
Setelah diperiksa oleh dokter, Cytra ternyata menderita penyakit tipes. Suhu tubuhnya tinggi sampai 40 derajat celcius hingga demam. Maka harus mondok beberapa hari di rumah sakit untuk menjalani perawatan.
"Sekarang kau pulang saja. Terimakasih sudah mengantarku sampai ke kamar perawatan ini," kata Cytra dengan kondisi sudah berbaring di kamar perawatan.
"Tidak tega meninggalkanmu sendiri dalam keadaan tak berdaya begini," kata Radita yang berdiri di samping Cytra.
Sementara Pak Jono duduk di kursi agak jauh dari mereka.
"Tapi kamu harus pulang, Mas. Sudah lama kau meninggalkan Vionita sendirian di rumah, kasihan."
"Tidak apa-apa. Dia tahunya kalau aku sedang di kantor."
"'Jangan begitu dong, Mas. Nanti terjadi konfrontasi antara dia dan aku lagi."
"Ya, sudah aku pulang, ya. Kau baik-baiklah disini."
"Tidak apa-apa. Sebentar lagi para asistenku juga pada datang."
"Oya, sampai lupa. Bukankah mobilku masih tertinggal di rumahmu."
"Pak jono kan mau pulang, kau ikut dia saja untuk mengambil mobilmu. Pak Jono nanti antar Tuan Radita, ya?"
"Ya, Nyonya," jawab Pak Jono.
Kita tinggalkan dulu Pak Jono yang mengantar Radita mengambil kendaraannya di rumah Cytra. Sementara jauh di rumah Radita, istrinya yang tersayang, Vionita, sedang gelisah menunggunya pulang.
Benar kata Cytra tadi, Radita terlalu lama pergi. Sehingga Vionita berprasangka yang tidak-tidak.
Wanita yang dinikahi setelah insiden persetubuhan di rumah Tante Mira, itu berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya karena saking gelisahnya.
Jam 19.00 mestinya Radita sudah berada di rumah. Tetapi kenapa belum juga tampak batang hidungnya. Jangan-jangan dia mampir ke rumah Cytra! Pikir Vionita.
"Hidup saya tidak tenang, seperti dikejar-kejar dosa kalau belum bertemu dengannya untuk minta maaf," kata Radita suatu hari.
"Kita kan sudah berusaha mencari keberadaannya, ingin bertemu dengannya. Tapi belum beruntung. Habis bagaimana lagi," kata Vionita menenangkan suaminya.
"Saya sendiri heran kepadamu, kelihatan seperti tidak ada beban dalam hidup ini," tanya Radita heran dengan sikap istrinya yang begitu gampang melupakan insiden tersebut.
"Beban hidupku dulu hanya satu. Karena batal kau nikahi. Sekarang setelah kau menjadi milikku sudah tidak ada lagi beban apa-apa dalam hidup ini," papar Cytra.
"Tapi ketenangan hidup itu kau peroleh dengan mengorbankan anakmu sendiri. Apakah hal itu tidak menjadikan beban dalam hidupmu?" tiba-tiba Radita bicara menyengat.
"Sebenarnya sih aku kasihan juga kepada Cytra. Tapi masa dia tidak merelakan sedikit ke kahagiaannya untuk diriku, ibunya sendiri," Vionita tidak mau mengakui kesslahannya.
"Tapi kau memintanya tidak dengan cara baik-baik." Radita menyerangnya lagi
__ADS_1
"Apakah kau mau mengatakan bahwa aku telah berbuat yang tidak baik terhadap Cytra?" Vionita merasa tersinggung menanggapi kalimat suaminya.
"Bukan-bukan begitu maksudku," Radita berusaha menenangkan perasaan istrinya.
"Maksudmu aku mendapatkan kamu dengan cara tidak baik?"
"Baik sih tapi lebih baik lagi bila diawali dengan pembicaraan lebih dulu dengannya."
"Dulu dia mebyerobot suamiku tanpa melalui rundingan terlebih dahulu. Tiba-tiba saja dia mengatakan telah berhubungan intim dengan Samyokgie. Apakah cara seperti itu baik menururmu?"
"Cytra memang pernah berbuat salah kepadamu. Tapi itu kan dulu sekali. Aku kira kau sudah memaafkannya."
"Aku memang sudah memaafkannya. Dan sekarang aku mendapatkan kamu tidak ada kaitannya dengan masalah itu. Kita bertemu dan sekarang sudah menjadi suami istri karena memang sudah takdirnya."
"Ya, memang begitulah. Aku menikahimu karena memang jodohku adalah kamu," kata Radita menutupi perasaannya yang sebenarnya.
Di lubuk hati Radita yang terdalam sebenarnya dia keberatan meninggalkan Cytra dan menikah dengan Vionita.
Maka Radita ngin sekali bertemu dengan Cytra untuk minta maaf. Sayang Cytra langsung menghilang sejak melihat dengan mata kepala sendiri calon suaminya itu meniduri Vionita.
Setelah tiba dari rumah sakit malam itu, Radita buru-buru mengambil mobilnya yang ia tinggal di rumah Cytra. Lalu ia pamitan dan mengucapksn terimakasih kepada Pak Jono.
Sepanjang perjalanan pikirannya tertuju kepada Cytra yang terbaring sakit di rumah sakit dan Vionita yang sudah pasti akan marah karena pulang terlambat.
Benar apa yang diperkirakannya. Vionita sudah menghadang di depan pintu ketika Radita turun dari mobil. Radita berjalan mendekati pintu dengan perasaan was-was.Barangksli istrinya itu pasti sudah tahu kalau dia baru saja bertemu dengan Cytra.
"Ya, selamat malam. Kok terlambat sih mas pulangnya," tanya Vionita curiga.
"Pekerjaan di kantor banyak sekali," jawab Radita sambil menyalami Vionita dan cipika cipiki.
"Saya masak kesukaan Mas Radit. Gulai kakap dan sambal goreng petai," kata Vionita dengan wajah manis. Berbeda dengan yang dicemaskan Radita tadi.
"Sip! Kebetulan aku sedang lapar," kata Radita senang.
Dia memang merasa lapar sekali. Karena sejak siang belum sempat makan apa-apa karena mengurusi Cytra periksa dan membawanya masuk ke rumah sakit untuk perawatan.
Di meja makan Vionita memperhatikan suaminya yang sedang makan dengan lahapnya.
"Itu yang masak saya sendiri, Mas. Enak tidak?"
"Enyak...enyak," jawab Radita sambil mengunyah.
"Sepertinya kau kelaparan sekali. Apa tadi di kantor tidak ada makanan?" tanya Vionita.
"Ada tadi."
__ADS_1
" Kenapa kau seperti belum makan seharian?"
"Sudah-sudah makan tapi lapar lagi."
"Pasti tadi kamu bersama Cytra sampai lupa makan," kata Vionita mengejutkan.
"Uheukh...hukh...hukh!!" Radita tersedak makanan yang dikunyah muncat keluar.
"Gimana sih makannya...Ingat Cytra ya?!" tanya Vionita curiga sambil mengulurkan segelas air putih.
"Tidak tahu nih tiba-tiba kok tersedak," ucap Radita menutupi perasaannya yang gugup. Kemudian menyudahi makannya yang masih tersisa sedikit di piring.
"Benar kan kamu seharian bersama Cytra. Aku dari tadi sudah menebaknya begitu."
"Cytra sakit sekarang dirawat di rumah sakit," Radita mencoba ngeles.
"Saya tidak tanya ada apa dengan dia. Jawab dengan jujur kamu bertemu Cytra kan?"
Radita tidak punya kesempatan lagi untuk membantah. Maka diakuinya dengan mengangguk.
"Mas! Kau benar bertemu Cytra?" tanya Vionita mengulang. Ingin tahu lebih jelas.
"Ya, saya tadi bertemu Cytra." Radita akui percuma saja berbohong. Toh nantinya akan tahu juga.
"Di rumah atau di jalan?"
"Di rumah."
"Berarti seharian kau berduan di rumahnya. Sampai berapa ronde kau main dengannya?" Tuduh Vionita sembarangan.
"Hai! Tuduhanmu itu ngawur. Mengapa kau jadi menyebalkan begitu. Bertanya seperti penyidik," kata Radita jengkel.
"Habis Mas sudah berani berbohong kepadaku!"
Seru Vionita kedua matanya basah menangis.
"Saya sudah jujur mengatakan bertemu dia. Kenapa masih kau bilang aku berbohong?"
"Kamu berbohong katanya ke kantor. Ternyata mampir ke rumah Cytra sampai malam begini. Pasti ada sesuatu yang kau perbuat disana," air mata yang mengambang itu akhirnya menetes deras.
"Jangan berprasangka yang tidak-tidak dulu. Saya lama disana karena Cytra butuh pertolongan. Saya cuma mengantar ke dokter dan opname di rumah sakit," Radita jelaskan kronologisnya.
"Kenapa tidak menelpon aku. Kalian cuma cari-cari alasan saja agar leluasa bisa berduan!" Vionita tidak mau mengendorkan amarahnya.
"Cytra sakit, Sayang. Masa saya tinggal pergi dalam keadaan dia tak berdaya begitu! Dimana letak belas kasihanmu anak yang sedang sakit kau tuduh berbuat yang tidak-tidak!" Radita ikut emosi.
__ADS_1
Vionita tidak kuat lagi bicara. Perasaan cemburu, kecewa dan merasa bersalah campur aduk di dalam dadanya.
Bersambung