
Davian duduk menunggu di dalam boutique, sudah hampir satu jam dia menunggu tapi Risa belum juga datang, ponsel Risa tidak dapat di hubungi membuat Davian semakin gelisah.
Davian berjalan mondar mandir dalam boutique, sudah lebih dua jam dia menunggu Risa belum juga datang, perasaan Davian semakin tidak karuan.
Dari luar Sam melangkah masuk ke dalam boutique, Davian merasa heran kenapa Sam ada di sini.
"Ada apa Sam?" Tanya Davian setelah Sam berada di hadapannya.
"Ayo ikut aku Dav." Ucap Sam yang membuat Davian menatapnya tajam.
"Ada apa!" Ucap Davian dengan suara tinggi.
"Risa kecelakaan." Davian seakan tersambar petir mendengar kabar dari Sam.
Davian segera bergegas keluar dari boutique menuju rumah sakit.
"Duduk saja aku yang mengemudi." Ucap Sam mencegah Davian yang akan masuk ke dalam mobilnya.
"Bagaimana kondisi Risa?" Tanya Davian dengan panik.
Sam diam
"Sam!" Bentak Davian.
"Aku belum tahu," ucap Sam memberi jeda berpikir kata yang tepat untuk dia sampaikan pada Davian.
"Pihak rumah sakit hanya menghubungiku perihal kecelakaan Risa." Jawab Sam kemudian.
__ADS_1
Davian terdiam pikirannya terus saja memikirkan kondisi Risa
"Arrggg" ucap Davian geram sambil membenturkan kepalanya pada senderan jok sebelah Sam.
"Tenanglah Dav." Sam berusaha menenangkan Davian yang terlihat sangat frustasi.
- - -
Di dalam ruang operasi terjadi kepanikan karena detak jantung pasien yang tiba tiba terhenti.
"Ambil defibrillator." Teriak dokter pada perawat, dengan terburu buru perawat mendorong defibrillator ke samping pasien.
"Gel." Ucap dokter, perawat langsung memberi gel.
"150 Joule." Perintah dokter, dokter langsung menempelkan di dada pasien setelah perawatan mengatakan ready.
- - -
Sam berjalan menghampiri Davian setelah mencari informasi tentang Operasi yang dilakukan pada Risa.
"Dav." Ucap Sam berdiri di samping Davian
Davian mengangkat kepalanya mendengar suara Sam.
"Bagaimana?" Tanya Davian ingin tahu kondisi Risa.
"Risa mengalami pendarahan di kepala, dokter langsung memutuskan operasi darurat saat Risa tiba." Ucap Sam menyampaikan informasi sesuai yang dia dengar dari dokter UGD.
__ADS_1
Davian kembali menunduk tanpa bertanya lebih lanjut, di pikirannya melintas bayangan Risa yang sedang tersenyum manis, tanpa sadar Davian menitihkan air mata.
Mamah Risa yang duduk di sebelah Davian langsung pingsan setelah mendengar ucapan dari Sam.
"Bawa ranjang pasien kesini." Teriak Sam kepada perawat melihat mamah Risa pingsan
Davian langsung menoleh mendengar teriakan Sam, dia langsung berdiri menggotong mamah Risa ke atas ranjang yang sudah ada di depannya, melihat kondisi mamah Risa perasaan Davian semakin hancur.
Dua jam berlalu, Davian kembali ke ruang operasi setelah mamah Risa siuman.
"Berapa lama operasi ini?" Tanya Davian pada Sam setelah dia tiba di depan ruang operasi.
"Dokter belum tahu berapa lama, karena ini operasi darurat." Jawab Sam.
Davian dan Sam hanya terdiam setelah itu, Sam bahkan tidak tahu harus mengatakan apalagi untuk menghibur Davian.
Pintu ruang operasi terbuka, dokter keluar dengan wajah tertunduk, entah apa yang akan mereka dapat setelah mengatakan kondisi pasien pada pemilik rumah sakit ini.
Davian segera bangkit melihat dokter keluar dari ruang operasi
"Bagaimana keadaan calon istri saya dok." Tanya Davian dengan suara lirih tapi membuat dokter tercekat untuk membuka mulut mereka.
"Maaf pak," ucap dokter mulai membuka omongan.
"Jangan betele tele!" Bentak Davian yang sudah tidak sabar.
"Pasien masih koma." Jawab dokter sambil tertunduk.
__ADS_1