WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 90 Surat Wasiat


__ADS_3

Kita tinggalkan dulu Deryll dan Ibra yang sedang sibuk dengan rahasia hati mereka masing-masing. Sekarang kita tengok Cytra sedang apa, atau sedang ada dimana sebenarnya dia.


Cytra ternyata baru turun dari pesawat dan keluar dari bandara Soekarno Hatta bersama dua asisten pria dan satu asisten wanita. Di depan bandara dua orang bodyguard sudah menjemputnya untuk dikawal ke sebuah mobil mewah warna hitam.


Bekas penyanyi cafe ini tampil sensual dengan tinggi badan mencapai 170 cm. Dengan wajah yang rupawan Cytra Amalia menjadi sosok yang tak luput dari perhatian orang-orang di bandara.


"Kita kemana Nyonya?" tanya asisten wanita setelah seluruh rombongannya masuk ke dalam mobil. Sedangkan dua bodyguard yang tadi menjemput juga sudah masuk ke mobil lain dan bersiap mengawal kemana lady boss itu pergi.


"Aku mau pulang sudah rindu sama anak-anak," kata Cytra sambil membenarkan posisi duduknya.


"Maaf, tinggal PT ANN yang belum kita verifikasi. Apa tidak kita selesaikan saja hari ini supaya besok sudah bisa kita sentralisasikan kegiatan suluruh perusahaan," saran Mellany asistennya itu.


"PT ANN gampang diselesaikan. Saya sudah tahu kondisinya, besok saja kita verifikasi," kata Cytra sudah pantas seperti bos besar.


Sejak sebulan ini dia sibuk melakukan peninjauan dan memverifikasi ke sejumlah perusahaan yang milik Mr Morgant baik di negaranya sendiri maupun yang ada di Indonesia.


Dia harus melakukan itu karena dalam surat wasiat yang ditulis Morgant sebelum meninggal, ternyata almarhum sedang menghadapi masalah yang berat di dalam manajemen beberapa perusahaannya. Disamping rumah tangganya yang gagal total akibat Deryll berselingkuh.


Di dalam surat itu Cytra yang diminta untuk menyelesaikannya tanpa melibatkan Deryll. Cytra kaget ketika membaca surat itu. Dan ternyata Morgant telah menyiapkan sejumlah dokumen perusahaan yang disimpan di lemari. Tidak itu saja surat kuasa yang dibuat di depan notaris juga sudah disiapkan untuk langkah Cytra selanjutnya.


Cytra menangis terharu saat mengetahui semua itu. MR Morgant ternyata sangat mencintainya. Dan sangat percaya Cytra bisa menyelesaikan masalah perusahaannya. Menyesal dia kenapa pada hari terakhirnya muncul isu murahan yang tak berdasar itu.


Mobil mewah berwarna hitam itu pun melaju keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Di dalamnya terdapat Cytra yang sekarang sudah mendapat julukan Lady boss, serta tiga asisten ahli di bidang masing-masing.


Sedang di belakang mobil mewah itu mengikuti mobil jeep yang berisi dua bodyguard. Cytra langsung mendapatkan semua fasilitas yang keren itu ketika menelpon Mellany sekretaris Morgant di Australia yang kini menjadi asistennya itu.


"Rumah Nyonya ternyata besar juga," ucap Mellany ketika rombongan dua mobil itu masuk ke sebuah rumah besar seperti istana yang dijaga petugas keamanan.


"Bukan rumah saya, ini rumah mendiang Tuan Samyokgie, suamiku," kata Cytra apa adanya.


Radita yang kebetulan ada di rumah melihat kedatangan dua mobil itu mengira ada tamu pengusaha besar. Maka dia heran juga melihat yang turun dari mobil mewah keluaran baru itu bukan orang asing di dalam keluarganya.


"Kenalkan ini Radita anak Tuan Samyokgie. Dan ini teman-teman saya, Dit," ucap Cytra memperkenalkan para asistennya.


Sedangkan dua bodyguard setelah turun dari mobil cuma mengangguk kepada Radita dari kejauhan.


"Mari silahkan masuk," ucap Radita mempersilahkan teman-teman Cytra masuk.


"Mana Putra dan Sanjaya aku sudah rindu kalian!" teriak Cytra berlari ke dalam.

__ADS_1


Sementara para asisten Cytra ngobrol dengan Radita, Cytra bercengkrama dengan Putra dan Sanjaya di kamarnya.


"Mama siapa mereka. Om Morgant ko tidak ikut, Ma?" tanya Putra anak yang lebih besar yang kini sudah berumur lima setengah tahun. Sedang Sanjaya yang lahir setahun kemudian dari kakaknya, cuma senyum-senyum dalam pangkuan mamanya.


"Om Morgant sedang pergi jauh. Jadi tidak ikut," jawab Cytra.


"Pergi jauh ya, Ma. Kapan Putra diajak mandi di kolam renangnya lagi, Ma?" tanya Putra lagi.


"Kamu senang ya tinggal di rumah itu?" tanya Cytra.


"Saya juga senang, Ma," celetuk si kecil Sanjaya.


"Bagus. Sebentar lagi kita sudah pindah ke rumah itu. Kalian mau kan tinggal bersama Mama disana?" tanya Cytra penuh harap.


"Mau!"


"Mau, Ma!"


Cytra memeluk kedua anaknya itu penuh bahagia. Cita-citanya untuk hidup satu rumah dengan mereka kini hampir terealisasi. Tinggal menunggu ijin dari Radita. Dan dia pasti akan mengijinkan melihat performa Cytra yang sekarang.


Sore itu setelah ngobrol dengan Radita, tiga asisten dan dua bodyguard Cytra ijin untuk istirahat di hotel. Sedang Cytra tetap tinggal bersama anak-anaknya di rumah.


"Tadi Ibra dengan seorang wanita yang bernama Deryll datang kesini mencari kamu. Ada urusan apa kamu dengan mereka?" tanya Radita.


"Kenapa Deryll bisa bersama Ibra. Ceritanya ketemu dimana mereka?" Cytra heran juga mendengarnya.


"Deryll katanya mencari kamu ke Bali dan bertemu Ibra yang tau alamatmu disini. Maka mereka datang kesini bersama-sama," cerita Radita apa adanya.


"Saya memang belum menceritakan kepada Deryll soal surat wasiat itu. Mungkin Deryll pingin tahu apa isinya."


"Ada surat wasiat apa dari Mr Morgant?" Radita tertarik juga pingin tahu.


"Sebelum Morgant meninggal dia sebenarnya sudah mempersiapkan diriku untuk menyelesaikan masalah sejumlah perusahaannya. Hal itu baru aku ketahui dari surat wasiat itu. Maka satu bulan ini aku selesaikan permasalahan di sejumlah perusahannya. Dibantu Mellany sekretaris Morgant dan sejumlah anak buahnya yang tadi datang," Cytra menjelaskannya secara rinci.


"Ya, mereka juga sudah menjelaskan hal yang sama kepadaku tadi. Mereka memuji kinerjamu. Tapi kenapa tidak melibatkan Deryll istrinya?"


"Dalam surat wasiat itu Morgant meminta tidak usah melibatkan Deryll. Mungkin karena sebelumnya mereka sudah cerai. Nanti saja kalau urusannya sudah selesai akan saya beri tahu. Dalam hati aku pun tidak akan mengabaikannya. Karena dia adalah istri pertama yang masih punya hak atas harta kekayaan Morgant. Walaupun sudah cerai."


"Bagus. Saya salut atas niat baikmu."

__ADS_1


"Lalu rencana selanjutnya kamu akan membawa anak-anakmu, karena sekarang sudah mampu?"


"Sepertinya ke depan aku akan lebih sibuk lagi dari pada sebelumnya. Bagaimana kalau mereka masih tetap saja disini."


"Terserah kamu saja. Karena mereka adalah anakmu sendiri. Tapi perlu kamu ketahui bahwa mereka adalah warisan yang ditinggalkan oleh Papa. Saya punya kewajiban pula untuk menjaganya."


Serelah Radita bicara begitu secara kebetulan Putra dan Sanjaya menghambur dari kamar mendekati mamanya.


"Mama jangan pergi-pergi lagi, Putra dan Sanjaya pingin ditemani Mama setiap hari," Anak usia lima tahun itu menyampaikan keluhan dengan lucunya.


"Pinter kamu ya seperti Papa. Tapi Mama tidak bisa terus menerus di rumah, sayang. Soalnya Mama bekerja," jawab Cytra penuh kasih sayang.


"Tapi Putra takut di rumah sendirian kalau Mama pergi-pergi terus," keluh Putra lagi. Sementara adiknya lebih banyak diam sambil melendot ke Cytra.


"Sudah, sekarang sudah malam. Sekarang kalian istirahat saja, ya," pinta Cytra dan dua anak itu segera lari ke kamarnya sendiri.


Cytra tersenyum senang melihat anaknya sekarang sudah pintar semua.


"Cy, sekarang kamu harus cari pendamping lagi. Ndak enak menjanda. Nanti banyak gunjingan," ujar Vika ikut bicara.


"Nanti pelan-pelan sajalah. Sekarang aku ingin perhatian pada anak-anakku dulu," jawab Cytra jujur.


Ketika menikah dengan Morgant sebenarnya Cytra sudah menemukan kecocokan membina rumah tangga. Pertama wajah dan postur Morgant sangat mirip dengan Samyokgie. Seperti tidak ada bedanya. Apalagi Morgant mau menerima apa adanya dengan kondisi Cytra.


Lalu ada lagi lelaki yang mau menerima apa adanya dengan kondisi Cytra. Yaitu Ibra. Tapi minta ampun. Penyakit playboynya dari dulu hingga sekarang tidak juga sembuh. Atau memang tidak bisa sembuh.


"Bagaimana dengan Ibra. Kelihatannya dia masih mencintaimu. Apakah kau masih mencintainya juga," celetuk Radita tiba-tiba.


"Tidaklah aku mau sendiri saja dulu," kilah Cytra.


Padahal di dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih tersimpan cinta yang dulu pernah ada. Tapi prosentasenya sangat kecil sekali. Kecuali ada sebuah keajaiban yang bisa membuat Cytra tertarik kembali padanya.


"Ya sudahlah. Itu hak kamu untuk menentukan pasanganmu kelak," ujar Radita.


Mereka lalu menyudahi obrolannya. Radita masuk ke kamarnya bersama Vika. Sedangkan Cytra menyusul anak-anaknya yang sudah tidur lebih dulu.


Haloo, pembaca yang cakep-cakep, kok sepi sih. Semangati dong authormu ini dengan like, koment, sabscribe dan hadiahnya. Trims🙏


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2