WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 99 Putra dan Sanjaya Ditemukan


__ADS_3

Satu jam kemudian Ibra menelpon kembali ketika Cytra dan Radita sudah kembali lagi ke Hotel.


["Bagaimana kau sudah siap untuk mengambil anak-anakmu?"] Suara Ibra terdengar sangat menjengkelkan.


"Saya pingin tahu dulu keadaan mereka. Jangan-jangan kamu tidak bersama mereka," Cytra menyelidik.


["Ok, kalau kamu tidak percaya. Ini coba dengarkan suara siapa," tukas Ibra dan lalu memang terdengar suara Putra memanggil-manggil namanya.


"Anaku! Kau baik-baik saja kan disana?" seru Cytra senang mendengar suara Putra dan Sanjaya yang kelihatan ceria.


["Sudah percaya kalau mereka bersamaku?"] Radita mengambil alih lagi telponnya.


"Jangan sok menang kau, Bung! Akan kuhajar kau sampai mampus!" teriak Radita tiba-tiba dengan emosional.


Tentu saja teriakan itu didengar oleh Ibra. Dan seketika itu Ibra memutus sambungan teleponnya.


"Sialan!" seru Cytra kesal.


"Gimana, Cy?" Radita bertanya gelisah.


"Dia menutup telponnya," jawab Cytra gemas.


Ibra sudah terang-terangan membuat pikiran Cytra carut-marut. Padahal dia sudah ingin cepat selesai urusannya kemudian setelah itu memimpin rapat staf di PT ANN. Asistennya Mellany sudah beberapa kali menelponnya.


"Bener-bener minta dihajar dia!" seru Radita. Lantas dia mau menelpon bodyguardnya untuk mencari keberadaan Ibra.


"Sabar jangan gegabah melangkah. Kita cermati dulu apa yang diinginkannya," cegah Cytra.


"Sudah jelas targetnya adalah dirimu. Anak-anak itu hanya sebagai alat saja," Radita berspekulasi.


"Belum tentu. Karena dia sekarang bersama Deryll. Bisa jadi dia ingin aku datang sendiri untuk menyelesaikan hak Deryll mendapatkan harta warisan Mr Morgant," Cytra menerangkan kemungkinan yang lain.


"Apakah Ibra cinta dengan perempuan bule itu. Paling dia mau memoroti harta kekayaannya saja."


"Bisa juga begitu. Tapi yang jelas anak-anak itu sedang bersama mereka. Itu yang penting kita pikirkan, daripada soal asmara mereka," Cytra mengalihkan ke topik anaknya lagi.


"Terus gimana menurutmu agar mereka bisa kita rebut kembali," kata Radita kehabisan akal.


"Menurutku biar saja yang menemui mereka aku sendiri. Kamu di sini saja siap siaga," pinta Cytra.


"Tapi aku takut nanti ada apa-apa dengan kamu?" Radita khawatir.


"Aku yakin Ibra cuma mau membantu Deryll agar aku mau menyerahkan sebagian harta benda Morgant kepadanya. Tidak mungkin akan mencelakakan diriku," jelas Cytra.


"Kamu mau menyerahkan sebagian harta mantan suamimu kepadanya?" tanya Radita.


"Sebenarnya aku sudah merencanakan hal itu. Namun keburu ada kejadian sekarang ini," kata Radita.


"Lalu rencana kamu terhadap hubungan kita bagaimana?" Radita melencengkan pembicaraan ke urusan pribadinya.


"Itu gampang. Setelah urusanku dengan mereka selesai," jawab Cytra ringan.


"Kamu kalau diajak bicara soal hubungan kita seperti menyepelekan begitu," kata Radita mecela.

__ADS_1


"Kamu itu seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta, tak sabaran!" Cytra balas mencela.


"Habis kamu tidak pernah menjawab dengan jelas!"


"Yang jelas bagaimana?"


"Tidak menunjukkan sikap kalau mau saya peristri."


"Dengan dalih apa kamu mau memperistri aku?"


"Bukankah pernah aku katakan bahwa kamu sekarang lebih mempesona dari sebelumnya."


"Kapan sih kamu bilang begitu?"


"Huh!" Radita mengeluh.


"Ouw!" Cytra menjerit kesakitan karena jempol tangannya dipelintir Radita.


"Tuh! Belum jadi suami saja sudah tega menyakiti aku," Cytra mengeluh dengan manja.


"Habis kamu menjengkelkan sih!"


"Sudahlah tidak usah membicarakan urusan pribadi kita dulu. Sekarang yang segera kita urus adalah anak-anak kita."


"Anak-anak kita?"


"Ya, anak-anak kita. Bukankah nantinya mereka statusnya jadi anakmu juga."


"Duh! Aku mau punya suami yang sudah pikun!"


Radita mau memlintir jempol Cytra lagi. Tapi sudah keburu Cytra menarik tangannya yang ada di atas meja restoran.


"Hee! Ndak kena!"


Ulah mereka berdua sangat lucu. Orang-orang yang di restoran hotel itu melihatnya heran dan bertanya-tanya sedang apa kedua insan lain jenis itu.


"Ya, sudah sana berangkat!" perintah Radita.


"Saya berangkat ya, sayang," Cytra mencium tangan Radita.


Radita tersenyum senang.


Semenit kemudian Cytra sudah keluar dari hotel. Dengan tenang dia mengemudikan mobilnya. Lalu diambilnya Hp untuk menelpon Ibra.


"Ini saya sudah sendiri tanpa sopir dan tanpa Radita. Dimana kita harus bertemu?" katanya langsung setelah tersambung dengan Ibra.


"Ok. Kamu ke kafe "D" saja. Nanti aku temui kamu disana," kata Ibra dengan enaknya.


"Kenapa di kafe? Kurang ajar kamu membawa anak-anak ke tempat seperti itu," Cytra marah-marah.


"Kamu mau nurut tidak. Kalau tidak aku...."


"Jangan! Ok! Aku kesana sekarang," tukas Cytra cepat takut kalau sambungan telpon diputus lagi.

__ADS_1


Sesampainya di depan cafe itu Cytra langsung turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam.


Tidak banyak pengunjung yang terlihat di cafe itu. Cytra mengambil tempat duduk yang strategis yang mudah dilihat oleh semua orang.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, seorang waitrees mendekatinya.


"Apakah anda yang bernama Cytra Amalia?" tanya gadis itu.


"Ya, saya orangnya," jawab Cytra pendek.


"Ikut saya. Orang yang bernama Ibra menunggumu di dalam," ucap waitrees itu lalu berjalan ke ruang dalam cafe.


Cytra mengikutinya dengan waspada. Ternyata waitrees itu terus berjalan melewati beberapa pintu dan tembus ke lorong yang berhubungan dengan halaman belakang cafe.


"Itu di mobil warna abu-abu itu orang yang bernama Ibra sudah menunggumu," kata waitrees menunjuk ke arah salah satu mobil yang sedang parkir.


Ketika Cytra sampai di mobil itu, pintu terbuka dari dalam. Ternyata memang benar nampak Ibra memegang stir dengan mesin sudah hidup.


"Cepat naik!" seru Ibra.


Cytra lalu naik ke dalam. Di dalam di jok belakang ternyata sudah ada Deryll yang duduk sendirian.


"Halo, Cytra. Kita ketemu lagi," sapa Deryll.


"Mana anak-anakku? Disimpan dimana mereka!" bentak Cytra.


"Sabar, sebentar lagi akan saya antar kamu ke tempat mereka. Tapi tandatangani dulu ini sebagai bukti kamu telah menyerahkan sebagian harta warisan Mr Morgant." Radita menyerahkan sebendel kertas.


Cytra membaca surat itu keseluruhan. Ternyata telah dibuat rinci oleh Deryll dengan saksi seorang notaris yang sudah tertera tanda tangan dan stempel resmi.


"Sebenarnya tanpa dipaksa jauh hari saya sudah mau membagi warisan Mr Morgant kepada kamu, Deryll. Tapi ini saya tidak mau tandatangani dulu sebelum anak-anak diserahkan kepadaku."


"Jangan banyak bicara! Cepat tandatangani!" Bentak Deryll emosional.


"Jangan kuatir pasti akan saya tandatangani," kata Cytra dengan sikap tenang.


"Ok. Mari saya antar ke tempat mereka," kata Ibra menjalankan mobilnya.


Mobil itu keluar meninggalkan cafe dengan kasar. Juga ketika melaju di jalan raya.


Cytra ternyata di bawa ke sebuah hotel. Letaknya jauh dari hotel tempat Cytra menginap. Ketika mobil berhenti di tempat parkir lantai lima, Cytra turun dengan digandeng tangannya oleh Ibra sampai ke depan pintu kamar.


"Mama!" teriak kedua bocah ketika pintu hotel terbuka. Mereka berlari mengejar Cytra. Begitu pun Cytra mengejar mereka dan memeluknya dengan erat di dalam kamar.


Jantung, hati dan pikiran Cytra seketika ringan dan plong setelah menemukan kedua anaknya. Deryll dan Ibra memperhatikan mereka dengan wajah iri.


"Sudah cepat tandatangani ini," Deryll menyodorkan lagi sebendel kertas yang ada di dalam map.


Cytra dengan cepat menandatangani semuanya. Setelah tanda tangan selesai, Cytra memeluk lagi Putra dan Sanjaya.


Cytra tidak sadar setelah itu Deryll dan Ibra meninggalkannya dengan membawa pintu kunci kamar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2