
Cytra dan Ridwan terus asyik ngobrol di loby hotel tempat Cytra menginap bersama dua anaknya.
"Kok kamu bisa kenal dengan Tante Mira. Apakah kamu saudaranya atau teman biasa?" tanya Ridwan sedikit menyelidik latar belakang Cytra.
"Tidak ada hubungan apa-apa saya dengan dia. Cuma pernah bertemu," jawab Cytra menutupi hubungannya dengan Tante Mira karena dia teman mamanya.
Ridwan nampak lega dengan jawaban Cytra tersebut.
"Aku kira kamu saudaranya atau teman seprofesi," kata Ridwan kemudian.
"Memangnya kenapa kalau aku saudaranya atau teman seprofesinya?" tanya Cytra ingin tahu kenapa mendadak sikap Ridwan yang tadi ramah setelah mendengar nama Mira langsung berubah angkuh lagi seperti kemarin.
"Maaf ini terkait rahasia keluarga kami. Saya tidak ingin mendengar lagi kisah keluarga saya denga Tante Mira?" Ridwan nampak kecewa pada sesuatu yang pernah terjadi.
"Peristiwa yang menyedihkan di masa lalu tidak perlu diingat lagi. Lebih baik dijadikan sebagai pengalaman yang sangat berharga," ujar Cytra lebih ditujukan untuk menasihati dirinya sendiri yang baru mengalami kejadian pahit.
"Apakah kamu pernah mengalami kejadian pahit?" tanya Ridwan.
"Semua orang pasti pernah mengalami kejadian pahit. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Yang penting jangan sampai lari dari kenyataan. Harus bisa menghadapinya dengan sabar," nasihat Cytra kepada Radita.
"Keluarga kami juga begitu. Walaupun Ridwan Maulana anak dari istri selingkuhan Papa, tetap kami terima sebagai anggota keluarga kami. Kami lupakan kejadian masa lalu. Saya juga mengakuinya sebagai adikku sampai sekarang," kata Ridwan.
"Kok bisa sama ya kamu dan dia wajahnya mirip sekali dan namanya juga hampir sama. Padahal beda ibu."
"Kalau di keluarga kami dia dipanggil Maulana. Sedangkan saya Ridwan."
"Oh, gitu ya. Lucu ya!" Cytra tertawa mencairkan suasana yang sedari tadi tegang.
Hahaha, Ridwan juga tertawa.
"Agar perkenalan kita berkesan bagaimana kalau saya mengajak kamu makan-makan di luar," Ridwan menawarkan diri.
__ADS_1
"Boleh. Tapi jangan dengan saya saja dong, nanti dikira ada apa-apa kita berdua," kata Cytra menggoda Ridwan.
"Maksud saya ya dengan anak-anak dan Bu Winar serta Pak Obi," ralat Ridwan.
"Ok. Aku panggil dulu mereka. Nanti kami jalan mengikuti mobilmu."
Hari itu akhirnya persoalan dengan Radita terlupakan oleh Cytra. Apalagi Ridwan ternyata pria yang punya kepribadian sangat hamble tapi sedikit sensitif terhadap persoalan pribadinya. Termasuk ketika ditanya kenapa sampai seusia matang itu belum juga menikah. Dia tidak mau memberikan alasannya secara terbuka. Cuma dikatakan belum mendapatkan wanita yang cocok untuk dijadikan istrinya.
"Tapi sekarang saya sudah menemukan wanita yang cocok. Semoga wanita itu juga menyukaiku," kata Ridwan ketika Bu Winar dan anaknya Boy serta Putra dan Sanjaya bermain di pinggir pantai. Sementara Pak Ob sejak datang ke rumah makan di pinggir pantai itu sudah mengambil meja sendiri agak jauh dengan Cytra dan Ridwan yang sedang duduk berdua.
"Syukurlah kalau kau sudah mendapatkan wanita yang cocok," kata Cytra santai menanggapi curhatan Ridwan tersebut.
Padahal yang dimaksudkan Ridwan wanita yang cocok di hatinya itu personalnya sekarang berada di depannya. Cytra tidak memahami hal itu. Sehingga Ridwan terdiam sebentar.
"Kamu pingin tahu siapa wanita yang sudah cocok di dalam hatiku itu?" tanya Ridwan.
"Kalau kamu tidak keberatan bolehkah saya tahu siapa wanita itu?"
"Maafkan bila aku lancang...Tapi perasaan ini harus saya sampaikan."
"Ketahuilah bahwa wanita yang telah aku pilih menjadi calon istriku itu adalah....Cytra," kata Ridwan dengan serius.
Cytra tidak merasa kaget atau senang mendengar namanya disebut. Karena bisa juga itu bukan dirinya yang dimaksud. Dan secuilpun tidak terlintas dalam benak Cytra apabila Ridwan yang tampan, masih muda dan menguasai bisnis ritel itu akan mengambilnya sebagai istri.
"Kok namanya sama dengan namaku?" tanya Cytra heran.
"Tidak ada Cytra yang lain dan tidak ada wanita lagi yang aku pilih selain dirimu," kata Ridwan menegaskan.
Baru sekarang Cytra kaget bukan main.
"Oh, My God..., maksudmu kau memilih diriku ini menjadi calon istrimu?" Cytra menanggapinya tak percaya.
__ADS_1
"Ya, otak dan hatiku mengatakan bahwa kamulah wanita yang akan menjadi istriku. Tidak ada wanita lagi. Kamulah wanita yang terakhir dari sekian wanita yang pernah dikenalkan Mama kepadaku," Ridwan berkata serius dan jujur.
"Sebentar.... Jangan buru-buru berkeseimpulan begitu. Karena besok atau lusa kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin kau akan mengenal lagi wanita yang lebih baik dariku."
"Tidak. Walaupun besok akan ada wanita yang kecantikannya sepuluh kalilipat dari dirimu, aku tetap memilih Cytra yang sekarang ada di depanku," kata Ridwan sambil menggenggam tangan Cytra di atas meja restoran itu.
Cytra tersenyum tipis. Ia tak habis pikir kenapa Ridwan bisa berketetapan hati seperti itu. Apa yang menarik dalam dirinya. Sejak Radita lari dari dirinya dan mencintai Vionita, Cytra merasa dirinya sudah tidak menarik lagi di mata lelaki. Dengan Mamanya, wanita yang lebih tua dari dirinya saja kalah.
"Bagaimana... kok diam saja? Kamu tidak suka dengan diriku?" Ridwan melepaskan genggaman tangannya.
Cytra menarik lagi tangan Ridwan ganti dia yang menggenggamnya.
"Terus terang aku merasa shock menerima anugerah ini. Seperti dalam mimpi saja rasanya," ucap Cytra dengan perasaan masih merasa kehilangan atas kelakuan Radita yang sempat membuatnya down.
"Aku justru merasa mendapat penghargaan yang besar bila kau mau menerimaku. Kau yang sudah dikenal sebagai lady boss dan cantik, mau menerima diriku yang masih hijau dalam bidang usaha ini."
"Tapi aku seorang janda. Sudah punya anak dua. Apakah tidak memalukan itu nanti di keluargamu?"
"Mama dan Papa sudah tua. Mereka inginnya agar anaknya cepat menikah dan punya cucu. Kalau kamu mau menikah denganku kan Mama dan Papa tidak perlu lama menunggu punya cucu."
"Tapi kalau misalkan kita menikah, Putra dan Sanjaya kan bukan cucu dari kamu. Apakah mereka bisa menerimanya."
"Mama dan Papa menurut saja denganku. Kalau aku cinta dan bahagia dengan apa yang kau miliki, mereka pasti ikut senang dan menerimanya juga."
Ridwan kembali menunjukan percaya dirinya mencintai Cytra. Tapi Cytra masih ragu untuk menerima cinta itu dengan sepenuh hati.
"Menurutku yang harus kita lakukan sekarang adalah saling mengenal saja dulu. Semoga Tuhan memang menghendaki kita berjodoh," kata Cytra kemudian.
Acara makan bersama di restoran pinggir pantai itu berakhir dengan sangat menyenangkan. Bu Winar dan anaknya Boy pulang ke rumahnya diantar oleh Ridwan. Sedangkan Cytra dan kedua anaknya pulang ke hotel bersama Pak Ob.
Sesampainya di hotel Putra tidak lagi menuntutnya pulang ke Jakarta. Dia malah minta lebih lama tinggal di Bali. Karena senang sekali berteman dengan Boy yang gendut dan lucu itu. Sedangkan Sanjaya hanya mengiya-iyakan saja sambil manggut-manggut.
__ADS_1
Tapi Cytra punya rencana lain. Dia tetap mau pulang ke Jakarta. Tetapi langsung ke rumah yang dibelikan oleh Mr Morgant. Rumah itu besar dan ada kolam renangnya. Urusannya dengan Deryll sudah clear semua. Wanita bule itu tidak lagi mempersoalkan warisan dari Mr Morgant.
Bersambung