WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 108 Pertengkaran


__ADS_3

Namanya saja anak-anak, sepulang dari sekolah Putra dan Wjaya tak sabar langsung mengambil mainannya yang kemarin sore dibelikan oleh Cytra. Lalu mereka asyik bermain di kamarnya sendiri.


Sementara itu hadiah mainan dari Ibra masih utuh belum dibuka oleh Cytra. Dus besar yang dibungkus rapih itu dibawa ke kamarnya. Lalu disimpan di tempat yang tersembunyi.


Cytra tidak akan memberikan dus besar berisi mainan yang belum jelas itu kepada Putra. Ketika turun dari mobil dan Putra bertanya apa isi bungkusan yang dibawa, Cytra mengatakan itu barang milik temannya.


Menyesal dia kenapa membawa pulang hadiah dari mantan kekasihnya itu. Kenapa tidak ia tinggal saja di kantin samping sekolahan. Selesai sudah urusan. Sekarang dengan disimpan di dalam kamarnya, tidak menjamin Putra atau Radita tidak tahu.


"Sialan, kenapa aku direpotkan oleh hal yang sepele ini," gumamnya.


Ya, Cytra memang harus mau direpotkan oleh dus besar itu jika perjalanannya yang sudah mantap menuju ke pernikahan dengan Radita tidak ingin gagal. Putra sekarang sudah tidak menolak lagi Radita jadi papanya. Sedangkan Radita sendiri sudah yakin kalau Ibra sudah tidak ada lagi dalam pikiran Cytra.


Tadi pagi saat bersama mengantar Putra dan Sanjaya ke sekolah, hal itu sempat ditanyakan oleh Radita.


"Kamu sudah yakin dan mantap, Cy?" tanya Radita sambil menyetir.


"Maksudmu rencana kita itu?" kata Cytra sambil menoleh ke jok di belakangnya tempat Putra dan Sanjaya sedang duduk asyik memandang keluar jendela.


"Iya, rencana satu itu," tegas Radita dengan bahasa sandi agar Putra atau Sanjaya tidak tahu apa yang dimaksudkan dalam pembicaraan mereka.


"Ya, saya sudah mantap," ucap Cytra sambil memandang Radita dengan penuh perasaan cinta.


Pria yang kini jauh lebih dewasa dari sebelum-sebelumnya itu menggenggam tangan Cytra dengan tangan kirinya. Karena tangan kanan tetap memegang stir.


"Kamu sudah tidak ingat Ibra?" Radita melepaskan genggaman tangannya.


"Kenapa kau tanyakan dia lagi?" Cytra memandang lagi Radita dan pria itu nampak tersenyum manis.


"Wajar kan kalau aku curiga kepadanya, dan patut cemburu kalau kamu masih mengingat dia sampai sekarang," jawab Radita dengan tanpa amarah.


"Ya, wajar. Yang tidak wajar itu kalau kamu tidak cemburu," Cytra menanggapinya dengan ringan.


"Tapi bener ya kamu sudah dan tidak akan mengingat dia lagi?"


"Tidak tuan!" ucap Cytra bergurau.


Tapi sekarang dengan adanya hadiah berupa dus besar berisi mainan dari Ibra itu apakah Radita akan percaya kalau dia sudah melupakan Ibra. Maka jangan sampai hal itu ketahuan. Walaupun itu hadiah untuk Putra tapi yang menerima dari tangan Ibra adalah dirinya. Berarti ada interaksi, ada percakapan dan ada pertemuan!


"Ya, Tuhan kenapa baru detik ini aku menyadari hal itu?" gemuruh hati Cytra.

__ADS_1


Cytra bingung. Lalu diambilnya kembali dus besar itu dari tempatnya dan dibawa keluar dengan melihat situasi dulu, apakah ada Putra atau Wijaya. Jangan sampai dilihat oleh mereka.


Cytra membawa dus itu ke belakang. Ia berjalan agak tergesa-gesa melewati beberapa ruangan di rumah besar seperti istana itu. Kemudian berhenti di depan kamar gudang. Ia lemparkan dus itu ke dalam. Lalu kembali ke kamarnya.


Bersamaan itu Radita datang dengan wajah berseri-seri karena melihat di depan ada mobil Cytra yang mewah itu nongkrong di garasi. Berarti pemiliknya ada di rumah. Patuh pada perintahnya setelah pulang dari sekolah agar menunggui anak-anak di rumah. Tidak usah mikir pekerjaan dulu.


Tok!...tok!...tok!


Suara ketukan pintu kamar Cytra terdengar pelan tapi sangat terdengar oleh Cytra yang ada di dalam.


"Saya kagum padamu, mau menuruti perintah calon suami," kata Radita senang ketika Cytra membuka pintu kamarnya dan duduk di sofa depan kamarnya.


"Terimakasih, Mas. Ada apa kok siang-siang begini sudah pulang?" Cytra balas memanggil calon suaminya dengan mas.


Cytra sebenarnya heran atas kepulangan Radita yang mendadak itu. Sementara hati Cytra masih diliputi perasaan takut soal hadiah mainan dari Ibra yang sudah ia amankan di gudang.


"Saya sengaja sempatkan pulang cepat, sayang. Karena kita hari ini mau fitting. Cuma perasaanku agak terganggu karena tadi Ibra menelponku di kantor," kata Radita ringan tapi terasa begitu menghantam jantung Cytra. Jangan-jangan??


"Mau apa dia menelpon, Mas?" tanya Cytra cemas padahal Radita nampak biasa saja.


"Biasa kelakuannya seperti itu. Cuma tanya kabar aku saja. Setelah dijawab dimatikan hapenya."


"Ya, memang orangnya seperti itu. Kadang muncul kelakuannya yang aneh. Tapi sudahlah kenapa kita jadi repot membicarakan dia."


"Ya, Mas sendiri bilang aku disuruh melupakannya. Tapi malah Mas sendiri membicarakan tentang dia."


"Saya cuma mau kasih tahu saja, kalau dia tadi menelponku," kata Radita masih dengan mimik biasa-biasa saja. Padahal hati Cytra masih terus dagdigdug. Ada dua pilihan berterus terang tentang pemberian hadiah dari Ibra, atau tidak ia katakan sama sekali.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Radita mengagetkan Cytra yang sedang melamun.


Cytra buru-buru menetralkan perasaannya.


"Apa tidak terlalu dini fittingnya, Mas?" kata Cytra kemudian.


"Kurang dua minggu lagi lho kita akan menikah. Persiapannya harus cepat dilakukan. Sekarang kita tinggal melakukan fitting."


"Aku mau berterus terang kepada Mas. Tapi Mas jangan marah ya?" pinta Cytra seperti anak kecil.


"Memangnya kamu mau berkata apa?" Mimik muka Radita mendadak berubah. Yang semula ceria kini jidatnya nampak mengkerut.

__ADS_1


"Soal ibra," Cytra beranikan diri menyebut nama itu.


"Apa? Ibra? Kok Ibra lagi. Bukankah tadi kita sudah tidak akan membicarakan lagi orang itu."


"Ya, ini penting aku sampaikan kepada Mas. Semula aku ingin menyembunyikannya. Tapi aku pikir percuma kita menikah kalau kita masih menyembunyikan rahasia masing-masing."


"Kalau aku sudah tidak punya rahasia lagi. Kau sudah tahu sendiri. Sekarang aku sudah cerai dengan Vika. Dan pacar sudah tidak ada lagi selain dirimu."


"Ya aku percaya dengan Mas. Aku juga sudah tidak berharap kembali lagi dengannya."


"Kenapa mau kau bicarakan lagi lelaki brengsek itu," suara Radita mengeras tidak suka Cytra menyinggung lagi soal Ibra.


"Pikiran Mas jangan yang tidak-tidak dulu. Bukankah sudah kukatakan kalau aku sudah putus dengan Ibra."


"Tapi sepertinya kau masih memikirkan dia!" suara Radita makin mengeras.


"Jangan marah dulu...Aku cuma mau bilang...." Kalimat Cytra terputus karena terlihat Radita beranjak pergi meninggalkannya.


"Mas! Dengarkan dulu aku mau bicara," Cytra mengejar Radita yang berjalan menuju kamarnya.


Radita berhenti di depan pintu kamarnya. Lalu katanya:


"Kamu mau bilang masih pacaran dengannya, kan?"


"Saya tidak pacaran. Tadi saya memang bertemu dengannya di kantin pinggir sekolah Putra."


"Ah, alasan saja kamu!" Radita membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali dengan kasar.


"Mas!" teriak Cytra.


Tidak ada sambutan dari Radita. Pintu kamar itu telah terkunci rapat. Cytra cuma bisa menatap pintu itu dengan perasaan yang tidak karuan.


Cytra akhirnya balik kanan kembali ke kamarnya sendiri. Di dalam kamar ia merebahkan badannya di kasur dengan kesal.


Sementara Radita di dalam kamar mengkaitkan telpon Ibra saat ia berada di kantor dengan pengakuan Ctra yang bertemu di kantin samping sekolah Putra. Sepertinya waktunya hampir bersamaan. Atau apakah waktu itu sebenarnya Ibra mengejeknya dengan menelpon cuma mengucapkan apa kabar. Padahal sedang pacaran dengan Cytra.


"Bangsat!" Radita menggebrak meja di kamarnya dengan keras.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2