makan lebih dulu dengan babysitternya masing-masing.
"Ada apa sih kelihatannya serius sekali?" Kaget Radita karena tidak biasanya Cytra mengajak ngobrol.
"Kenapa kau tanyakan soal anak-anak lagi. Bukankah sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas," Radita meremehkan apa yang akan dibicarakan Cytra.
"Memang kelihatannya itu sepele. Tapi menurutku kita perlu mengingat lagi masa lalu, kesalahan-kesalahan apa yang pernah kita lakukan. Agar kita bisa memperbaikinya sekarang hingga membuat lapang jalan kita ke pernikahan."
"Aku kan sudah mengakui bahwa sikapku dulu salah dan sudah minta maaf kepadamu."
"Ya, hal itu memang kita sudah saling memaafkan. Tapi yang kumaksud adalah kesalahan masa lalu kita kepada anak-anak."
"Aku kira aku tidak punya kesalahan kepada anak-anak. Kebutuhan mereka semua sudah aku penuhi."
"Memang aku lihat kamu penuhi semua kebutuhan mereka tanpa ada yang kurang. Sampai kau sediakan untuk mereka pengawal kalau bepergian."
"Setiap harinya aku sangat perhatian kepada mereka. Memang kadang aku bersikap keras kalau mereka nakal. Apa mungkin itu yang kau maksudkan aku punya kesalahan dalam mengasuh mereka."
"Mungkin sikap keras itu yang kadang membuat anak trauma."
__ADS_1
"Apakah ada tanda-tanda yang menunjukkan pada anak-anak punya gejala seperti itu?"
"Tadi sore saya temukan Putra di dalam gudang menangis memegang mainan robotnya. Kelihatan dia sangat menyesalkan kenapa mainan yang sangat ia sukai itu rusak parah. Tidak bisa digunakan lagi," kata Cytra sambil melihat reaksi dari Radita.
"Ya, ampuuun... aku ingat. Ya aku ingat mainan itu aku yang merusaknya dengan kubanting ke lantai," Radita teringat kejadian di masa lalu itu.
"Bagaimana awalnya bisa terjadi seperti itu?"
"Waktu itu saya pulang dari tempat kerja dalam keadaan sedang marah karena karyawan tidak ada yang beres bekerja. Sampai di rumah kulihat Putra sulit sekali disuruh mandi. Babysitter kuwalahan menghentikannya bermain robot elektronik itu. Maka dengan sangat emosional aku tangkap saja tangannya dengan kasar. Dan robot di tangannya aku banting ke lantai."
"Masya Allah. Makanya jangan kasar-kasar dengan anak. Tuh dampaknya sampai sekarang masih terasa dalam diri Putra. Dia merasa trauma dengan sikap kasarmu itu."
"Apa mungkin traumanya itu yang membuat dia menolak aku jadi papanya?"
"Mungkin juga."
"Terus gimana apa yang harus aku lakukan agar traumanya itu hilang?"
"Aku tidak tahu. Tapi menurutku kalau kamu dari sekarang mulai berbaik hati kepadanya sedikit demi sedikit traumanya itu akan hilang."
"Apa sekarang Putra kita ajak beli mainan robot yang sama. Ini masih pukul 19.00. Toko mainan masih buka."
"Sanjaya kita ajak sekalian?"
"Iya dong. Masa mereka kita tinggal sendirian di rumah."
"Ok. Aku mau ganti baju dulu."
Beberapa menit kemudian Radita, Cytra dan dua anaknya meluncur ke toko mainan yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah mereka.
Sesampainya di toko itu Putra dan Sanjaya dengan riang gembira langsung menyerbu ke tempat aneka ragam mainan yang dipajang di etalase.
Pada saat anak-anak sedang memilih mainan yang ia sukai, Cytra melihat sekelebatan bayangan Ibra keluar dari toko itu juga. Entah mainan apa yang di bawanya dalam kardus besar itu.
Cytra cepat mengalihkan perhatian Radita ke arah lain agar tidak melihat Ibra. Langkahnya berhasil. Hingga Putra dan Sanjaya mendapatkan mainan yang dipilih sendiri, dan Radita membayarnya di kasir, mereka tidak dampai bertemu dengan Ibra.
Tapi di dalam perjalanan pulang Cytra masih pikiran dengan Ibra. Untuk apa dia beli mainan. Cytra jadi curiga jangan-jangan pria itu beli mainan untuk diberikan kepada Putra.
__ADS_1
Aku harus hati-hati menjaga putra. Jangan sampai terpengaruh lagi oleh rayuannya untuk menolak Radita menjadi papanya, gumam Cytra dalam hati.
Bersambung