
Mobil mewah keluaran tahun terahir berwarna hitam itu, meluncur halus keluar dari garasi. Di dalamnya terdapat Cytra dan dua anaknya yang semua dengan pakaian rapih.
Sore itu mereka pergi ke mall untuk menghadiri acara pesta ulang tahun teman Putra. Radita tidak bisa ikut karena ada acara sendiri dengan koleganya.
"Jaga Mamamu, ya. Jangan sampai diganggu orang," begitu pesan Radita kepada Putra tadi sebelum berangkat. Tidak tahu apakah itu cuma basa basi atau bener khawatir Cytra direbut orang.
Putra anak yang genius. Tahu apa yang dimaksud calon papanya itu. Maka ketika memasuki mall dan banyak kaum pria yang memandang Cytra, dengan lucunya Putra selalu menarik tangan Cytra supaya menjauh dari orang yang kelihatan mencurigakan.
Begitu pula ketika tiba-tiba muncul seorang cowok tampan seperti aktor hollywood mengenakan celana jean sobek di lutut mendekati Cytra dengan gayanya yang urakan.
"Cantik sekali kau hari ini bidadariku, mau kemana," cowok itu menyapa Cytra.
Putra langsung berdiri di depan dan menghadang cowok itu supaya pergi menjauh dari Mamanya.
Cowok itu tidak mau pergi. Malah berdiri mengangkang dan berkacak pinggang. Seperti menantang putra. Tapi kemudian cowok itu menunduk mengajak salaman Putra.
"Waduh jagoan siapa ini...Berani sekali!"
Putra menyembunyikan tangannya sambil memandang cowok itu dengan tajam.
Sedangkan Cytra ingat owok itu. Yaitu yang menggodanya dengan sapaan yang sama di rumah Tante Mira.
"Jangan kau goda anakku, dia bisa meloncat dan memukul hidungmu," kata Cytra sebal melihat tingkahnya yang urakan itu.
"Tidak apa-apa. Daripada dipukul suamimu yang bodyguard itu," ucap Ridwan malah menantang.
"Enak aja! Dia bukan suamiku, tau!" seru Cytra tambah kesal.
"Oh, maaf. Aku kira dia suamimu he...he...he," cowok itu tertawa kelihatan giginya yang putih rapih.
Dalam hati Cytra mengatakan dia sebenarnya memang tampan. Tapi gayanya yang selengean itu yang tidak menyenangkan sama sekali.
__ADS_1
Cytra lalu meninggalkan cowok itu begitu saja, dan menggandeng kedua anaknya bergabung dengan teman-temannya ke area yang sudah disewa sohibul hajad untuk acara ulang tahun.
Cowok itu memandangi saja bidadarinya pergi meninggalkannya. Dalam hati ia kagum sekali kepada wanita yang baru dikenalnya itu. Disamping cantik dan anggun, ternyata putri Vionita itu punya sifat keibuan juga.
Setelah Putra dan Sanjaya bergbung dengan teman-temannya di acara itu, Cytra mengambil tempat duduk di bangku panjang untuk menunggu sampai acara selesai.
Tidak lama setelah Cytra duduk, tiba-tiba cowok itu sudah berada di sampingnya dengan gayanya yang cuek dan tak kenal sopan santun. Sial sekali aku hari ini! Pikir Cytra.
"Daripada disini apa tidak menunggu saja di kantin bidadariku?" ucap cowok itu setelah beberapa saat mereka saling diam.
"Mana ada disini ada kantin. Paling di lantai atas," balas Cytra.
"Ada. Kalau bidadariku mau, mari ikut aku," cowok itu berdiri.
Ajaib, Cytra bisa menurut saja tangannya digandeng oleh cowok selengean itu ke samping area acara dan masuk ke ruang manajemen mall.
"Hah! Ini bukan kantin, tapi kantor tau," Cytra membelot melepaskan tangannya.
"Ini kantin sama saja. Kita bisa minum atau pesan jajanan yang bidadariku suka," cowok itu mencegah Cytra yang mau balik ke area acara ulang tahun.
"Mereka sama saja sedang makan dan minum kan. Disini memang kantin karyawan mall," Cytra dirayu supaya mau masuk kembali.
"Tidak mau. Aku kembali ke tempat semula saja," Cytra berjalan ke tempat duduknya di dekat area acara ulang tahun.
"Okelah bidadariku duduk disana saja nanti tak bawakan minuman dan makanan."
Selang beberapa menit dia datang dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan kepada Cytra.
"Silahkan dicicipi minuman dan makanan buatan koki mall ini, bidadariku." Cowok itu meletakan nampan di samping tempat duduk Cytra.
Dalam hati Cytra tertawa melihat tingkah si urakan itu. "Bisa-bisanya dia dengan mudah minta makanan dan minuman kepada manajemen mall. Punya pengaruh apa dia. Apa karena ulahnya yang selengean itukah?" Cytra bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak mau makan makanan yang tidak jelas darimana asalnya," kata Cytra.
Si urakan itu kebingungan atas penolakan Cytra. Lalu dengan cueknya dia makan dan minum sendiri tanpa pedulikan wanita yang selalu dia panggil "bidadariku" itu.
Tidak berapa lama setelah itu datang karyawan mall menundukan kepala dengan hormat kepada si urakan.
"Tuan Rid, apakah Tuan butuh tempat yang lebih enak biar saya settingkan meja dan kursi sebentar disini," ucap karyawan yang mengenakan pakaian rapih, bersepatu pantovel dan berdasi itu dengan sopan.
Cytra nampak terbelalak melihat adegan aneh di hadapannya itu. "Masak orang urakan gitu dipanggil tuan olehnya. Siapa sebenarnya dia Rdi mall ini. Apakah dia seorang manager. Atau kepala para karyawan. Tapi tidak mungkin kalau dia sebagai pemimpin. Pakaiannya saja tidak menunjukkan kalau dia seorang pemimpin. Celana jeans yang sobek di lutut, baju hitam kusut, rambut dibelah dua menutupi telinganya, serta sepatu kats. Tidak mirip sekali seorang karyawan apalagi pemimpin," ramai benak Cytra menerka-nerka.
Si urakan tidak pedulikan Cytra yang sedang bingung sendiri. Dia cuma mengkibaskan sebentar tangannya agar pria itu pergi meninggalkannya.
"Bidadariku yang cantik. Kamu pasti sedang terheran-heran denganku ya. Semua wanita memang tidak percaya dengan kenyataan hidupku ini," katanya seperti pada dirinya sendiri. Karena matanya tetap tertuju ke area ulang tahun anak-anak. Tidak memandang Cytra di sampingnya. Padahal para lelaki di mall itu banyak yang kesengsem melihat kecantikan dan keanggunan Cytra.
"Memangnya aku percaya dengan kamu," celetuk Cytra ikutan cuek tidak memandang si urakan di sampingnya. Padahal wanita di sekitarnya mengamati wajahnya yang tampan seperti aktor hollwood.
Cytra pantas tidak percaya. Cowok urakan itu yang ia tahu adalah anaknya Tante Mira. Ridwan namanua. Dan kehidupan Tante Mira sejak dulu adalah biasa-biasa saja. Bersama Vionita bekerja sebagai penyanyi tetap di sebuah cafe. Tidak mungkin dengan bekerja seperti itu Tante Mira bisa menghidupi anaknya seglamour itu.
"Saya juga tidak percaya kalau kamu seorang lady boss. Mana mau seorang lady boss repot-repot menuntun anaknya pergi menghadiri ulang tahun teman anaknya. Kecuali wanita pengangguran atau ibu rumah tangga yang kerjanya cuma mengasuh anak."
"Kamu tidak percaya ya tidak masalah. Saya tidak butuh pengakuanmu. Mau percaya atau tidak bukan urusanku," kata Cytra sedikit sewot.
Kebetulan setelah terjadi perang dingin itu acara ulang tahun selesai. Putra dan Sanjaya berlari mendekat ke Mamanya.
"Ini anak-anakmu bidadariku?" tanya Ridwan kepada Cytra.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Kamu pasti akan menyangkal lagi kalau mereka anakku. Salam saja untuk Mamamu supaya bisa mendidik anaknya lebih sopan di depan wanita. Agar bisa lebih cepat punya menantu," kata Cytra menyindir.
Ridwan tidak mau membalas sindiran itu. Karena sebenarnya di mall itu dia tidak bermaksud membuat Cytra kesal. Dia cuma mau ngobrol biasa saja dulu karena baru kenal. Soal kemauan Mamanya menjodohkan dirinya dengan Cytra rasanya terlalu dini. Karena dia belum mengenal jauh tentang Cytra yang janda dua anak, tapi masih cantik dan hebat kariernya.
Sedangkan Cytra dalam perjalanan pulang sangat direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan Putra dan Sanjaya. Mending kalau pertanyaan itu soal nama cowok itu saja. Ini macam-macam yang kalau dijawab bisa salah tafsir. Ujung-ujungnya nanti bisa bentrok dengan calon suaminya.
__ADS_1
Tak ayal kehadiran cowok urakan itu membawa pikiran tak jenak sampai ke rumah. Cytra penasaran ingin tahu siapa sebenarnya Ridwan. Ada kelebihan apa selain tampan sehingga Vionita dan Mira antusias menjodohkan Ridwan dengan dirinya.
Bersambung