
Davian hanya diam di dalam mobil, tidak ada raut kesedihan di wajahnya, sangat berbeda ketika Andini memilih Aditya dan memutuskan Davian.
"Kamu mau ke rumah atau bagaimana Dav?" tanya Sam.
"Ke rumah saja." jawab Davian singkat.
- - -
Dokter Sifa masih menangis di dalam pelukan dokter Ferry setelah kepergian Davian
"Dia orang baik Sifa, dia pasti akan menemukan kebahagiaan nya sendiri." ucap dokter Ferry berusaha menenangkan dokter Sifa.
"Besok kita urus semuanya, aku akan menemui orang tuamu dan menikahi mu, kamu ikut aku ke luar negeri." dokter Ferry menuntun dokter Sifa untuk duduk di sofa ruang tamunya.
- - -
Davian menjalani hari hari nya seperti biasa, tidak ada yang berubah dengan rutinitas Davian, hanya sikap Davian saja yang berubah, sebelumnya Davian di kenal sebagai orang yang sangat ramah, sekarang untuk menunjukkan senyum saja sangat susah.
Sam tetap setia berdiri di belakang Davian kemana pun Davian pergi, Sam tidak pernah membahas masalah dokter Sifa lagi, dia sudah sangat tahu bagaimana Davian, Sam hanya mengingatkan Davian ketika Davian sudah di luar batas, bagaimana pun Davian sangat hancur ketika mendengar penuturan dokter Ferry dan dokter Sifa.
Pagi ini Davian menuju kantor dengan Sam seperti biasa, sesampainya dikantor dia berjalan menuju lift dengan Sam berada di belakangnya
"Pagi pak." sapa resepsionis dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
Davian hanya mengacuhkan mereka bahkan melirik saja tidak.
"Kenapa pak Davian sekarang menjadi dingin seperti Sam." ucap salah satu resepsionis kepada rekannya.
Davian yang mendengar hal itu langsung berhenti dan berbalik arah dengan tatapan tajam.
"Kalian di bayar untuk bekerja bukan untuk membicarakan orang." bentak Davian yang membuat semua orang yang ada di loby terkejut.
Wajah kedua resepsionis langsung berubah menjadi pucat.
Davian kembali berjalan menuju lift sedangkan Sam menghampiri resepsionis itu.
"Jangan pernah bicara sembarangan, bahkan dia bisa mendengar suara detak jantung kalian." ucap Sam dengan ekspresi datar tapi begitu mengerikan.
"Maaf pak." jawab kedua resepsionis bersamaan dengan kepala tertunduk.
"Pagi Dav." sapa Aditya ramah.
"Hem," jawab Davian sembari duduk di kursinya.
"Ada apa?" tanya Davian setelah duduk di kursi.
Aditya menyodorkan undangan di depan Davian
__ADS_1
"Undangan pernikahan ku dengan Andini." ucap Aditya setelah menyodorkan undangan
Davian hanya melirik saja.
"Baiklah." jawab Davian tanpa menyetuh undangan itu sama sekali.
"Aku permisi Dav." ucap Aditya.
Aditya awalnya bingung dengan perubahan sikap Davian, Sam kemudian menjelaskan semuanya setelah Aditya bertanya, tapi Sam meminta Aditya jangan mengatakan kepada siapapun jika tidak ingin melihat menjadi lebih mengerikan.
"Dit." panggil Davian ketika Aditya sudah melangkah menjauh dari mejanya.
"Kenapa Dav?" tanya Aditya berbalik menghampiri Davian.
"Apa om Wisnu memperlakukan mu dengan baik?" ucap Aditya sambil bersender di kursinya.
Aditya diam sesaat dia bingung dengan maksud Davian
"Ya seperti biasa." jawab Aditya ragu.
"Sampaikan padanya untuk bersikap manis atau aku tidak akan mengampuni nya lagi walau dia mertua mu." kata kata Davian langsung membuat Aditya melotot, dia tidak menyangka Davian benar benar berubah.
"Baik Dav." jawab Aditya dengan wajah pias.
__ADS_1
"Pergilah." ucap Davian.
Aditya pergi dengan berbagai tanda tanya di kepalanya, dia takut dengan ucapan Davian karena Aditya tahu bagaimana sifat tuan Wisnu, di sisi lain walaupun Davian sekarang bersikap dingin tapi dia tetap baik kepada Aditya.