
Seperti pasangan suami istri yang baru menikah, Cytra dan Radita berjalan bergandengan mesra di depan umum.
Bukan Cytra yang punya ide itu. Tapi Radita yang minta tangan mereka bergandengan agar anak-anak menjadi senang melihatnya. Kemudian akan menerima Radita sebagai Papa mereka.
Walaupun berkali-kali Cytra melepaskan genggaman tangan itu, tapi segera ditangkap lagi oleh pemiliknya. Hingga memasuki kantin samping sekolahan, khalayak ramai masih bergandengan mesra.
"Huh! Malu tahu!" keluh Cytra sambil meletakan pantatnya dengan gemas ke kursi kantin.
"Kita biasakan mesra begitu agar tidak kaku nanti dilihat anak-anak," Radita membela diri.
"Iyaah... tapi jangan over di depan umum. Kita ini belum menikah. Kalau ada orang yang kenal kita melihat bagaimana?" Cytra mendesah kesal.
Dan kekhawatiran Cytra itu terjadi. Tidak berapa lama setelah dia duduk seorang perempuan menggeblak bahu Cytra dari belakang.
"Waduuh... sudah akur ya sekarang!" ucap perempuan itu.
Ketika Cytra menoleh ternyata teman lamanya Jenet. Wanita ini adalah guru TK anaknya Sanjaya. Tempat sekolah kedua anak itu berada satu kompleks.
"Hai! Jen. Maaf kalau aku tidak memberitahu kamu mau jemput Wijaya," sapa Cytra dengan perasaan gugup.
Jenet, walaupun teman di SMA dulu sampai kini masih akrab dengan Cytra. Terakhir bertemu ketika Cytra menginap di rumahnya. Dan saat itu Jenet mengeluh kalau adiknya makin liar pergaulannya dan tidak mau lagi diatur. Tapi ketika Vika menikah dengan Radita, Jenet belum pernah cerita. Termasuk sekarang setelah bercerai dengan Radita.
Mungkin merasa kalau masih duduk bersama akan mengganggu pertemuan teman SMA itu, Radita pergi meninggalkan Cytra dan Jenet ngobrol.
"Heh! Dengan apa kau jinakan pria galak itu?" ledek Jenet.
"Terjadi begitu saja. Tanpa ada rekayasa atau campur tangan dukun."
"Aku heran kau bisa secepat itu akrab dengannya, setelah dia pisah dengan adikku."
"Maaf, Jen. Tapi jangan kau tuduh penyebab perpisahan itu karena diriku, loh."
"Aku juga minta maaf kepadamu, kalau tidak pernah cerita lagi soal adikku," kata Jenet tidak terlihat marah mengetahui Cytra jalan bareng dengan mantan suami adiknya.
"Terus sekarang ada dimana Vika?" Cytra pingin tahu keadaan mantan istri Radita itu.
"Saya tidak tahu. Dibilang saya dengan dia itu seperti anjing dan kucing. Seperti bukan saudara adik-kakak. Tak pernah bertemu dan tidak pernah komunikasi," keluh Jenet.
"Pantas saja Radita tidak kenal kamu. Oya. Sudah pesen makanan belum, sana pesen nanti saya yang nraktir."
"Baru saja saya selesai makan di kantin ini. Ketika mau pulang melihat kamu jalan bareng dengan dia," kata Jenet dengan suara lirih takut kedengaran Radita yang duduk di seberang meja.
"Sekarang dia membolehkan aku bertemu dengan anak-anaku dengan leluasa. Tidak seperti dulu lagi."
__ADS_1
"Oh, baguslah. Lalu dengan Ibra kamu gimana. Apakah sudah menikah dengannya. Kok tidak ngasih kabar," Jenet nyerocos tidak tahu kalau Cytra menahan rasa risih, takut Radita mendengar.
"Ibra belum sembuh juga. Terpaksa aku tinggal," cerita Cytra pendek saja. Tidak sampai cerita setelah itu dia menikah dengan Morgant. Dan sekarang mendapatkan warisan hartanya yang melimpah ruah. Menjadi lady boss dalam perusahaan itu.
"Saya tadi melihat Ibra jalan lewat depan sekolah ini," kata Jenet sangat tak terduga dan mengejutkan.
"Hah! Ibra atau bukan yang kau lihat tadi?" Cytra tak percaya.
"Betul Ibra tadi pagi. Ketika anak-anak sekolah mulai pada datang. Ada apa sih. Kamu kok kelihatan takut sekali aku bilang Ibra ada disini."
"Tidak ada apa-apa. Saya cuma kaget saja," Cytra menutupi kejadian yang pernah dialaminya di Bali.
"Ya, sudah kalian saya tinggal dulu. Sebentar lagi anak-anak sudah waktunya pulang.
Lega rasanya setelah Jenet pergi. Malu sekali dia kalau Jenet tahu dirinya kini sedang dekat dengan Radita, mantan suami adiknya.
"Temanmu sudah pergi. Siapa dia?" tanya Radita ketika duduk satu meja lagi dengan Cytra.
"Teman waktu SMA. Dia guru TK-nya Sanjaya," jawab Cytra singkat.
Radita tak bertanya lagi karena Cytra berjalan ke kasir untuk membayar minuman dan jajanan yang dimakan.
"Ayo kita jemput Wijaya," ajak Cytra buru-buru karena khawatir dengan apa yang Jenet bilang. Melihat Ibra lewat depan sekolah tadi pagi.
Di sekolahan TK, Cytra mudah sekali menemukan Sanjaya karena sudah diamankan oleh Jenet. Tapi di sekolahannya Putra, Cytra tidak menemukan anak yang mulai pintar itu.
Info dari dalam sekolahan, kelas satu pulang lebih awal karena gurunya tidak berangkat, ada panggilan mendadak kepala dinas.
Cytra gelisah dan panik bertanya kesana-kemari. Sedangkan Radita mencoba menelpon kepada pengawal dan orang di rumah apakah Putra sudah pulang.
"Kata pengawal setelah melihat mereka masuk ke kelasnya masing-masing langsung pulang ke rumah. Mereka tidak tahu kalau kelas Putra pulang lebih awal," kata Radita kepada Cytra yang sudah mau menangis karena tidak ada yang tahu dimana keberadaannya.
"Waduuh, terus sekarang Putra berada dimana?" Perasaan Cytra makin tidak karu-karuan.
"Jangan panik begitu, kamu punya telpon Ibra tidak. Ditelpon dia sekarang!" Ibra membentak.
"Kamu sih ada-ada saja membuat acara menjemput anak. Seperti tak punya pekerjaan saja!" Balas Cytra dengan menyalahkan Radita.
"Saya tidak tahu kalau kelas Putra akan pulang lebih awal," Radita tidak mau disalahkan.
"Coba kalau kamu tidak buat acara yang tidak bermutu ini, pasti tidak akan terjadi peristiwa seperti ini.
"Sudah ditelpon saja Ibra, jangan ngomel melulu!" bentak Radita lagi kepada Cytra.
__ADS_1
"Huh! Selalu bikin repot saja kamu!" Dengan cemberut Cytra menelpon Ibra.
Cytra kemudian mencari nomor telepon Ibra di hapenya. Satu nomor ketemu tetapi ketika dihubungi nomor tersebut sudah tidak aktif.
Cytra kembali mencari nomor lainnya. Tapi tetap sama tidak bisa dihubungi. Hingga empat nomor yang tercatat di hape Cytra semuanya sudah tidak aktif.
"Masa sih tidak ada yang aktif. Bukankah di Bali belum lama ini kamu dan Ibra bisa berkomunikasi."
"Tidak tahu. Ini nomor yang digunakan saat itu juga sudah tidak aktif."
Radita lalu membatu menelpon Ibra dengan hapenya sendiri. Tapi nomor yang sudah beberapa tahun lalu yang ia miliki itu sama saja sudah kedaluwarsa.
"Coba mikir jangan melamun saja!" bentak Cytra melihat Radita tak berkutik setelah tidak berhasil menelpon Ibra.
"Apa kita tengok dulu di rumah barangkali Putra sudah diantar pulang oleh orangtua temannya."
"Orang anak belum ketemu sudah minta pulang!" Bentak Cytra makin kesal.
Radita lalu membalasnya dengan membentak juga. Mereka akhirnya saling membentak. Saling menyalahkan. Anak Cytra, Sanjaya yang ada di samping mereka cuma diam melihat tingkah polah orang tua.
Disaat sedang kebingungan itu telpon Radita berdering. Yang menelpon adalah bodyguardnya dari rumah.
["Bos ini putra sudah di rumah,"] suara Edo terdengar mengagetkan Radita dan Cytra.
"Dengan siapa dia pulang?" tanya Radita cepat.
["Seorang laki-laki katanya orangtua temannya Putra."]
"Jangan suruh pulang dulu, tunggu aku mau kesitu."
["Maaf, Bos. Orangnya buru-buru katanya masih ada perlu."]
Radita lalu matikan sambungan telpon dari bodyguardnya itu. Lantas mengajak Cytra pulang.
Sesampainya di rumah terlihat Putra sedang bermain sendiri dengan asyiknya. Tidak mempedulikan Cytra dan Radita yang baru saja bingung dan panik kehilangan dirinya. Mereka berdua tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.
"Tuh! Menurutku apa. Putra pasti diantar orangtua temannya," Radita kembali menyoal ketidakpercayaan Cytra kepadanya.
Cytra tidak menanggapi. Dia memeluk dan mencium Putra sebentar lalu masuk ke kamarnya.
"Huh! Sial!" seru Radita.
Bersambung
__ADS_1