WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 121. Dendam Yang Tersimpan


__ADS_3

Kejadian sekian tahun yang lalu itu menjadi dendam yang tersimpan dalam lubuk hati Vionita. Kejadian ketika Cytra dengan sengaja menangguk air keruh saat Vionita dengan suaminya sedang berkemelut.


Walaupun akhirnya Vionita menyerahkan suaminya kepada Cytra, namun tak ayal meninggalkan luka yang dalam bagi Vionita.


"Aku khilaf, Ma. Mataku silau melihat ketampanan dan kegagahan Tuan Samyokgie. Hingga aku serahkan tubuhku untuk ia gauli di hotel itu," kata Cytra seperti tidak merasa berdosa.


Vionita saat itu seperti dipaksa untuk menelan pil pahit. Mau tidak mau, ikhlas atau tidak ikhlas, dia harus pergi dari rumah Samyokgie yang besar seperti istana itu. Kemudian kedudukannya digantikan oleh Cytra.


"Anak durhaka!" umpat Vionita.


Sejak kejadian itu Vionita hidup sendiri di rumahnya yang sempit dan berdempet-dempet dengan rumah lainnya. Entah apakah Cytra memikirkan nasibnya yang kemudian terlunta-lunta. Tempat tinggalnya berpindah-pindah ikut teman-temannya yang baik hati. Dan kini hidupnya sedikit lebih nyaman setelah membuka usaha cafe bersama Mira.


Maka kehadiran Radita saat ini sangat berarti dalam hidupnya. Sudah lama dia menantikan seorang pangeran yang baik yang bisa mengangkat hidupnya lebih baik lagi. Dan hal itu ia temukan dalam diri Radita. Pewaris tunggal kerajaan Prama Group. Salah satu perusahaan besar yang menguasai bisnis di negeri ini.


Kadang ketika sendirian di dalam kamar, seperti siang ini, Vionita merasa angan-angannya itu terlalu muluk-muluk. Mana mungkin bekas seorang penyanyi cafe bisa menggaet pria anak konglomerat. Tapi kalau Cytra saja dulu bisa menaklukan hati Tuan Samyokgie, kenapa dia tidak bisa menggaet putra mahkotanya, yaitu Radita.


Kenyataannya saat ini dari dua kali pertemuan, Radita menyatakan benar-benar jatuh cinta kepadanya. Lalu ketika ia tanyakan lebih cinta mana dirinya dengan Cytra. Radita menjawab dengan mantap lebih cinta Vionita.


"Kamu tidak menganggapku sebagai gula-gula saja, kan. Setelah sepah rasanya lantas kau buang?" tanya Vionita dalam pertemuan kedua kemarin malam.


"Tidak, Sayang. Benakku sedang merancang bagaimana menggagalkan rencana pernikahanku dengan Cytra. Ini memang bukan pekerjaan ringan. Karena terkait pula dengan anak-anak. Putra dan Sanjaya yang tadinya menolak aku jadi papanya, sekarang sudah mau menerima. Persoalan ini yang masih kupikir bagaimana untuk mencari jalan keluarnya."


"Menurutku tidak masalah soal mereka. Karena anak seusia mereka gampang sekali berubah pikiran."


"Benar, Sayang. Kita berdoa saja semoga persoalan yang kita hadapi cepat selesai. Dan setelah itu kita menikah."

__ADS_1


"Menikah? Tidakkah aku salah mendengarnya?"


"Tidak, Sayang. Malam ini pun kalau ada penghulu disini aku mau menikahkan kita."


"Iya, Sayang. Aku pun mau!" seru Vionita membuat pengunjung cafe lainnya pada menoleh.


Hahaha!! mereka tertawa penuh suka cita malam itu.


Paginya ketika di rumahya Radita dan Cytra bertengkar hebat, di rumah Tante Mira juga terjadi ketegangan kecil antara Vionita dan Mira.


"Makanya kalau pacaran itu bilang aja mau pacaran, jangan bohong mau nengok cucu. Akibatnya kan begini. Cytra curiga kepadamu," Mira menyalahkan Vionita.


"Kenapa kamu mesti nelpon ke rumah Radita menanyakan aku sudah sampai atau belum," Vionita tak mau disalahkan.


"Yah, kita ambil sebagai pengalaman saja. Jangan sampai terjadi keteledoran seperti itu lagi. Semoga Radita bisa membuat alibi mengelak tidak ketemuan dengan kamu. Sehingga tidak menuduhmu mau merebut calon suaminya."


"Kalaupun dia menuduhmu begitu saya kira juga tidak masalah. Karena kamu bukannya merebut calon suaminya. Tetapi calon suaminya sendiri yang ingin kembali kepada cinta pertamanya," kata Mira membela Vionita.


"Ya, jelas kau membela saya. Karena kamu menginginkan Cytra menjadi mantumu."


"Tapi saya khawatir dengan adanya masalah ini, Cytra menjadi antipati terhadap Ridwan. Sebagai pembalasan atas sikap kita yang membiarkan calon suaminya mengambil jalan yang salah menjelang pernikahannya."


"Jangan berpikiran sempit begitu, Mir. Biarkan saja anakmu mencari jodohnya sendiri. Kalau memang takdir mengatakan Cytra bukan jodohnya Ridwan, cari saja gadis lain. Tidak perlu bingung-bingung."


"Tapi Von, sudah banyak wanita yang menolak diajak menikah oleh Ridwan. Harapan saya terakhir pada Cytra. Karena dia anakmu. Kamu bisa merayunya agar mau menikah dengan Ridwan."

__ADS_1


"Maaf, Mir. Untuk saat ini saya tidak bisa dekat dengannya, apalagi merayunya agar mau menikah dengan Ridwan."


"Itulah yang aku cemaskan, Von. Kejadian antara dirimu dengan Radita jelas akan merubah sikap Cytra kepada kita. Mungkin sekarang Cytra menilai kita sebagai orangtua yang tidak tahu diri."


"Maksudmu aku orangtua yang tidak tahu diri?" Cytra agak tersinggung dengan kalimat Mira yang terakhir.


"Bukan-bukan begitu maksudku!"


"Ketahuilah, Mir. Perlakuan Cytra dulu jauh lebih tidak tahu diri dan kejam terhadapku. Apakah ada di dunia ini seorang anak merebut suami ibunya. Saat itu dia seperti menangguk ikan di air keruh. Di saat aku dan Samyokgie sedang ada konflik. Coba kamu pikir, apakah itu yang namanya anak tahu diri, hormat kepada orangtua," kata Vionita emosional teringat kembali luka yang sudah ditorehkan oleh Cytra.


Mira memaklumi apabila Vionita bicara dengan perasaan emosional seperti itu. Karena Mira tahu sejarahnya bagaimana Vionita bisa diperistri oleh Samyokgie. Awalnya adalah karena berteman sangat akrab dengan istri Tuan Samyokgie saat itu, yakni Prama Agustin.


Prama Agustin berasal satu daerah dengan Vionita dari Jawa. Tetapi bukan karena sentimen kedaerahan itu yang membuat mereka akrab. Melainkan karena Agustin sangat mengagumi suaranya dan penampilan Vionita menyanyi di cafe.


Pada suatu saat ketika Agustin sakit keras dan cuma bisa tinggal di rumah, Vionitalah yang menemani. Setiap hari penyanyi cafe itu datang ke rumah Agustin yang besar seperti istana itu. Dan menghiburnya dengan melantunkan lagu-lagu nostalgia yang disukai Agustin.


Makin lama Agustin makin gandrung kepada Vionita. Dan memintanya tinggal di rumahnya saja. Karena Agustin kalau memanggil tidak tentu waktunya. Kadang malam hari saat mau tidur Vionita dipanggil ke rumahnya hanya untuk melantunkan lagu kesukaannya sampai Agustin terlelap tidur. Padahal rumah kontrakan Vionita jauh dari rumah Agustin.


Maka untuk memudahkan mobilitasnya Agustin minta Vionita tinggal di rumahnya saja. Hingga pada hari-hari terakhir Agustin melihat dunia, Vionita masih diminta menemani. Pada saat itu Agustin minta Vionita yang menggantikan melayani suaminya kalau dia meninggal.


Padahal Samyokgie tidak punya hasrat sama sekali dengan Vionita. Memang mereka berdua kelihatan akrab saat menemani Agustin yang terkapar tak berdaya di ranjang karena digerogoti penyakit kanker. Tapi cinta Samyokgie kepada Agustin begitu dalam. Tidak akan tergantikan oleh siapa pun.


Hingga Agustin meninggal dan Samyokgie menjalankan amanatnya menikahi Vionita, cinta suci Samyokgie kepada Agustin tidak pernah lekang. Status Vionita saat itu memang istri yang syah Samyokgie. Tapi pria itu tidak pernah menyentuhnya. Disaat Vionita sedang berjuang agar suaminya bisa menerimanya secara utuh sebagai istri, datang seorang gadis belia cantik jelita di hati Samyokgie.


......STOP. Siapa gadis itu sobat? Kita sambung di bab berikutnga ya. Jangan lupa like, subscribe dan hadiahnya. Tnk 🙏🙏🙏

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2