
Esok harinya Cytra tidak sabar menunggu Al di kantor. Tapi pria lajang itu tidak kelihatan batang hidungnya sampai siang. Malah yang datang ke ruang kerjanya Mellany mengabarkan bahwa Al sejak sore kemarin sudah tidak lagi di homestay tempat dia menginap.
"Apa Iya?"
"Begitu tadi Tuan Alberto mengatakan via telepon. Alasannya lingkungan setempat sudah tidak nyaman lagi untuk istirahat," kata Mellany.
"Apa betul dia merasa tidak nyaman tinggal di homestay? Itu tanggungjawabmu lho Mell. Dia tamu penting jangan sampai pelayanan kita mengecewakannya," kata Cytra.
"Secara internal sudah lebih baik pelayananan yang kita berikan dari tamu-tamu sebelumnya. Mungkin ada faktor eksternal yang membuat beliau tidak betah tinggal di homestay," jelas Mellany.
"Apa mungkin sekarang dia sudah tahu kalau homestaynya ternyata berdekatan dengan rumah yang kita tempati. Sehingga merasa kurang nyaman privacynya." Cytra memperkirakan penyebabnya.
"Saya tidak tahu kalau itu alasannya. Yang pasti kita sudah mengarahkannya agar menginap di hotel. Kemudian beliau memilih sendiri tempat penginapannya di homestay. Kita sudah maksimal melayaninya, Bu," kata Mellany menyampaikan pendapatnya.
"Apa tadi beliau tidak menerangkan mengapa lingkungan homestaynya tidak nyaman?" tanya Cytra.
"Beliau cuma mengatakan tidak nyaman saja. Tanpa menyebutkan apa yang menyebabkan beliau tidak nyaman tinggal disana."
"Ya, sudah kau pantau saja terus. Kalau perlu dicarikan tempat penginapan yang cocok bagi dirinya. Jangan sampai dia menuduh kita tidak bisa melayani tamu penting dengan baik."
Setelah menyampaikan soal pindahnya tempat penginapan tamu penting itu, Mellany pergi meninggalkan Cytra sendirian di ruang kerjanya.
Duduk sendirian di ruang kerjanya, Cytra bukannya kembali bekerja, namun malah lebih serius memikirkan Al. Diingatnya kembali apa yang sudah ia katakan kemarin. Sepertinya tidak ada yang menyinggung perasaan. Yang dibicarakan saat itu cuma pengalaman Al menginap di homestay. Termasuk pengalamannya yang lucu itu. Tidak mungkin hal itu yang menyebabkan dia pindah penginapan.
Disaat Cytra sedang suntuk memikirkan Alberto, tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar ruang kerjanya. Cytra akhirnya keluar pingin tahu apa yang terjadi. Ternyata seorang security sedang berusaha menghalangi wanita cantik yang memaksa masuk ke dalam kantor. Wanita itu berambut pirang keemasan dan matanya indah berwarna biru.
"Ada apa ini kok ribut-ribut?" tanya Cytra kepada petugas security.
"Ini Nyonya ada tamu asing memaksa masuk," kata security sambil tetap menahan wanita cantik itu berjalan mendekati Cytra.
"Lepaskan saja, Pak. Antar dia masuk ke ruang kerjaku," kata Cytra.
Setelah dilepas oleh security wanita tinggi semampai itu berjalan mendekati Cytra.
__ADS_1
"Hello, I am sorry... Saya Hanna," wanita blonde itu mengajak salaman kepada Cytra.
"Excuse me... Apa yang bisa saya bantu?"
"Saya mencari Alberto... Apakah dia ada disini?"
Cytra mulai menemukan titik terang kenapa Al menghilang.
"Mari silahkan masuk... Kita bicara di dalam," ajak Cytra masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Apakah saya berhadapan dengan Nyonya Amalia Morgant?" kata wanita blonde bernama Hanna itu.
"Ya, benar saya Cytra. Ada hubungan apa anda mencari Alberto?" tanya Cytra.
"Saya calon istrinya. Nyonya Cytra tahu ada dimana dia sekarang?"
Cytra lalu ceritakan tentang Alberto yang datang ke Indonesia dalam rangka liburan sekaligus melihat-lihat perusahaan pamannya yang ada di Indonesia. Termasuk perusahaan yang Cytra pimpin.
"Tapi sekarang entah ada dimana dia. Sejak kemarin sore sudah tidak ada lagi di tempat penginapannya," papar Cytra.
"Nona Hana tidak percaya apa yang saya katakan tadi."
"Ya, saya percaya. Tapi semestinya sebagai pemimpin perusahaan tahu bagaimana melayani tamu penting. Apalagi dia masih saudara mendiang suami Nyonya, Mr Morgant," ujar Hanna agak menyentil perasaan Cytra.
"Dia sudah kami layani dengan baik, kami sediakan hotel yang baik. Tapi memilih penginapannya di homestay. Dan sekarang dia pergi dari tempat itu atas kemauannya sendiri. Mana yang salah dari kami?" Cytra membalasnya dengan sengit.
"Tapi kenapa sekarang mengatakan tidak tahu dimana dia berada?" Hanna terlihat masih tidak percaya dengan kata-kata Cytra.
Mendengar kalimat itu Cytra makin kesal menghadapi wanita bermata biru itu. Tapi ia tahan agar tidak sampai meluap amarahnya.
"Silahkan anda cari sendiri dimana Alberto berada. Bukankah anda calon istrinya. Masa sampai tidak tahu kemana dia pergi. Jangan-jangan kalian sedang ada problem," Cytra tak segan-segan menohok jantung Hanna.
"Ada problem atau tidak ada problem itu bukan urusan Nyonya."
__ADS_1
"Memangnya aku peduli dengan urusanmu," Cytra makin tak terkontrol bicara.
Hanna lalu mencengkram kerah baju Cytra. Dia tidak tahu siapa Cytra. Mantan penyanyi cafe yang biasa berhadapan dengan lingkumgan yang keras dan sangar. Selain itu Cytra pun punya ilmu bela diri yang cukup matang.
Maka tangan Hana yang sedang mencengkram kerah bajunya, itu dengan cepat beralih posisi ganti yang dicengkram oleh tangan Cytra yang kuat. Bahkan sedikit dipelintir. Sehingga wanita berambut pirang itu menjerit kesakitan.
"Aouw!! Kenapa kau kasar begitu?" Hanna berteriak kesakitan dan menarik tangannya kembali.
"Kamu yang memulai kurang ajar dulu kepadaku. Aku tidak suka kau hadir disini."
"Akan kuadukan sikapmu itu kepada Alberto. Agar kau dipecat tidak lagi memimpin perusahaan ini," kata Hanna sewot.
"Ketahuilah, Alberto sudah tidak mau lagi mendengar omonganmu. Dia pergi karena menghindar dari wanita seperti anda," Cytra ngomong ngawur saking emosinya.
Hanna terpana sebentar mendengar kalimat Cytra mendekati kenyataan yang sedang dia alami. Ada dua butir bening tiba-tiba menetes ke pipi.
"Tolong bantu aku Nyonya. Bilang kepadanya bahwa aku ingin kembali kepadanya. Selama ini aku telah berbuat salah. Tapi aku kira masih ada kesempatan untuk bersatu lagi," Hanna berkata dengan sangat sedih.
Cytra bingung melihat sikap Hanna yang tiba-tiba lunglai oleh penyesalannya. Padahal tadi Cytra bicara tanpa dasar. Kebetulan sama dengan kondisi Hanna yang sedang ada masalah dengan Al.
"Ok. Nanti akan aku sampaikan kepadanya. Tapi benar aku tidak tahu kemana dia pergi," kata Cytra akhirnya merasa kasihan kepada Hanna.
"Apakah Nyonya tahu dimana dia menginap?"
"Ya, penginapannya di homestay. Tapi dari kemarin sore ternyata tidak ada lagi disana."
"Kalau begitu saya minta tolong diantar ke tempat penginapannya. Nyonya tidak keberatan kan?"
Cytra tak langsung menyanggupi. Ia berpikir bagaimana nanti kalau justru dia disalahkan oleh Al. Karena bisa jadi Al pergi tanpa bilang-bilang karena menghindar bertemu Hanna.
"Ok, tapi jangan sekarang. Maaf hari ini saya sedang sibuk bagaimana kalau besok saja. Agar anda istirahat dulu malam ini dengan tenang."
"Ok. Thank you for the help. Besok kita ketemu lagi di kantor ini ya?"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Hanna pergi. Cytra memperhatikannya dengan perasaan sedih. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan wanita yang sedang ditinggal kekasihnya.
Bersambung