WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
KEPULANGAN TUAN ABAS


__ADS_3

Davian berjalan gontai memasuki rumahnya, dia baru saja mengantar Aditya setelah beberapa jam mereka mengobrol.


Mereka bersepakat untuk merahasiakan semua dari tuan Abas mengingat kondisi tuan Abas, Davian dengan berbesar hati rela mundur dan mendukung hubungan Aditya dengan Andini.


- - -


Pagi hari Davian bersiap menuju rumah sakit untuk menjemput tuan Abas, semalam Aditya sudah berpesan agar Davian menjemput tuan Abas karena dia ada keperluan yang tidak bisa di tunda.


Davian tiba dirumah sakit, dia langsung menuju ke ruang perawatan tuan Abas


"Sepertinya kamu sedang dalam keadaan yang tidak baik Dav?" tanya tuan Abas ketika Davian sedang membantunya bersiap kembali ke rumah.


"Hanya ada masalah di kantor saja paman." ucap Davian sambil tersenyum.


Tuan Abas menatap Davian dengan tatapan tidak percaya, dia sudah mengenal Davian bahkan merawatnya sejak kecil, Davian lah yang menemani tuan Abas saat Aditya pergi untuk tinggal bersama ibunya.


"Semua masih bisa Dav atasi paman!" ucap Davian meyakinkan tuan Abas.


Dokter Sifa masuk untuk mengecek kondisi tuan Abas sebelum dia kembali ke rumahnya


"Permisi." ucap dokter Sifa yang melihat tuan Abas dan Davian sedang berbicara serius.

__ADS_1


"Oh terimakasih dokter anda datang tepat waktu." ucap Davian dalam hati.


"Saya akan memeriksa kondisi tuan." lanjut dokter Sifa yang telah bersiap dengan stetoskop nya.


"Kondisi tuan Abas sudah kembali pulih, tuan perhatikan pola makan dan tetap berolahraga." ucap dokter Sifa ramah.


"Baik dokter saya akan memperhatikan Paman." ucap Davian menjawab.


"Dokter mengajak bicara paman kenapa kamu yang jawab Dav." ucap tuan Abas bercanda dengan Davian, yang membuat wajah Davian merah karena malu.


"Hahaha paman tahu, kalian lanjut ngobrol nanti saja dokter Sifa sedang bekerja sekarang." lanjut tuan Abas menggoda Davian, Dokter Sifa hanya tersenyum melihat tuan Abas menggoda Davian.


"Dav hanya ingin mengingatkan paman saja, makanya Dav menjawab dokter Sifa." kilah Davian.


"Nanti kalian lanjut obrolan di luar dokter Sifa punya banyak waktu setelah selesai jam kerja." ucap tuan Abas sambil mengedipkan mata ke Davian.


"Benar kan dokter?" tanya tuan Abas dengan senyum penuh arti.


Dokter Sifa hanya menjawab dengan senyuman kemudian pamit meninggalkan ruang perawatan tuan Abas.


- - -

__ADS_1


Andini turun dari lantai kamarnya dengan muka sembab, dia semalaman menangis memikirkan Davian, dia merasa sangat bersalah dengan Davian.


"Ke ruang kerja kakak, ada yang mau kakak bicarakan." ajak David saat bertemu Andini di ruang makan.


"Apa kamu yakin dengan keputusan mu?" tanya David setelah mereka duduk di ruang kerjanya.


"Andini merasa inilah yang terbaik kak." jawab Andini.


"Kakak harap begitu." ucap David dengan raut wajah kecewa yang tidak bisa dia sembunyikan.


"Apa kakak marah pada Andini?" tanya Andini


David menatap Andini sesaat.


"Kakak tidak marah padamu." jawab David singkat.


"Apa kakak kecewa?" tanya Andini lagi.


"Kakak hanya sedikit kecewa dengan keputusan mu, bukan kakak menyesali dengan keputusan kakak untuk menerima Sinta agar kamu memiliki waktu bersama Davian, tapi kakak kecewa dengan alasanmu." ucap David dengan tatapan sayu.


"Kakak yakin ada alasan lain tapi biarlah kakak tidak perlu tahu." lanjutnya.

__ADS_1


"Maafkan Andini kak." Andini tertunduk merasa telah mengecewakan David.


"Sudahlah, mungkin ini semua sudah takdir, mulai sekarang kamu harus fokus pada Aditya, kamu yang memilihnya jangan sampai kamu mengecewakan nya juga." ucap David sembari mengelus rambut adik kesayangannya.


__ADS_2