
Vionita berusaha bersikap tenang mengangkat kopi panas yang baru ia seduh yang sudah ia campuri sesuatu itu.
Dadanya dag dig dug mengiringi langkahnya menuju ke sofa dimana Radita sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ini kopi spesial untuk calon suamiku," kata Vionita merayu.
"Terimakasih calon istriku yang cantik," Radita merespon rayuan itu dengan manis pula.
Lalu disruputnya minuman yang disuguhkan Vionita.
"Sepertinya kamu lagi nyambi kerja ya, Sayang," ucap Vionita karena setelah menyeruput kopi, radita lantas kembali menekuni laptopnya.
"Sebentar lagi selesai kok," jawab Radita sambil tetap memelototi laptopnya.
"Kamu kesini nanti ribut kembali dengan Cytra," kata Vionita ingat kejadian tempo hari.
"Itu yang akan aku sampaikan datang kesini. Kok kamu sudah tahu. Dengar dari siapa?"
"Dari Tante Mira. Saya yang salah, saya minta maaf."
"Tidak apa-apa. Memang dia curiga kita pacaran. Tapi akhirnya percaya kok kalau kita hanya pertemuan biasa."
"Bener dia tidak curiga. Nanti kamu datang kesini dikuntit olehnya?" kata Vonita khawatir.
"Tidak mungkin. Karena tadi pagi Cytra terbang ke Bali. Disana Cytra akan tinggal cukup lama untuk mengurus perusahaannya."
"Oh, apa iya?!" seru Vionita tak percaya.
"Kamu pasti senang mendengarnya bukan. Kalau bisa biar Cytra tinggal di Bali untuk selamanya, begitu kan?" Radita mengulik parasaan Vionita.
"Kok ngomongnya seperti tidak ikhlas bertemu denganku sih," Vionita cemberut.
"Jangan cemberut dulu. Aku hanya ingin kau mengerti keadaan Cytra. Dia itu mencintaiku dengan serius. Walaupun sekarang sering bertengkar denganku tidak pernah keluar dari mulutnya kata putus denganku. Seperti masih berharap pernikahan itu berlangsung," ungkap Radita jujur.
"Terus kamu mau mengatakan bahwa hububngan kita berhenti sampai disini saja?" Vionita makin cemberut.
"Ya, tidak begitu. Posisiku sekarang ini sulit. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi berat untuk mengatakan putus dengan Cytra."
"Gila kamu!. Aku tidak mau kau duakan. Aku ingin percintaan kita berlanjut ke pernikahan. Apakah kamu mau seperti Cytra, membiarkankanku terlunta-lunta seperti ini terus?"
__ADS_1
"Ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menikahimu. Tapi menunggu Cytra mengatakan putus lebih dulu."
"Kenapa tidak kamu saja yang memutuskan. Kamu itu laki-laki, Dit. Harus berani membuat keputusan."
"Ah, pusing! Aku kesini itu mau menghilangkan pusing, kok malah kau buat tambah pusing begini," Radita sebel dengan keadaan dirinya sendiri.
"Diminum lagi kopinya mumpung masih hangat, bisa menghilangkan rasa pusingmu," rayu Vionita.
Dan seperti sudah terkena hipnotis Radita menurut saja menyeruput kopi hangat dengan lebih menikmati.
Dada Vionita bergetar melihat kopi itu telah tertelan ke perut Radita sampai tiga tegukan. Sebentar lagi pasti akan ada reaksi dari minuman yang sudah ia taburi sesuatu itu.
Sekitar 15 menit kemudian Radita menutup laptopnya lalu duduk mendekat ke Vionita.
"Kamu nampak cantik sekali hari ini," ucap Radita sambil membelai rambut Vionita yang mengombak itu.
"Aku ingin kau membelaiku seperti ini setiap hari," rayu Vionita lagi.
Radita tersenyum tipis. Kedua matanya tajam mengitari seluruh wajah wanita cantik di hadapannya.
"Jangan memandangku seperti itu aku jadi tersanjung," lagi-lagi Vionita merayu.
"Aku ingin mendengar kembali ikrarmu mencintaiku seperti yang kau ucapkan di cafe itu. Rasanya sangat sejuk sekali dalam hati," Vionita merayu lagi, entah yang keberapa kalinya.
"Pasti dong. Engkau adalah cintaku yang pertama. Yang selalu bersemayam di dalam dada ini."
"Engkau mencintaiku tidak terpaksa kan? Bukan karena Cytra tidak ada di sampingmu?" Tanya Vionita.
"Aku mencintaimu dengan tulus. Muncul dari lubuk hatiku yang paling dalam."
Vionita merebahkan kepalanya ke dada Radita. Ia gembira sekali mendengar kata-kata yang entah diucapkan dari hatinya atau cuma dari bibirnya belaka.
Radita ternyata sengaja menemuinya saat Cytra berada di tempat jauh. Apakah dia cuma mencari peluang atau apakah karena kangen. Vionita tak peduli. Sekaranglah waktu yang tepat melampiaskan dendamnya kepada Cytra. Mira pasti senang bila tahu Radita sudah masuk ke dalam perangkapnya. Selanjutnya tinggal Ridwan pandai-pandailah merayu Cytra.
Rambut Vionita yang mengombak dibelai lagi oleh Radita. Tangan kekar yang bergerak halus itu merambat turun ke bahunya, turun ke lengannya dan berbelok menggenggam gunung kembar dengan penuh hasrat.
Hemmm...sempurna sudah ramuan kopi maut itu mempengaruhi otak Radita.
"Jangan dulu, Sayang. Kita belum menikah," ucap Vionita sekedar menakar seberat apa ramuan itu menghilangkan akal sehat Radita.
__ADS_1
Sementara Vionita sendiri talah bergetar ketika tangan halus itu merambat ke bawah perut.
"Dulu Cytra saja bisa tega merebut suamimu. Kenapa sekarang kamu tidak berani berbuat yang sama," kata Radita sangat mengejutkan Vionita.
"Ya, aku setuju. Cytra saja berani berbuat begitu. Kenapa aku tidak."
Detik berikutnya tangan halus itu dibiarkan saja merambat ke bawah ke segitiga emas yang masih terbalut kain celana panjang yang tipis. Sehingga membuat Vionita menggelinjang sebentar.
"Sayang..., aku jadi kepingin kau elus-elus begitu," terdengar suara Vionita yang parau.
"Aku juga sayang," Radita menimpali.
Entah siapa yang memulai, mereka berdiri dari sofa berbarengan. Wajah mereka merekah merah. Menandakan nafsu telah menguasai otak waras mereka. Lalu mereka berjalan ke kamar. Keadaan rumah yang sepi itu menambah kesyahduan suasana siang itu.
Radita dan Vionita tidak ingin cepat-cepat melakukan permainan. Setelah berada di dalam kamar mereka memulai lagi dari awal. Seperti di sofa tadi.
Dengan duduk di tepi ranjang. Cytra merebahkan kembali kepalanya ke dada Radita. Lalu dibelai-belainya rambut Vionita seperti yang tadi. Sampai ke gundukan segi tiga emas tangan Vionita menahannya.
"Kenapa, sayang?" Radita memandang Vionita penuh selidik.
"Aku takut nanti kalau hamil."
Radita seperti tak mendengarkan kata-kata itu, karena memang diucapkan seperti tiupan angin. Mendesah dengan mata terpejam. Dan saat itu tangan Vionita tak benar-benar menahannya. Seperti hanya menumpangi tangan Radita yang mengelus-elus gundukan segi emas itu.
"Sayang...." rintih Vionita yang sudah sangat tercengkeram oleh hasrat biologisnya.
Semenit kemudian tangan Radita sudah melepas resleting celana yang menutupi gundukan indah itu. Kini tinggal satu lapisan lagi yang tipis berwarna krem. Hngga semakin terasa hangat di telapak tangan Radita.
Lalu ia rebahkan Vionita di sampingnya dengan kaki menggantung di tepi ranjang. Dan gundukan itu semakin nyata di mata Radita. Seperti magnit yang sangat kuat. Gundukan itu menarik muka Radita untuk menciumnya.
"Sayang..." rintih Vionita semakin mencekam.
Radita berdiri melepas pakaian bawahnya. Lalu menarik lapisan tipis berwarna krem itu.
Selanjutnya Vionita merasakan tubuh Radita menindihnya dengan kaki masih menggantung di tepi ranjang.
Sepuluh menit berlalu ranjang yang tak pernah bau keringat laki-laki itu keadaannya semakin berantakan. Pakaian Radita dan Vionita bertebaran di lantai. Sedang di atas ranjang dua insan yang sedang dimabuk cinta bergumul dengan lepasnya.
......Maaf adegan ini jangan dibaca ya gaes...🙏🙏🙏
__ADS_1
Bersambung