
Setelah keluar dari toko mainan itu, Ibra tidak langsung pergi. Tapi dia sembunyi di dalam mobilnya sendiri menunggu sampai Cytra dan kedua anaknya serta Radita selesai berbelanja.
Ibra pergi ke toko mainan itu membeli sebuah mainan robot elektronik. Rencananya akan ia berikan kepada Putra. Anak genius itu sudah cerita kepadanya kalau mainannya rusak karena dibanting oleh Radita.
"Jangan bersedih nanti Om belikan yang baru," kata Radita ketika mengantar Putra pulang sekolah.
Saat itu ia sengaja datang ke sekolah Putra dan Wijaya dengan harapan bisa bertemu pula dengan Cytra. Sebab rasanya tidak mungkin kalau dia temui di rumah besar seperti istana itu.
Maka ketika ia melihat Putra sendirian di depan sekolah, Ibra langsung dekati anak itu. Rupanya anak itu sedang kebingungan. Karena orang yang biasanya mengantar sekolah tidak ada. Sedagkan Cytra dan Radita yang katanya akan menjemputnya belum datang.
Ibra kemudian menawarkan diri untuk mengantar pulang Putra. Anak genius itu tidak menolak. Karena sudah kenal baik dengan Ibra sebelumnya.
Sepanjang perjalanan pulang dari sekolah Putra sedikit berbicara. Kalau tidak ditanya oleh Ibra dia diam. Tapi akhirnya terungkap juga bila Putra sedang pingin mainan robot. Karena mainan robotnya sudah dirusak oleh Radita.
Begitulah yang melatarbelakangi sore itu Ibra pergi ke toko mainan. Tidak tahunya di toko mainan itu dia melihat Putra didampingi Cytra datang ke toko mainan yang sama. Jika tidak ada Radita mungkin itu kesempatan yang baik dia bisa bertemu Cytra dan membelikan mainan untuk Putra.
Sambil mengendarai mobilnya pergi dari toko mainan itu Ibra berpikir, apa mungkin dia nekat datangi rumah besar seperti istana itu dan menyerahkan mainan yang sudah ia beli. Apa besok pagi saja di sekolahan. Tapi apakah kini penjagaan Putra tidak lebih ketat. Setelah kejadian kemarin itu pasti Radita dan Cytra tidak ingin Putra pulang diantar lagi oleh orang lain.
\*\*
Besok paginya Ibra nekat datangi sekolahan Putra. Ia menunggu di dalam mobilnya pagi-pagi sekali. Sebelum murid sekolahan itu pada datang.
Ketika satu persatu murid sekolah itu berdatangan, Ibra makin serius mengamati mereka di dalam mobilnya. Dia berharap hari itu Putra dan Sanjaya diantar oleh pengawalnya. Hal itu lebih aman untuk ia berikan mainan yang sudah dibeli dengan dititipkan kepada pengawalnya.
Namun sungguh kecewa dia ketika Putra dan Sanjaya datang diantar oleh Cytra dan Radita. Tidak mungkin ia berikan mainan yang sudah dibungkus rapih itu kepada mereka. Ibra tidak ingin ribut-ribut di depan anak-anak.
Hampir saja Ibra menyetater mobilnya setelah Putra dan Sanjaya masuk ke sekolahannya masing-masing. Namun setelah itu nampak Radita masuk lagi ke dalam mobilnya. Sedangkan Cytra ditinggal di sekolahan itu.
"Oh, mungkin Radita mau pergi ke kantornya. Sedangkan yang menunggui Putra dan Sanjaya adalah Cytra," gumam Ibra masih berada di depan stir.
Benar dugaan tersebut. Cytra nampak melambaikan tangan dan kisbye kepada Radita yang pergi dibawa oleh mobil mewahnya itu.
Ibra bersabar sebentar untuk turun dari mobilnya. Walaupun dadanya sudah bergetar akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
Cytra ternyata masuk ke kantin yang berada di samping sekolahan. Ibra terus ikuti dengan matanya. Setelah Cytra duduk di salah satu kursi kantin itu Ibra perlahan menghampiri dengan dada jedag jedug.
Cytra setelah duduk dikursi langsung mengeluarkan laptopnya. Dengan laptop itu dia bisa menunggu anak-anaknya pulang sekolah sambil bekerja memantau seluruh perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya.
"Selamat pagi Lady Boss," sapa Ibra kepada wanita cantik dan anggun yang sedang memelototi layar laptop.
Cytra mendongak sebentar dan ketika melihat yang ada di depannya adalah mantan kekasihnya, ia cepat menunduk lagi menekuni laptopnya.
"Selamat pagi nyonya cantik," sapa Ibra lagi.
Cytra tetap tak menoleh. Tetapi pria di depannya itu sungguh tak tahu malu. Walaupun dicuekin begitu tetap berdiri menunggu untuk dipersilahkan duduk.
"Silahkan duduk," ucap Cytra ketus dengan tidak menoleh kepada Ibra.
"Terimakasih nyonya," ucap Ibra manis.
"Saya tak banyak waktu bicara. Cepat katakan keperluanmu," kata Cytra sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
Sungguh kali ini, walaupun Cytra menerimanya dengan angkuh dan ketus, wajahnya nampak sangat cantik. Ingin sekali Ibra menyentuh wajah itu. Tapi tak mungkin ia lakukan. Bisa dituduh kurang ajar nanti.
"Saya tidak ada waktu untuk bicara tidak penting." Cytra tetap tidak mau menoleh, kedua matanya yang indah itu tertuju ke layar laptop.
"Saya mau bicara soal Putra. Apakah ini tidak penting?"
Mendengar nama anaknya disebut Cytra langsung mendongak. "Sekali lagi kau dekat-dekat dengan anak itu. Akan kuadukan ke polisi. Karena kamu sudah dua kali membawa anakku tanpa ijin."
"Saya cuma mau memberikan hadiah ulang tahun kepadanya."
Cytra kaget kalau Ibra tahu Putra berulang tahun. Padahal dia sendiri tidak memperhatikan hal itu. Perhatiannya kini sedang fokus pada pekerjaan.
"Jangan sembarangan memberi barang pada anakku," kata Cytra tegas.
"Kenapa kamu sekarang begitu."
__ADS_1
"Begitu apa?"
"Tidak memberi kesempatan kepadaku untuk minta maaf."
"Aku sudah memaafkan. Dan sekarang silahkan tinggalkan tempat ini."
"Sebentar saya ingin membantu kamu soal sebagian aset perusahaan Mr Morgant yang sudah kamu serahkan kepada Deryll. Saya bisa bantu untuk membatalkannya." Ibra akhirnya menyampaikan inti tujuannya menemui Cytra.
"Persoalan yang sudah tidak menarik untuk dibicarakan."
"Kamu tidak ingin lebih kaya lagi dengan aset perusahaan tersebut?"
"Saya tidak gila harta. Percuma kaya tapi makan hati."
"Ya, saya memang banyak salah. Sering menyakiti hatimu."
"Saya tidak sedang bicara soal kamu. Buku soal kita sudah aku tutup untuk tidak aku buka lagi."
Ibra merasa terpukul mendengar kalimat tersebut. Mirip dengan yang ia alami saat Deryll membatalkan rencana pernikahannya dengan dirinya. "Sekarang aku telah menjadi pria yang tak berguna di depan wanita," gumamnya sedih.
"Kalau tidak ada yang akan dibicarakan lagi, silahkan kamu pergi. Aku sudah tidak punya waktu lagi bicara denganmu." Kalimat terakhir ini terasa makin menggigit perasaan ibra.
Lantas dia berdiri dari kursinya.
"Ok. Bila keputusanmu sudah bulat begitu. Tapi jangan cari aku bila suatu saat nanti Radita mengusirmu untuk yang kedua kalinya," kata Ibra lantas dia pergi dengan meninggalkan kado ulang tahun untuk Putra.
Cytra tak lantas nyaman setelah Ibra pergi. Apa yang dikatakan Ibra terakhir itu sangat mengganggu pikirannya. Apakah hal itu sebagai ancaman atau bukan, memang bisa menjadi sebuah kenyataan.
Tapi kalau Radita mengusirnya kembali dari rumah besar seperti istana itu, apa alasannya?
Dulu memang pantas kalau diusir karena Cytra tidak menuruti sarannya untuk tidak menyanyi di cafe. Sedangkan kondisinya yang sekarang Cytra telah berhasil menguasai beberapa perusahaan, dan mendapat julukan lady boss. Apa mungkin wanita dengan predikat hebat itu akan disepelekan oleh laki-laki.
"Ah! Ada-ada saja Ibra," gumamnya.
__ADS_1
Bersambung