
"Heugh...," Cytra bersendawa karena pengaruh minuman keras yang disuguhkan oleh seorang wanita muda di "Paviliun Bunga".
Melihat itu Frans tersenyum dalam hati. "Sebentar lagi akan kunikmati tubuhmu sepuas-puasnya," gumamnya dalam hati.
"Mana dia...Bener ndak nih dia ada disini?" Cytra bertanya dengan lidah terasa kaku untuk bicara karena pengaruh minuman keras yang sudah marasuk ke dalam tubuhnya.
"Sabar, Cy. Santai saja kita minum-minum dulu. Sebentar lagi dia pasti datang," kata Frans dengan pandangan penuh nafsu kepada Cytra yang wajahnya memerah karena pengaruh alkohol.
"Kita tunggu investor itu lima menit lagi. Kalau tidak keluar kita tinggalkan saja tempat ini." Cytra mulai curiga karena orang yang dikatakan investor itu sepertinya hanya bualan Frans saja.
"Saya tidak bohong ini paviliun yang ditempatinya. Dan wanita tadi adalah istrinya," kilah Frans.
Padahal benar Frans sedang melakukan rekayasa seolah-olah ada investor yang akan menanamkan saham sampai 10 T. Sedangkan wanita muda tadi adalah wanita bayaran yang disuruh memerankan sebagai istri investor.
Pandai sekali Frans membuat jebakan terhadap Cytra dengan dibantu oleh Ibra. Dua lelaki itu memang sama-sama ingin menikmati tubuh indah milik Cytra. Bila Ibra berdalih karena masih mencintai Cytra. Sedangkan Frans karena balas dendam.
Sejak melihat Cytra menyampaikan presentasi PT ANN, Frans sudah tergiur dengan tubuh indah dan wajah cantik milik Cytra. Tapi hal itu tak kesampaian karena Morgant lebih dulu menggaetnya lebih dulu menjadi istrinya.
Sedangkan dendamnya kepada Cytra dipicu karena kedudukannya sebagai dirut di PT ANN telah digeser oleh Cytra. Kini Frans cuma sebagai karyawan senior yang tak punya pengaruh lagi di perusahaan.
Sebentar lagi dendam itu akan lunas dibayar dengan tubuh Cytra. Tapi kenapa Ibra tidak juga muncul. Ibra ditunggu bukan untuk menggarap Cytra bersama-sama. Tetapi tugasnya adalah mengambil gambar video saat Cytra digarap oleh Frans. Hasil video itu nanti yang akan menghancurkan reputasi Cytra. Ujung-ujungnya karier Cytra akan hancur.
"Aku mau pulang silakan Pak Frans saja yang menemui," Cytra beranjak berdiri. Tapi karena pengaruh minuman tubuhnya limbung mau jatuh.
Frans langsung menangkap tangan Cytra lalu memeluknya. Aroma harum dari tubuh indah itu langsung menyeruak ke otak kotor Frans.
"Hii! Sana jangan peluk aku!" Cytra mendorong tubuh Frans untuk menjauh.
Frans mau melepaskan pelukannya dan bergeser beberapa inci dari Cytra.
"Lebih baik kamu istirahat dulu disini. Tenagamu sangat lemah," bujuk Frans.
Cytra berusaha untuk tetap tegar tidak terpengaruh oleh alkohol. Lalu duduk lagi di kursinya semula. Diambilnya minuman mineral dari dalam tasnya. Dan diminum sampai habis.
Dulu waktu bekerja di cafe, Cytra sudah biasa minum minuman sejenis itu. Tetapi sejak sibuk bekerja di perusahaan sudah tidak lagi menyentuh barang haram itu.
Frans duduk mendekat ke Cytra.
"Kamu kenapa, Cy," kata Frans pura-pura perhatian.
__ADS_1
"Ini jelas rekayasa Pak Frans untuk menjebak diriku di tempat mesum ini," kata Cytra sudah mulai surut pengaruh alkoholnya.
Hahahaha...Tawa lelaki yang lebih tua sekian tahun dari Cytra itu.
"Kenapa Pak Frans tega berbuat seperti ini kepadaku. Kalau merasa kecewa dengan kebijakan yang aku terapkan, kenapa tidak dilakukan pembelaan secara sportif. Aku bisa menempatkan Bapak di tempat yang lebih baik lagi," Cytra mengajak bicara dari hati ke hati.
"Aku tidak butuh jabatan, aku butuh tubuhmu sekarang ini," Frans bicara denngan kondisi sangat mabuk.
"Ingat, Pak. Bapak Frans lebih tua dariku mestinya lebih bijak dalam mengendalikan hawa nafsu."
"Persetan dengan khotbahmu itu. Ayo kita ke kamar menikmati hiburan malam ini." Frans lebih mendekat ke tubuh Cytra.
"Jangan lakukan itu, Pak." Cytra menahan tubuh Frans dengan kedua tangannya.
Frans terus merangsek dan Cytra terpojok di sudut sofa. Ia tidak bisa menghindar cuma bisa memalingkan wajahnya ketika Frans menciumnya. Ingin Cytra menonjok wajah tampan yang sudah tua itu dengan pukulan karatekanya. Tapi tenaganya masih lemah karena pengaruh minuman.
Frans melakukan serangannya yang kedua dengan menindih tubuh Cytra di pojok sofa itu. Seketika terasa ada beban 100 kilogram di atas tubuh Cytra. Kejadian seperti itu sudah pernah dialami Cytra dulu ketika masih gadis. Sehingga kini bisa lebih tenang menghadpinya.
Dengan satu gerakan memiringkan badannya, sedetik kemudian tubuh Frans berbalik yang berada di bawah. Kesempatan itu digunakan Cytra untuk berdiri. Tapi tangan Frans sempat menangkap baju Cytra. Tarikan tangan Frans membuat satu kancing baju Cytra di bagian bawah copot. Ia tak pedulikan itu lalu menjauh dari tubuh Frans yang tergeletak di Sofa seperti babi kehabisan tenaga.
"Diam disitu kamu, Pak! Kalau tidak perutmu yang buncit ini akan kupecahkan dengan kakiku!" Cytra berteriak mengancam.
"Maaf, Kak! Saya hanya disuruh!" ucap wanita itu dengan gemetar ketakutan.
"Siapa kamu?" tanya Cytra dengan membentak.
"Saya Keti. Saya dibayar orang untuk melakukan ini," ujar wanita itu sambil jongkok.
"Siapa orang yang membayar kamu. Dia?"
"Bukan, Kak. Orangnya tidak ada disini."
"Dimana orangnya?"
"Tidak tahu kak."
"Ibra yang mengatur semuanya, Cy," Frans yang menjawab dengan tetap tergeletak di sofa.
Tanpa menunggu Frans dan Keti berdiri dari tempatnya masing-masing, Cytra cepat-cepat keluar dari paviliun yang hampir mencelakakannya itu.
__ADS_1
Dengan kepala masih agak pusing Cytra berjalan kembali ke hotel. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 2.30.
Sesampainya di loby hotel Cytra melihat Radita, Tomi dan Pak Ob sedang berbincang dengan petugas keamanan hotel. Heran juga Cytra kenapa mereka bisa berada di Bali. Padahal waktu ia tinggal masih di Jakarta.
"Kami sedang mencarimu, kamu darimana?" Tanya Radita cemas.
Cytra tak menjawab. Dengan menggandeng tangan Radita Cytra meninggalkan loby hotel menuju ke kamarnya yang kebetulan ada di lantai bawah.
"Kenapa kamu? Ada kejadian apa?" tanya Radita lagi setelah masuk ke dalam kamar. Sedangkan Cytra langsung ambruk ke tempat tidur.
"Aku hampir saja celaka, Mas."
"Frans kan yang menjebakmu?"
"Kok Mas tahu?"
"Ibra menelponku. Dia bilang kamu berada di salah satu paviliun hotel ini dan dalam keadaan bahaya."
"Dia pasti ikut terlibat menjebakku. Tapi kenapa dia menelpon kamu, Mas?"
"Aku tidak tahu apa maksudnya. Mungkin dia tidak tega melihat kamu dicelakai Frans."
"Sama saja dia tetap bersalah dan bisa terjerat hukum kalau saya laporkan polisi."
"Jangan dilaporkan kasihan. Langkahnya sudah baik menelponku dan sudah minta maaf."
"Jangan mudah terkecoh dengan kebaikannya yang penuh kelicikan itu, Mas. Pasti ada pamrihnya."
"Apa pun niatnya saat ini dia sudah membantu kita menunjukan posisi dan keadanmu sedang dalam bahaya. Tapi tidak tahu ke depan. Kita harus hati-hati."
"Kalau menurutku mereka kita laporkan saja ke polisi. Sehingga tidak ada lagi yang menghalangi jalan kita menikah."
"Saya kira sudah tidak ada lagi orang yang akan menghalangi pernikahan kita. Sekarang tinggal satu langkah lagi kita syah menjadi suami istri."
"Satu langkah lagi? Apa itu?"
"Ke penghulu." Radita bergurau.
Cytra ikut tertawa karena Radita tertawa. Padahal memang ada satu langkah lagi yang harus dilalui. Yaitu restu dari Mama Vionita. Akankah orangtua Cytra itu tidak akan mempermasalahkan pernikahan mereka? Atau sebaliknya.
__ADS_1
Bersambung