WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 120. Pertengkaran


__ADS_3

Mencintai dua wanita sekaligus jelas akan menuntut Radita harus pandai mengatur waktu untuk bertemu.


Maka pada hari itu ketika mengetahui Cytra dan dua anaknya akan menghadiri pesta ulang tahun teman Putra, Radita diam-diam menyusun acara untuk ketemuan dengan Vionita.


Pagi sekali dia keluar dari rumah dengan alasan ada pertemuan dengan para kolega perusahaan. Sebelumnya dia sudah kontak Vionita agar menunggunya di sebuah cafe. Radita tidak ingin Tante Mira tahu. Ia ingin pacarannya kali ini benar-benar terjaga privacynya.


Vionita juga rindu ingin bertemu Radita. Maka ketika pagi itu ia menerima telepon dari kekasihnya itu, hatinya senang sekali.


Mira curiga melihat Vionita sudah berandan cantik pagi itu. Padahal biasanya masih tidur, karena semalaman bekerja di cafe. Bangun tidur paling cepat jam 09.00. Tapi hari itu jam 08.00 Vionita sudah berdandan cantik.


"Tumben Von kamu sudah berdandan jam segini. Mau pergi kemana?" tanya Mira yang baru bangun tidur karena mendengar suara berisik di kamar sebelah, kamarnya Vionita.


"Anu..., mau ke tempat cucu. Tidak biasanya perasaan saya pingin ketemu Putra dan Sanjaya," jawab Vionita berbohong.


"Pingin ketemu cucu apa Radita, kayaknya kok aneh kamu ingat cucu," kata Mira menyelidik.


Sejak Cytra punya anak dari perkawinannya dengan Samyokgie, Vionita memang jarang sekali bertemu dengan Cytra dan anak-anaknya. Bahkan bisa dihitung dengan jari dia bertemu anak dan cucu. Itu pun setelah Samyokgie meninggal.


Sangat dimaklumi jika saat itu Vionita sungkan bertemu mereka. Bahkan masih tersimpan perasaan kecewanya dengan Cytra karena secara tidak langsung telah merebut suaminya. Walaupun saat itu dia sudah pisah ranjang dengan Samyokgie, tetapi sangat menyakiti perasaannya. Kalau bukan anaknya sendiri mungkin Cytra sudah ia labrak mentah-mentah.


"Hai! Tumben kamu pingin ketemu cucu?" ulang Mira bertanya kepada Vionita.


"Ah, ya. Tumben Mir. Ndak tahu nih tiba-tiba wajah-wajah mereka terbayang di benaku," jawab Vionita tergagap.


"Menurutku sih bagus juga kalau kamu pingin ketemu cucu. Tapi kalau kamu mau ketemu Radita saya minta jangan di rumah. Nanti bisa mengganggu rencana kita untuk menjodohkan Cytra dan Ridwan."


"Ya, tidak dong, Mir. Saya dan Radita juga sudah tahu rencana kamu itu. Jangan kuatir rencana kita pasti akan sukses."


"Kayak tim capres saja kamu pakai istilah sukses."


Hahahaha..., Vionita tertawa renyah.


"Tapi benar kan kamu mau bertemu dengan cucu?" tanya Mira lagi seperti belum yakin.

__ADS_1


"Iya, saya mau ketemu cucu. Soal disana Ada Radita kita kan bisa bermain sandiwara. Jangan sampai Cytra curiga."


"Baiklah. Kamu pake saja mobilnya Ridwan itu di garasi. Dasar urakan punya mobil baru cuma disimpan saja. Senengnya pakai motor," kata Mira setengah mengeluh kepada anaknya itu.


"Makasih, Mir. Nanti bilangin Ridwan ya mobilnya saya pake."


Sungguh pertemuan yang sangat menyenangkan dengan Radita di cafe yang memang dikhususkan untuk orang dewasa itu.


Perasaan Vionita seperti muda kembali ketika datang dengan mobil bagus. Radita yang sudah menunggunya beberapa jam yang lalu menyambutnya penuh ceria. Mereka mengambil tempat di ruang paling dalam sekedar untuk minum dan makan makanan kecil.


Hingga makan siang mereka berada di cafe itu. Cuma ngobrol dan saling menggoda dan merayu. Tak jarang pula mereka saling cubit, merangkul dan berciuman.


Esok harinya ketika mereka sudah berada di rumah masing-masing, acara pacaran itu menjadi sebuah pertengkaran yang menggemparkan di rumah Radita.


Para asisten rumah tangga tidak ada yang berani mendekat ke ruang keluarga tempat Cytra dan Radita sedang bertengkar. Sedangkan Putra dan Sanjaya sudah berada di sekolah masing-masing.


"Aku tidak percaya lagi dengan kamu, Mas. Kepercayaanku sudah kamu rusak sendiri," Cytra merajuk.


"Bukannya aku percaya atau tidak percaya dengan Tante Mira. Tetapi dari perkataannya saya bisa membaca bahwa Mama kemarin pergi dengan kamu."


"Tante Mira bicara seperti itu dengan kamu?"


"Tante Mira bilang bahwa Mama pergi mau menemui cucunya. Tapi nyatanya Mama tidak sampai di rumah ini. Lalu kemana Mama perginya kalau tidak dengan kamu."


"Terlalu gegabah kalau kamu berkesimpulan seperti itu. Memangnya kenalan Mamamu cuma aku saja. Sehingga kamu menuduhku kemarin pergi bersama Mamamu," Radita merasa mendapat angin untuk mendebat.


"Lalu kemana kamu pulang sampai dini hari. Pada jam yang sama Mama juga pulang ke rumah Tante Mira dengan mengendarai mobil sendiri."


"Kan bisa saja hal itu terjadi secara kebetulan."


"Apakah kebetulan kalau mama pergi menyetir sendiri, kamu juga pergi menyetir mobil sendiri. Apakah itu bukan sebuah kesengajaan. Sengaja untuk bertemu di sebuah tempat agar aku tidak tahu?"


"Prediksimu sangat liar dan tidak berdasar. Itu bisa disebut sebuah fitnah, Sayang."

__ADS_1


"Saya tidak memfitnah, tapi berdasarkan fakta yang ada saya memperkirakan kamu sudah berselingkuh!" Cytra menangis tersedu-sedu.


Radita mencoba mendiamkan Cytra dengan mengelus-elus punggungnya.


"Aku masih mencintaimu, Sayang. Kamu jangan menuduhku begitu," ucap Radita merayu.


"Ok. Kalau kamu ingin aku tidak menuduhmu selingkuh beri aku alasan yang masuk akal kenapa kamu pulang sampai dini hari."


Radita berpikir sejenak lalu katanya;


"Saya kemarin bener sama kolega di cafe. Ya, biasa cuma minum-minum dan ajojing berama sampai larut malam."


Cytra tidak berhenti menangis malah makin tersedu-sedu. "apakah jawabanku kurang meyakinkan," gumam Radita.


"Mungkin memang salahku. Kenapa aku berprasangka buruk kamu dan Mama telah berbuat sesuatu. Bukankah dia Mamaku sendiri. Tidak mungkin dia berbuat setega itu kepadaku," kata Cytra berusaha menghapus perasaan duka dan prasangka buruknya sendiri.


"Sudahlah, Sayang. Jangan disesali berlarut-larut. Nanti kesehatanmu akan terganggu. Bukankah besok katanya kamu akan mulai kerja full lagi di Bali," kata Radita seolah penuh pengertian.


"Itulah yang aku sayangkan. Kenapa disaat kita sedang menunggu pernikahan sekarang ini banyak masalah yang menghadang kepada kita. pertanda apakah ini." Cytra menatap ke depan seperti ada sesuatu di dalam hatinya yang akan hilang.


"Itu mungkin ujian. Kita harus menghadapinya dengan sabar dan penuh optimistis agar dapat melewatinya," kata Radita menasihati.


"Aku pun ingin berharap. Nanti ketika aku berada di Bali kamu jangan banyak pergi keluar. Kecuali memang ada acara kantor yang tidak bisa kamu tinggalkan," pinta Cytra dengan sungguh-sungguh.


"Akan aku laksanakan permintaanmu itu. Kita nanti agar komunikasi setiap hari. Kalau perlu setiap satu jam sekali kita abded sedang ada dimana kita," saran Radita dengan sikap serius.


"Ya, tidak harus serepot itu, Mas. Pokoknya kita saling percaya saja. Serta mau menjaga kepercayaan masing-masing."


"Saya pun berharap seperti itu. Walaupun di Bali banyak pria cakep dan tajir, aku percaya kamu mampu menjaga kepercayaan yang telah aku berikan," kata Radita menyimpan secuil kecemasan.


Cytra menanggapinya dengan tersenyum getir. "Kenapa justru aku yang dicurigai. Bukankah aku yang patut mencurigaimu," bisik hatinya.


Berakhirlah pertengkaran Radita dan Cytra hari itu? Masih perlu pembuktian. Karena kini telah tertanam rasa ketidaksukaan di lubuk hati mereka masing-masing. Cytra tidak suka karena Radita sudah berani tidak jujur kepadanya. Sebaliknya Radita merasa telah terhalangi gelora cintanya kepada Vionita.

__ADS_1


__ADS_2