
Di sebuah cafe yang tak begitu ramai, Deryll menikmati malam pertama percintaannya dengan Ibra dengan minum-minum sambil mendengarkan live musik.
Beberapa kali Deryll minta turun berdansa dengan Ibra tapi ditolak. Sehingga ia hanya bersandar manja ke bahu Ibra.
"Dengan bersandar begini rasanya hatiku sangat damai, sayang," ucap Deryll mesra.
Ibra yang merasakan beban berat dari tubuh Deryll yang bersandar kemudian mendorong tubuh itu agar duduk kembali dengan sempurna.
"Kenapa?" Deryll memandangi wajah Ibra dengan heran.
"Kita sudah lama cuma duduk-duduk begini saja," keluh Ibra.
"Kamu mau tidur sekarang, sayang," kedua mata Deryll berbinar-binar.
"Kamu lupa pada tujuanmu semula datang kesini," Ibra mengingatkan.
"Oh, iya. Tapi belum terlihat orang itu," Deryll meneliti kembali karyawan dan security cafe yang ada di sekitarnya.
"Kalau cuma begitu mencarinya yang tidak bakal ketemu. Dan apakah kamu yakin orang itu bekerja di cafe ini?"
"Yang aku ingat. Saat itu dia bilang petugas keamanan dari cafe ini."
"Kamu masih hafal wajahnya?"
"Masih, kalau melihat wajahnya lagi saya pasti tahu."
"Apa lebih baik kita bertanya saja kepada salah satu dari mereka tentang peristiwa itu?"
"Ok. Mari kita dekati keamanan yang ada di depan pintu itu," ajak Deryll lantas beranjak dari kursinya diikuti Ibra.
"Maaf, permisi," sapa Deryll setelah berhadapan dengan petugas keamanan tersebut.
"Ya, ada yang bisa saya bantu."
"Sekitar sebulan lalu suami saya meninggal karena banyak minum disini. Saya mau mengucapkan terimakasih kepada petugas keamanan waktu itu yang mau mengantarnya ke rumah sakit," kata Deryll mengungkapkan maksudnya.
Lelaki itu tak langsung menjawab. Dia mengamati Deryll dan Ibra lebih dulu. Setelah dianggap tidak ada yang mencurigakan lantas dia bicara.
"Ya saya ingat kejadian itu. Sebentar saya panggilkan orangnya yang bertugas saat itu," kata lelaki itu sambil mengambil Hp di saku rompinya.
Tak berapa lama setelah lelaki itu menelpon, datang seorang pria bertubuh pendek dan gempal. Deryll masih ingat pria itu yang menyerahkan barang-barang milik Morgant termasuk sebuah surat berisi pesan terakhir dari suaminya.
"Ada apa mencari saya Nyonya?" kata pria bertubuh gempal itu.
"Aku masih ingat bapak. Bapak yang menyerahkan dompet, kacamata dan lainnya milik korban yang pingsan karena kebanyakan minum itu kan?" kata Deryll.
"Ya saya masih ingat. Waktu itu istri Morgant ada dua. Nyonya dan satunya lagi....Dimana dia ko tidak ikut?" kata pria itu.
__ADS_1
"Ya, dia Cytra. Tapi saya belum bertemu sejak di rumah sakit itu. Makanya saya kesini mau bertanya kepada, Bapak."
"Saya tidak tahu ada dimana dia," kata lelaki setengah baya itu kebingungan.
"Bukan..., bukan dia yang mau saya tanyakan."
"Lalu mau bertanya apa? Bukankah semua barang-barang korban sudah saya serahkan kepada Nyonya
"Bukan itu maksudku."
"Lalu apa. Kenapa baru sekarang kalian menanyakan itu kepadaku?"
"Ceritanya panjang, pak. Saya cuma pingin tahu saja apakah bapak meneliti semua barang-barang Mr Morgant yang diserahkan kepada saya itu?"
"Lho kan sudah saya serahkan semuanya. Saya tidak mengambil apa pun barang-barang milik korban. Sampai secarik kertaspun yang ada di sakunya tidak saya ambil," kata pria gempal itu sungguh-sungguh.
"Ya, ya itu yang mau saya tanyakan kepada bapak!" seru Deryll gembira.
"Maksudnya?"
"Secarik kertas itu kan ada tulisannya. Bapak sudah sempat membacanya kan?" tanya Deryll tak sabar ingin mendengarkan jawabannya.
Yang ditanya malah tiba-tiba mengkeret. Dia merasa sudah bertindak jujur menyerahkan seluruh barang-barang milik korban kepada yang berhak tanpa mengurangi atau mengambil sedikitpun darinya. Tetapi soal yang satu itu dia merasa bersalah karena sudah sempat membacanya.
"Maaf saya sudah membacanya, Nyonya," jawab pria gempal itu dengan sikap bersalah.
"Saya ludah lupa. Tapi masa sih Nyonya belum membacanya?" tanya pria gempal itu heran.
"Surat itu dibawa istri Morgant satunya. Sampai sekarang belum memberitahukan kepada saya. Malah sekarang dia menghilng entah kemana."
"Tega sekali istri Morgant satunya itu kepada nyonya."
"Tolong bapak ingat-ingat apa isinya. Apakah ada yang menyangkut soal pembagian harta atau warisan?"
"Yang saya ingat, isinya tidak ada seperti yang nyonya singgung tadi."
"Coba bapak ingat-ingat lagi. Isinya tentang apa?"
"Kalau tidak salah isinya.... Eeng cuma menyuruh atau perintah untuk mengurus perusahaan."
"Bapak yakin cuma itu isinya?"
"Surat itu isinya sedikit. Cuma dua baris alinea saja."
"Oh gitu ya, pak. Kalau begitu terimakasih ya pak atas keterangannya," Ibra menyeletuk sambil menyalami pria gempal itu.
Deryll pun ikut menyalami sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan kepada pria gempal itu.
__ADS_1
"Kamu gimana sih. Aku masih pingin bertanya lagi kok kamu sudahi begitu saja." Deryll menyalahkan Ibra.
"Bukankah sudah jelas inti dari surat itu. Tidak ada yang menyangkut soal warisan atau pembagian harta kekayaan."
"Kamu kok langsung percaya begitu sih?"
"Capek mengikuti keinginanmu," ucap Ibra kesal lalu memanggil taxi yang sedang parkir di depan gedung cafe.
Tanpa banyak bertanya lagi Deryll mengikutinya di belakang. Sampai di hotel tempat mereka menginap, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Baru setelah masuk ke kamar dan rebahan di tempat tidur Deryll bertanya lagi.
"Kamu kok sepertinya tidak tulus membantu saya, sayang?" ucap Deryll manja.
"Saya sudah mengantarmu mencari Cytra kemana saja, apakah itu bukan merupakan bentuk ketulusan," kata Ibra masih bernada kesal.
"Tapi dari sinar matamu tidak kulihat kau tulus membantuku. Apalagi cinta," kata Deryll dengan merapatkan kepalanya ke bidang dada Ibra.
Dari lubuk hati Ibra yang terdalam dia merasa lebih cinta kepada Cytra daripada wanita yang baru dikenalnya itu.
Keikutsertaannya ke Jakarta hanya sekedar ingin tahu apa sebenarnya niat Deryll mencari Cytra. Disamping itu ingin pula dia bertemu Cytra yang sudah kadung melekat di hatinya. Salah jika Deryll mengira Ibra jatuh cinta kepadanya.
"Aku cinta kamu, sayang, ucap Ibra tentu saja tidak sesuai isi hatinya.
"Bohong," ucap Deryll ngambek.
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya." Ibra membalikan tubuhnya membelakangi Deryll.
"Iiiihh..., gimana, sih! Kok malah gitu sih!" Deryll menarik tubuh Ibra agar berbalik lagi ke posisi semula.
"Habis kamu tidak percaya kalau aku cinta kamu," Ibra beralasan.
"Coba buktikan kalau kamu cinta aku," tantang Deryll.
Tantangan Deryll itu mengingatkan Ibra tentang masa lalu. Ketika pertama kali berkenalan dengan Cytra dan tak diduga saat itu mendapat tantangan bercinta dari Cytra. Lalu ia sempat bertanya dalam hati apakah wanita yang akan tidur bersamanya adalah wanita terakhir yang akan menjadi istrinya? Tidak akan ada wanita lainnya lagi yang akan ia tiduri?
Pertanyaan dalam hatinya itu kemudian menjadi sebuah harapan ketika mamanya setuju bila Ibra akan menikahi Cytra. Tetapi harapan cuma tinggal harapan. Karena hari berikutnya Ibra justru masih berpetualang cinta tanpa habis-habisnya.
"Ayo buktikan jika kau mencintai aku?" tanya Deryll lagi menggugah lamunannya.
Ibra cuma tersenyum kecil. Dalam hatinya bertanya apakah benar mencintai Deryll? Apakah hanya karena terdorong oleh penyakit playboynya yang sudah menahun sekarang dia bisa tidur satu ranjang dengan Deryll?
"Ayo cium aku kalau kau benar mencintaiku," desak Deryll membuat Ibra makin terpojok.
"Maafkan aku Cytra. Ternyata sampai sekarang aku belum bisa menjaga perasaan cinta ini kepadamu," gumam Ibra ketika kemudian Deryll memulai ******* bibirnya. Mendengus ke leher dan dadanya....
Malam itu tak sepenuhnya Ibra meladeni permainan Deryll. Bayang-bayang Cytra sangat mengganggu konsentrasinya.
Apalagi rencananya besok akan bertemu dengan Cytra. Apa yang mesti ia katakan. Sekedar menemani Deryll yang sedang butuh pertolongan? Atau akui saja bahwa dia sebenarnya kucing garong!
__ADS_1
Bersambung