WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 118. Kemelut Hati Pecumbu


__ADS_3

Radita bangun agak siang pukul 10.00 dengan kepala agak pening. Dia terjaga karena kaget mendengar jeritan Putra dan Sanjaya yang bermain perang-perangan di depan kamarnya.


"Ijaaah!" teriak Radita keras membuat kepalanya tambah senut-senut.


Si Ijah babysitter dua bocah itu lari tergopoh-gopoh mendekat ke Tuan Radita yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kamu itu bisa tidak ngurus anak-anakmu," bentak Radita kepada Ijah yang masih membawa tas sekolah dua bocah itu.


Sedangkan Putra dan Sanjaya yang tadi ramai bermain berhenti mendadak mendengar bentakan itu. Mereka ikut memandang Radita dengan heran.


"Dia anak-anak Nyonya Cytra, Tuan," Ijah mengoreksi kalimat tuannya itu.


"Sama saja itu anak asuhmu, cepat disuruh ganti pakaian seragamnya. Dan istirahat di kamarnya!"


Setelah mendengar perintah Tuan Radita, perempuan itu bergegas menyuruh Putra dan Sanjaya masuk ke kamarnya untuk ia ganti pakaian seragam sekolahnya dengan pakaian biasa.


Dua bocah yang lincah itu berlari mendahului Ijah dengan tetap menyuarakan suara rentetan tembakan yang memekakan telinga.


"Huh!" keluh Radita lalu masuk lagi ke kamar.


Kedua bocah yang lincah dan agresif itu mengingatkan kembali masalahnya tadi malam.


"Kemana Cytra. Mengapa tidak mendampingi anak-anaknya bermain?" tanya Radita dalam suasana hatinya yang sedang berkemelut.


Radita cepat membersihkan badannya di kamar mandi. Setelah kelihatan segar kembali wajahnya dan mengenakan pakaian santai, dia keluar mencari Cytra.


Tapi di kamar, di ruang depan, dan di ruang kelurga tidak ditemukan siapa-siapa. Sedangkan mobil Cytra yang mewah itu masih nongkrong di garasi. Berarti pemiliknya masih ada di dalam rumah.


Radita kemudian mencarinya ke bagian rumah di belakang. Ternyata Cytra masih duduk sendirian di gazebo di sisi samping di halaman belakang rumah. Tempat itu memang nyaman, adem dan silir terkena angin sepoi-sepoi.


"Oh, ternyata kamu sedang sibuk. Makanya ada anak ribut begitu diabaikan!" kata Radita kelihatan kesal.


Cytra yang memang sedang sibuk bekerja dengan laptopnya menoleh ke arah Radita dengan perasaan heran.


"Tumben nih orang. Datang-datang tidak menyapa manis seperti biasanya, malah marah-marah," gumamnya dalam hati.


"Hai! Mas, baru bangun, ya," sapa Cytra dengan tersenyum ceria.


"Seharusnya kalau ada anak baru pulang sekolah kamu sempatkan diri ikut mengurusnya. Jangan diserahkan semua pada pembantu. Itu tidak mendidik," kata Radita mempersoalkan yang biasanya tidak pernah ia persoalkan kepada Cytra.


"Dari tadi malam kamu kok aneh sih, Mas. Tidak biasanya kelihatan kusut begitu. Sebenarnya sedang ada masalah apa dengan dirimu?" tanya Cytra heran melihat perubahan sikap calon suaminya.

__ADS_1


Radita menyadari sikapnya itu bisa membuat calon istrinya curiga. Maka buru-buru dia tutupi dengan perkataan manis.


"Tapi tidak masalah, kok. Biasa anak-anak memang begitu. Silahkan kamu lanjutkan lagi kerjanya. Aku mau siap-siap berangkat ke kantor."


"Hai, sebentar dong jangan buru-buru pergi. Ngobrol-ngobrol dulu denganku." Cytra merayu.


"Ada acara penting di kantor. Saya sudah terlambat berangkat, nih" kata Radita sambil beranjak pergi. Tapi Cytra langsung menggapai tangannya dan ditahannya kuat-kuat.


"Sudah abaikan saja pekerjaan di kantor. Sekarang ada masalah penting yang harus ķita bahas," kata Cytra sambil menggandeng lengan Radita mesra untuk diajak duduk di bawah gazebo itu.


Mereka lalu duduk berhadapan di depan meja bundar gazebo.


"Masalah penting apa, sayang?" Radita kini bersikap lembut dan seolah penuh perhatian.


"Masalah pernikahan kita. Apakah kamu sudah lupa?"


Kata-kata Cytra serasa pahit di lidah Radita. Tapi dasar lelaki yang sudah berpengalaman menghadapi masalah wanita, dia cepat menutupinya dengan sikap manis.


"Saya tidak akan lupa soal satu itu. Pasti ketika tiba waktunya nanti kita akan duduk bersama di pelaminan."


"Makanya kita bicarakan lagi sekarang. Sudah abaikan saja soal pekerjaan di kantor. Toh kamu kan sebagai ownernya. Bisa kamu atur-atur sendiri pekerjaan."


"Dari mana kita mulai pembicaraan ini?"


"Memang saya yang mengajak menikah. Tapi kemudian kamu kan yang minta ditunda."


"Saya minta ditunda karena menunggu mas kroscek tentang pendapat Mama. Bagaimana hasilnya waktu kamu menemuinya?"


Kata-kata Cytra itu diucapkan sangat tenang. Tetapi berakibat begitu menggetarkan jantung calon suaminya itu.


Radita menyulut sigaretnya dengan tangan gemetar. Kemudian asap yang sudah mengumpul di mulutnya dihembuskannya dengan cepat.


"Sejak kapan kamu merokok, Mas. Kan sudah lama kamu berhenti."


Radita tentu saja tidak mau bilang kalau rokok itu sisa dari cafe tadi malam. Dia malam itu ikut-ikutan merokok biar kelihatan jantan seperti pengunjung cafe lainnya.


"Ya, sudah saya matikan saja. Ini cuma iseng-iseng saja kok. Dibelikan Pak Ob waktu saya nglembur di kantor," kata Radita berbohong. Padahal rokok itu pemberian dari Vionita di cafe malam itu.


"Jadi Mas pulang sampai dini hari itu karena kerja di kantor. Bukan menemui Mama?"


Radita gelagapan untuk menjawab. Apakah dia tahu malam itu? Atau Pak Ob yang sudah cerita? Ah, tak mungkin Pak Ob cerita kepada Cytra. Bukankah sudah diajari bagaimana menjawabnya kalau ditanya oleh Cytra.

__ADS_1


"Waktu saya kemarin banyak tersita di kantor. Saya cuma bisa sebentar menemui Mamamu," pandai Radita bersilat lidah.


"Terus gimana Mas kata, Mama. Kamu mendapat ijin untuk menikah denganku?"


Kedua kalinya Radita gelagapan. Tetapi dengan cepat ia tenangkan dirinya. Sehingga kelihatan tidak ada masalah di depan calon istrinya.


"Sama seperti yang dikatakan padamu tempo hari. Mamamu tidak jelas merestuai atau tidak merestui," kata Radita berbohong.


"Lalu bagaimana menurutmu, Mas. Kita lanjutkan saja rencana kita. Tanpa menggubris Mama merestui atau tidak merestui?"


"Gimana, ya...?" Radita berhenti bicara dan berpikir merangkai kebohongan lagi yang tidak kentara ditangkap oleh Cytra.


"Menurut saya kita laksanakan saja pernikahan. Putra sudah tanya terus kapan kamu jadi papanya," Cytra mendesak.


"Kenapa anak kecil itu yang meminta kita cepat menikah, bukan kamu?"


Cytra tersenyum malu karena sebenarnya dia juga sudah tidak betah menjanda berlama-lama.


"Mamanya juga kepingin, kok," ucap Cytra dengan suara lirih, kalah dengan suara berisik angin di rimbun dedaunan tanaman hias di sekitar gazebo.


"Bener kamu sudah kepingin, menikah?" tanya Radita.


Cytra mengangguk malu. Memang sejak ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh Mr Morgant, ia merasa hidup ini hampa. Walaupun sekarang hidupnya bergelimang harta tapi tanpa seorang kekasih di sampingnya ibarat makan spaghetty tanpa saus pedas.


Radita tak menyangka bila Cytra ingin cepat menikah. Inilah yang membuat Radita mati kata untuk melanjutkan pembicaraan. Apa yang harus ia katakan. Menyambutnya gembira ajakan tersebut? Lalu bagaimana Vionita?


Cinta pertamanya itu kini begitu sangat menawan. Ajaib memang. Radita memandang Vionita kini bagaikan bunga yang baru mekar. Segar dan harum ingin ia memetiknya.


"Gimana, Mas? Kok malah melamun sih?" Suara Cytra bagaikan bom yang meledak di dalam dada calon suaminya itu.


Radita membenahi posisi duduknya yang terlihat seperti orang lemas tak bertenaga bersandar ke kursi. Lalu ia menjawab pertanyaan itu dengan ceria. Seakan dia juga menginginkan yang sama.


"Masih saya pikir, kapan enaknya pernikahan kita dilaksanakan."


"Apa lebih baik kita laksanakan sehabis lebaran saja. Berarti masih ada waktu mempersiapkan diri dua bulan lagi," Cytra terus mendesak.


"Ya, kita jalani saja waktu dua bulan ke depan. Kalau memang sudah jodohnya kita akan menikah juga."


Cytra tersenyum senang digenggamnya tangan Radita di atas meja. Lalu dengan bertumpu pada tangan itu Cytra dan Radita sama-sama berdiri doyong ke depan dan berciuman.


Serasa indah sekali pagi itu dirasakan oleh Cytra. Tapi tidak bagi Radita. Ia melihat langit begitu gelap karena mendung. Mungkin seperti itu suasana hati Vionita jika mendengarkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2