
Dunia Davian seakan hancur seketika, dia langsung terduduk lemas, kakinya sudah tidak mampu menahan beban tubuhnya.
Davian melirik kedalam ruang operasi, disana terlihat Risa yang sedang terbaring diatas ranjang pasien, Davian langsung bangkit dan bergegas masuk ke dalam ruang operasi, Sam sigap menahan tangan Davian sambil menatap Davian.
"Jangan konyol, ini ruang operasi." Arti tatapan Sam
Davian pun langsung mundur tidak jadi masuk ke dalam ruangan operasi seakan mengerti maksud dari tatapan Sam.
- - -
Davian dengan setia menunggu Risa di dalam ruang perawatan, satu bulan berlalu Risa tidak sekalipun membuka mata.
Setiap hari Davian mengajak bicara Risa dengan harapan Risa tidak merasa kesepian dalam tidur panjangnya.
"Sam." Panggil Davian seraya bangkit menuju sofa yang terdapat di sudut ruangan itu.
Sam yang sedari tadi berdiri diam di belakang Davian pun mengikuti langkah Davian menuju sofa.
"Duduk." Ucap Davian ketika mereka sudah sampai di sofa.
"Ceritakan bagaimana bisa terjadi kecelakaan itu." Ucap Davian tegas.
Sam terdiam sesaat, dia sudah tahu pasti Davian akan menanyakan ini, Sam sebenarnya tidak ingin menceritakan perihal penyebab kecelakaan Risa.
- - -
__ADS_1
Siang itu Risa baru saja mengantar mamahnya kerumah saudara yang terletak lumayan jauh dari boutique sehingga Risa meminta Davian tidak menjemputnya.
Sepanjang jalan Risa tersenyum sendiri membayangkan ekspresi kesal dari Davian dan wajah terpaksa Davian yang menerima semua kehendak Risa.
Risa merasa sangat bahagia memiliki Davian, hidup yang sebelumnya dia jalani dengan susah payah kini dia tersenyum setiap hari menikmati setiap moment kebersamaan bersama Davian.
Risa melihat ponselnya yang berdering, ada nama Davian di sana, dia tersenyum sesaat kemudian mengambil ponsel untuk mengangkat panggilan dari Davian.
Risa kehilangan fokus sesaat karena melihat ponselnya, saat Risa kembali menatap ke depan dia dikejutkan dengan mobil dari arah berlawanan yang sudah ada di depan mobilnya, hingga terjadilah kecelakaan itu.
- - -
Davian mengambil nafas berat mendengar cerita dari Sam.
"Mobil siapa yang kecelakaan bersama Risa?" Tanya Davian.
"Sam!" Ucap Davian melihat Sam tidak menjawab.
"Siapa!" Bentar Davian yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Sam.
"Devi." jawab Sam lirih.
Davian mengepalkan tangannya erat mendengar jawaban Sam.
"Brengse*." Hardik Davian.
__ADS_1
Sam hanya terdiam menatap Davian yang terlihat sangat emosi
"Dimana dia sekarang?" Tanya Davian sembari mengeluarkan nafas berat.
"Sam!" Bentak Davian.
"Jangan membuatku menjadi orang lain di depan mu." Ucap Davian kesal.
"Devi sudah meninggal." Jawab Sam datar.
Seringai langsung timbul di bibir Davian mendengar penuturan Sam, Sam yang melihat hal itu langsung bergidik ngeri, dia sudah sangat paham arti seringai Davian, bahkan Sam sangat takut ketika Davian sudah menyeringai.
"Tak perlu repot aku mengirim mu ke neraka." Gumam Davian yang terdengar sangat jelas di telinga Sam
Di sisi lain Sam sebetulnya bersyukur Devi tewas dalam kecelakaan itu, dia sudah bisa menebak apa yang akan Davian lakukan setelah tahu Devi penyebab Risa terbaring di rumah sakit.
Sam bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Devi jika dia tidak meninggal saat ini.
Alat pendeteksi detak jantung tiba tiba berbunyi, Davian dan Sam yang sempat terdiam langsung terlihat panik menghampiri tempat Risa terbaring.
"Panggil dokter Sam." Teriak Davian pada Sam.
Dokter masuk kedalam ruangan dengan tergesa gesa setelah menerima panggilan dari Sam.
"Bisa tolong tunggu di luar." Ucap perawatan ketika dokter sedang memeriksa.
__ADS_1
"Siapa kamu bera..," ucapan Davian terputus, Sam langsung menarik Davian ke luar, dia mengangguk ke arah perawat sebagai bentuk permintaan maaf.
"Biarkan dokter melakukan tugasnya." Bisik Sam di telinga Davian, Davian yang sebelumnya memberontak langsung pasrah setelah mendengar bisikan dari Sam.