WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
BANTUAN DARI DAVIAN


__ADS_3

Risa masih mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya, Davian pun hanya terdiam setelah mendengar kisah hidup Risa yang sangat berat.


Beberapa orang berpakaian putih masuk kedalam rumah Risa, mereka langsung menunduk hormat kepada Davian.


"Selamat sore pak Davian." Sapa seorang yang berdiri paling depan.


"Sore dokter." Jawab Davian singkat sambil menatap dokter.


Risa menatap Davian dan menatap dokter yang berdiri di depannya dengan tatapan bingung.


"Siapa?" Tanya Risa.


"Mereka dokter yang akan memeriksa mamah." Jelas Davian melihat tatapan Risa.


"Mari dok." Ucap Davian sembari menunjukkan kamar mamah Risa.


Dokter segera menuju kamar mamah Risa, sedangkan Davian kembali ke ruang tamu bersama Risa yang masih terlihat raut keterkejutan di wajahnya.


"Terimakasih Dav terimakasih." Ucap Risa sembari memeluk Davian dengan tangis bahagia.


"Tidak perlu berterimakasih Ris, aku sudah menganggap mamah seperti orang tuaku sendiri." Jawab Davian membalas pelukan Risa.


Setelah beberapa saat dokter keluar dari dalam kamar mamah Risa dan menghampiri Davian.


"Bagaimana dok?" Tanya Davian melihat dokter sudah berdiri di ruang tamu.

__ADS_1


"Pasien mengalami kerusakan syaraf sehingga menyebabkan kelumpuhan." Jelas dokter.


"Apa masih bisa sembuh dok?" Tanya Risa penuh harap.


"Kami akan usahakan semaksimal mungkin, dengan melakukan terapi dan semangat dari pasien semoga dalam 6 bulan pasien sudah bisa berjalan." Jelas dokter yang membuat senyum bahagia dari Risa dan Davian.


Risa langsung menuju kamarnya untuk menyiapkan pakaian mamahnya yang harus dia bawa ke rumah sakit, karena saran dari dokter agar mamahnya mendapatkan perawatan lebih intensif di rumah sakit untuk mendukung proses terapi tersebut.


"Dav terimakasih banyak atas semua bantuan mu." Risa menggenggam tangan Davian ketika mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit.


"Sudahlah Ris, aku juga mau lihat mamah sembuh, bagaimana pun mamah yang menyayangi ku dulu dan menjadikanku sebagai anaknya juga." Jawab Davian mengelus lembut tangan Risa.


Risa mengangguk dan tersenyum lebar.


- - -


Dengan tangis haru Risa menatap mamahnya yang sedang berjalan menggunakan tongkat.


"Terimakasih Dav, entah bagaimana aku membalas kebaikan mu." Risa menangis di pelukan Davian.


Davian hanya mengangguk, dia berusaha menahan tangis juga setelah melihat senyum mamah Risa.


"Terimakasih nak Vian, berkat bantuan mu mamah bisa berjalan." Mamah Risa memeluk Davian.


Sam memilih pergi, dia yang biasanya berwajah dingin entah kenapa melihat keharuan Risa dan mamahnya membuat dia ingin menangis.

__ADS_1


"Apa kamu menangis?" Tanya Davian menghampiri Sam yang berdiri agak jauh.


"Kenapa kesini?" Tanya Sam melempar pandangan dari wajah Davian.


"Hahahaha." Davian tertawa "Aku kira kamu sudah tidak memiliki air mata." Lanjutnya, masih dengan suara tawa yang semakin keras, Sam hanya membuang muka berusaha menahan rasa harunya.


"Ngapain kalian?" Risa menghampiri Davian dan Sam yang sedang berangkulan.


"Eh." Ucap kaget Davian dan Sam bersamaan.


"Mamah dimana?" Tanya Davian kemudian.


"Masuk ke dalam ruangan, lagi di periksa dokter." Jawab Risa mengamati wajah Davian dan Sam.


"Hahahaha." Risa tertawa tiba tiba yang membuat Davian dan Sam menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Davian.


"Kenapa?" Tanya Sam.


"Ternya Sam bisa menangis." Jawab Risa masih tertawa.


Sam langsung menekuk wajahnya, sedangkan Davian ikut tertawa keras.


"Aku juga manusia." Jawab Sam dengan dingin.

__ADS_1


"Iya iya percaya." Ucap Risa dan Davian bersamaan.


Mereka akhirnya tertawa bersama, sedangkan Sam yang menjadi bahan tertawaan dari Davian dan Risa hanya diam sambil menekuk wajahnya.


__ADS_2