WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 139. Pertemuan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Mendung tebal menggantung di langit. Cytra kaget mengira masih pagi karena cuaca gelap. Ternyata sudah siang. Putra dan Sanjaya juga sudah berangkat sekolah ketika ia bangun tidur.


Agak limbung Cytra berjalan dari kamar anaknya. Mbak Irah asisten rumah tangga yang mengurus keperluan kedua anaknya terkejut melihat Nyonya berjalan tiba-tiba menabrak kursi meja makan.


Bruak!!


"Aduh kenapa Nyonya?" Mbak Irah buru-buru menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Antar aku ke kamar kepalaku pening sekali," suara Cytra terdengar serak.


"Badan Nyonya juga panas," kata Mbak Irah sambil memapah Nyonya masuk ke kamarnya.


"Ambilkan aku air hangat dan obat pening," pinta Cytra setelah rebahan di ranjang.


Mbak Irah buru-buru lari ke lemari tempat obat. Setelah mengambil obat pening dan segelas air putih dia bergegas ke kamar Nyonya. Ia bantu Nyonya duduk dan meminum pil yang diminta. Setelah minum obat Nyonya rebahan lagi.


"Nyonya, belum sarapan. Saya ambilkan bubur ya," kata Mbak Irah.


"Ya, jangan banyak-banyak ya, Mbak. Sekalian ambilkan hape saya di meja itu," pinta Cytra.


Mbak Irah mengambilkan hape dulu lalu pergi untuk memgambil sarapan. Ketika kembali ke kamar terlihat Cytra selesai menelpon seseorang. Entah siapa. Mbak Irah tak perlu tahu.


"Bilang sama Pak Jono nanti kalau ada tamu suruh saja masuk ke dalam," kata Cytra sambil menyendok bubur dalam wadah mangkok.


Mbak Irah lalu meninggalkan Nyonya rumah sendirian di kamar. Setelah menyampaikan pesan kepada Pak Jono, ia kembali lagi ke dapur. Di dapur ia ditanya asisten rumah tangga lainnya tentang sakitnya Nyonya.


"Mungkin kecapean. Kemarin kelihatannya dia sibuk sekali. Tamu datang silih berganti," cerita Mbak Ira di depan Bi Nur dan Bi Kari.


p


"Kelihatannya Nyonya banyak pikiran sehingga sampai drop begitu," ujar Bi Nur.


"Padahal Nyonya pindah ke rumah ini untuk mencari ketenangan tapi malah banyak gangguan," kata Irah.


"Kamu tahu tidak, Ir. Kenapa Nyonya pindah ke rumah ini," tanya Bi Kari.


"Ya, tidak tahu. Karena kita semua baru bekerja dengan Nyonya," jawab Irah.


"Mungkin ada masalah. Tidak mungkin tidak ada masalah orang pindah rumah apalagi untuk menghindari bertemu orang," Bi Kari bicara lebih mendalam.

__ADS_1


"Jangan berpikiran buruk dulu, Bi. Nyonya itu orang hebat," Irah mengingatkan.


"Justru itu Ir. Orang hebat itu malah banyak masalahnya. Berbeda dengan kita orang kecil?" Bi Kari menyangkal.


Disaat para asisten sedang ngrumpi begitu Pak Jono masuk. Mereka pun berhenti bicara seketika.


"Mbak Irah kesini!" panggil Pak Jono dari ambang pintu dapur.


Mbak Irah bergegas meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Pak Jono.


"Ada apa Pak?" tanya Irah.


"Nyonya ada, Ir?" tanya Pak Jono.


"Ada. Tapi nyonya sedang tiduran sedang tidak enak badan," kata Mbak Irah.


"Ada tamu di depan katanya mau bertemu Nyonya," kata Pak Jono.


"Oya tadi Nonya berpesan kalau ada tamu suruh saja masuk," kata Mbak Irah.


"Oh begitu. Tapi kamu bilang sama Nyonya, ya."


"Ya, Pak."


Karena menurut Mbak Irah sudah ada ijin dari Nyonya, maka tamu seorang laki-laki itu dipersilahkan Pak Jono duduk di ruang tamu.


Lelaki itu pertama kali ditemui oleh Mbak Irah. Tanpa basa-basi Mbak Irah langsung membawakan minuman dan makanan kecil.


"Silahkan, Tuan. Tunggu sebentar Nyonya sedang tidak tidak badan," kata Mbak Irah sambil meletakan minuman dan makanan di atas meja. Lalu setelah itu masuk lagi ke dalam.


Cytra yang masih dalam kondisi demam berusaha bangun dari tempat tidurnya. Mbak Irah merasa kasihan melihat Nyonya kepayahan berdiri karena kepala sedang pening.


"Kalau tidak kuat berdiri biar Nyonya tiduran lagi saja. Nanti tamunya tak bilangin Nyonya tidak bisa menemui," kata Mbak Irah.


"Tidak apa-apa dia memang tadi saya telpon untuk mengantar saya ke dokter," kata Cytra dengan suara serak.


Mbak Irah akhirnya memapah Cytra berjalan menuju ke ruang tamu. Tapi kemudian langkah Cytra berhenti mendadak setelah melihat siapa yang ada di ruang tamu.


"Radita! Kenapa dia yang datang, bukan Ridwan yang sudah aku telepon," jerit hati Cytra. Lalu berbalik kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Si tamu yang ternyata Radita melihat Cytra berbalik tidak jadi menemuinya bereaksi dengan memanggilnya kasar.


"Cytra!" suara lelaki itu keras terdengar.


Cytra berhenti dengan masih dipapah oleh Mbak Irah.


"Kenapa kau menghindar bertemu denganku?" suara Radita terdengar kasar.


"Maaf, Tuan. Nyonya masih sakit jangan dibentak-bentak," ucap Mbak Irah merasa kasihan.


"Oh, maaf. Ternyata kau masih sakit ya," si tamu itu mengecilkan suaranya dan mendekat ke tempat Cytra berdiri.


"Panggil Pak Jono suruh pergi tamu itu!" kata Cytra dengan tidak mau memandang ke arah pria tampan yang telah menusuk hatinya dari belakang itu.


"Aku mohon sebentar saja saya mau bicara," kata Radita memohon.


Cytra tak menggubris lalu minta Mbak Irah memapahnya kembali ke kamar.


"Sekali lagi aku mohon, Ci. Jangan kau siksa aku dengan rasa penyesalan ini," Radita menahan Cytra dengan memegang tangannya.


"Tidak perlu. Sudah aku ikhlaskan kau pergi dengannya. Sudah selesai semuanya. Aku sudah melupakan kejadian itu," Cytra berkata dengan menahan perasaan bencinya yang meluap-luap.


"Tidak adil kalau kau membenciku. Karena insiden itu terjadi semata-mata bukan karena kesalahanku. Aku telah jadi korban balas dendam," tutur Radita dengan penuh perasaan.


Cytra menutup telinganya tak mau mendengarkan kalimat ysng menusuk-nusuk hatinya itu. Kakinya terasa lemas tak kuat lagi berdiri. Mbak Irah kemudian menuntunnya duduk di sofa ruang keluarga.


Cytra paham apa yang dimaksudkan Radita. Seandainya Vionita tidak memasukan serbuk perangsang ke dalam minuman, mungkin tidak akan terjadi insiden persetubuhan di rumah Tante Mira.


"Aku berkata begitu bukannya mau mengelak kesalahan yang telah aku perbuat. Aku cuma ingin kau mengerti dan memaklumi insiden itu terjadi. Aku tak ingin kau membenciku seperti bajingan. Apalagi kau terus menghindar untuk tidak bertemu. Seolah-olah aku adalah bangkai busuk yang mencemari nama baik dan reputasimu."


Cytra tambah menunduk menangis. Inilah yang tidak diinginkan bertemu dengan Radita. Karena sangat tidak menguntungkan bagi dirinya. Kejadian itu akan membuat perasaannya semakin jatuh terpuruk.


Maka selama ini dia pilih menghindar. Jangan sampai bertemu dengan Radita apalagi Vionita.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang?" suara Cytra terdengar lirih.


"Aku cuma ingin maafmu saja. Dan jangan menghindar bertemu denganku, juga dengan Vionita," kata Radita.


Permintaan itu kelihatan ringan terdengar. Tapi mana mungkin Cytra bisa menjamin hatinya tidak berubah. Sebelum insiden persetubuhan itu sendiri berlangsung, sebenarnya Cytra sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadikan Radita sebagai cinta terakhirnya.

__ADS_1


Seperti juga apa yang pernah dikatakan Radita, bahwa Cytra adalah wanita terakhir yang dia cintai. Tidak akan ada lagi wanita berikutnya yang akan mengisi hatinya.


Bersambung


__ADS_2