
Kepergian Cytra ke Bali kali ini pada dasarnya ingin ia tunjukan kepada Radita bahwa dia bisa hidup mandiri dengan dua anak.
Namun kenyataanya dalam satu hari ini justru ia sangat direpotkan dan dibuat pusing oleh mereka.
Putra dan Sanjaya maunya cuma bermain terus dan bersenang-senang. Sementara Cytra harus bekerja dan konsentrasi dengan tugasnya sebagai pemimpin perusahaan. Sungguh memusingkan sekali dua hal yang wajib dipenuhi semuanya itu.
"Salahku sendiri kenapa mau repot begini. Semestinya aku hadapi saja apa mau Radita.
Dia pasti tertawa melihat keadaanku saat ini," Cytra bicara sendiri di kamar hotel itu.
Ternyata tidak enak juga menjadi orang yang teraniaya. Begitu pikirnya. Dulu ketika dia mengkhianati Vionita, mungkin Mamanya itu merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya sekarang. Sebal, marah, benci dan sedih bercampur jadi satu.
Malam baru saja lewat tapi kedua anak Cytra sudah tertidur lelap. Mungkin karena kelelahan bermain seharian penuh.
Sambil bekerja dengan laptopnya, Cytra sesekali memandang kedua anaknya yang sedang tidur lelap. Muncul perasaan kasihan kepada mereka. Lalu ia dekati dan ia elus-elus kepala mereka.
Tak diduga oleh Cytra ternyata Putra belum tidur. Ia membuka matanya dan tersenyum kepada Cytra. Mungkin senyuman yang bermaksud menghibur Mamanya. Tetapi justru Cytra merasa terharu dan menitikkan air mata.
"Mama menangis?" ucap Putra.
Cytra segera menghapus matanya yang basah.
"Mama tidak menangis, mata Mama mungkin kelelahan karena menatap layar monitor berjam-jam," kilah Cytra tidak mau menampakan keterharuan melihat anaknya ikut menderita karena langkahnya yang salah.
"Ma.... Putra mau pulang. Putra mau sekolah besok," kata anak genius itu mengagetkan Cytra.
Kenapa pulang? Bukankah ia sudah bertekad untuk tidak pulang dan menginjak rumah besar seperti istana itu sampai kapanpun.
"Kamu mau tinggal bersama kakak Radita lagi?" tanya Cytra berusaha riang agar tidak ingin Putra tahu pikiran dan hatinya yang sedang keruh.
"Iya, Ma. Kalau Putra ikut Mama, nanti Mama tidak bisa kerja?" kata anak genius itu lagi.
"Oh, My God. Maafkan Mama ya, Nak. Mama kok tidak memikirkan sejauh itu."
"Kalau Mama belum bisa pulang, biar Putra pulang sendiri aja."
Bagaimana ini? Cytra berpikir. Tidak mungkin putra pulang sendiri, atau diantar oleh Pak Ob. Tidak pantas kalau dia tidak mengantarnya. Nanti bisa dituduh orangtua tidak bertanggung jawab menelantarkan anaknya oleh Radita.
Tetapi kalau Putra pulang bersamanya, dan bersama lagi dalam satu rumah, sama saja artinya sama saja memaafkan Radita. Sungguh pilihan yang sulit.
Rasanya belum puas kalau Cytra belum membalas perlakuan Radita. Mestinya di rumah Tante Mira itu langsung ia tendang bokong mereka karena ketahuan berbuat cabul di rumah orang!
"Boleh ndak, Ma?" tanya Putra mengagetkan Cytra.
__ADS_1
"Ma-Mama belum tahu," jawabnya gugup.
"Kemarin sudah bolos tidak masuk sekolah, besok tidak masuk lagi," gerutu Putra.
"Tidak apa-apa, Mama sudah nyuruh Mbak Ijah untuk minta ijin ke sekolah. Jadi tidak apa-apa kalau kamu tidak masuk beberapa hari," Cytra berusaha merayunya agar tidak ingat lagi pulang ke rumah besar seperti istana itu.
"Tapi Putra sudah bosan disini, Ma!" Putra menyeru kelihatan kesal.
Cytra diam nampak bersedih di depan anaknya itu. Dalam hati ia tidak ingin anaknya itu tahu alasannya pergi ke Bali karena kejadian yang menyakitkan itu.
"Mama besok mau lihat dulu masih ada pekerjaan tidak di kantor. Kalau tidak ada besok kita pulang," kata Cytra beralasan.
Akhirnya Putra mau mengerti dan diminta untuk tidur oleh Mamanya.
Setelah mematikan laptop Cytra ikut merebahkan badannya di samping Putra. Meluruskan kaki dan tangannya yang terasa pegal karena lelah.
Pagi harinya setelah Cytra mandi dan berdandan begitu juga Putra dan Sanjaya, tidak disangka-sangka datang ke kamar hotelnya Pak Ob dan keponakannya Bu Winar serta anaknya Boy.
"Boy pingin kenalan sama Putra. Kebetulan sekolahnya libur hari ini," kata Winar kepada Cytra.
Cytra menyambutnya gembira. Karena hal itu bisa melupakan putra tidak minta pulang lagi.
Dua anak kecil itu setelah berkenalan langsung akrab bermain bersama. Sedangkan Winar dan Cytra ngobrol di beranda kamar hotel yang cukup lebar itu. Sementara Pak Ob kembali ke loby hotel menunggu perintah bosnya.
"Untung Ibu ajak Boy datang kesini. Kalau tidak Putra pasti minta pulang ke Jakarta. Karena dari tadi malam dia sudah merengek-rengek terus," kata Cytra.
"Kenapa saya tidak boleh pulang dulu. Apakah ada yang perlu dibicarakan dengan saya?"
"Iya, ada Bu. Tapi Bu Cytra jangan tersinggung ya. Teman Bapak yang namanya Muhammad Ridwan itu pingin kenalan dengan Bu Cytra."
"Lho kemarin kan sudah kenalan dengan saya."
"Iya sih. Tapi ini katanya pingin bicara empat mata dengan Bu Cytra."
"Mau bicara soal apa, Bu?" Cytra pura-pura tidak paham. Padahal dia bisa memperkirakan apa yang diinginkan pria tampan itu.
"Ya, saya tidak tahu, Bu," jawab Winar lugu.
"Terus dimana dia sekarang?"
"Di loby hotel sedang bersama Om Obi. Bu Cytra kesana saja biar saya temani anak-anak disini. Tidak apa-apa kan?"
"Ya tidak apa-apa. Maaf kamarnya masih berantakan belum saya bersihkan."
__ADS_1
Setelah bicara begitu Cytra melangkah ke loby hotel. Disana Pak Ob dan pria itu kelihatan sedang duduk berbincang-bincang. Nampak pria yang mirip sekali dengan Ridwan anaknya Tante Mira itu bersikap lebih hamble. Tidak kelihatan angkuh seperti kemarin. "Biasa laki-laki kalau sedang ada maunya," gumam Cytra.
"Hai! Cytra ya?" sapa pria itu.
"Sudah tahu saya Cytra dari kemarin masih tanya lagi," cuek dan lepas saja Cytra menjawab sapaan pria itu.
Ridwan nampak gugup sebentar lalu mengajak Cytra duduk. Sedangkan Pak Ob pamitan pergi.
"Bagaimana ada bisnis untuk saya?" Cytra membuka obrolan dengan basa-basi.
"Nyonya bergerak dalam bidang apa?" tanya pria itu.
"Bisnis saya di bidang kontruksi dan engineering. Tapi sebelum membicarakan hal itu. Panggil saja saya Cytra. Saya masih muda kok, mungkin masih sebaya dengan kamu." Cytra tidak mau dituakan karena memang tak jauh beda usianya dengan Ridwan.
"Oya ma-maaf. Kamu memang masih kelihatan muda dan cantik," pria itu jadi lebih santai di hadapan Cytra. Walaupun masih kelihatan kegugupannya.
Kata masih muda dan cantik itu cukup membuat Cytra yakin bahwa pria di depannya itu memang benar sedang naksir padanya.
"Kalau kamu bekerja di bidang apa?"
"Saya bisnis di bidang ritel. Papa yang punya mall kok, saya cuma diberi tugas untuk menjalankan saja."
Aneh. Cowok yang kemarin kelihatan angkuh itu kini jadi polos begitu bicaranya. Pikir Cytra.
"Oh, jadi kamu punya Mall. Dimana itu?"
"Di pusat perdagangan "G". Barangkali kamu pernah kesana."
Cytra masih ingat waktu mengantar Putra menghadiri ulang tahun temannya di Mall tersebut. Dan waktu itu ia berjumpa dengan Ridwan anaknya Tante Mira. Ridwan selengean dan berpenampilan urakan kayak seniman.
"Apakah kamu punya saudara, keponakan atau adik yang namanya juga Ridwan?" tanya Cytra penasaran.
"Ya, saya punya adik yang namanya Maulana Ridwan. Anaknya urakan. Apakah kamu sudah kenal dia?"
Kaget juga Cytra mendengar pengakuan itu.
"Belum kenal jauh sih. Cuma baru bertemu dua kali di rumahnya Tante Mira. Dan kedua di Mall itu."
"Kami kakak beradik beda ibu. Dia memang anaknya Tante Mira, istri Papa kedua tapi sudah cerai."
Cytra kaget lagi.
Terbongkar sekarang sosok dua Ridwan yang berbeda itu. Hanya wajahnya saja yang hampir sama. Baik hidung, bibir maupun matanya.
__ADS_1
Tapi Cytra belum ingin berpikir lebih jauh dari sekedar perkenalan. Masalahnya dengan Radita yang harus dipikirkan lebih dulu. Ternyata betul juga Putra mengajaknya pulang.
Bersambung