
"Pagi Dav." sapa Sam ketika melihat Davian keluar dari rumahnya.
"Wah sepertinya aku harus menaikkan gaji mu Sam." kelakar Davian melihat Sam yang sudah rapi dengan stelah jas berdiri di sebelah mobil.
Davian masuk ke kursi sebelah pengemudi, mobil pun melaju dengan pelan meninggalkan rumah Davian, Davian tetap tinggal di rumahnya, dia tidak ada keinginan untuk pindah kerumah yang lebih mewah, itu adalah rumah yang dia beli dengan jerih payahnya sendiri.
"Apa perusahaan A sudah menghubungi mu Sam?" tanya Davian.
"Mereka akan datang pukul 10 untuk melakukan negosiasi Project." Jawab Sam.
Mobil sudah berhenti di depan loby, security segera membuka pintu mobil sembari menunduk hormat, begitu memasuki kantor semua karyawan menyapa mereka sambil menunduk hormat, Davian menyapa balik dengan senyuman sedangkan Sam hanya mengangguk sesekali.
"Kita langsung menuju ruang meeting." ucap Sam ketika mereka memasuki lift khusus.
"Apa mereka sudah datang?" tanya Davian.
"Mereka tiba beberapa menit lalu." jawab Sam sembari memencet tombol lift.
"Hubungi Aditya!" perintah Davian.
"Aditya sudah ada di ruang meeting" timpal Sam.
Davian dan Sam memasuki ruang meeting, semua orang berdiri menyambut mereka, Aditya mengenalkan Davian pada client.
__ADS_1
"Senang bekerja sama dengan anda pak Davian." ucap salah satu orang setelah mereka selesai meeting dan mencapai kesepakatan sepakat.
"Terimakasih pak Andre." jawab Davian dengan ramah.
Satu persatu orang keluar meninggalkan ruangan meeting, Davian dan Aditya mengantar mereka sampai lobby, setelah mereka pulang Davian dan Aditya masuk kembali ke dalam kantor.
"Dav ada yang mau aku bicarakan." ucap Aditya sembari mereka berjalan.
"Baiklah kita keruangan ku." ajak Davian.
- - -
Andini sedang duduk termenung di dalam kamarnya, dari kemarin dia tidak keluar kamar, di hari pertunangan yang sudah sangat dekat ada perasaan bersalah yang muncul kembali.
"Apa kamu ragu dengan pertunanganmu?" tanya David yang mengagetkan Andini.
"Kamu yang sudah memilih Din, biarlah dia bahagia dan kamu bahagia dengan cara masing masing." ucap David dengan menatap Andini.
"Aku hanya merasa bersalah padanya kak, bahkan sampai hari ini aku tidak mengetahui kabarnya." ucap Andini dengan raut muka sedih.
"Dia pasti baik baik saja, kakak yakin dia akan datang nanti." ucap David sembari mengelus punggung Andini yang mulai terisak.
- - -
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Davian setelah duduk di kursinya.
"Aku mau bertunangan dengan Andini." jawab Aditya ragu ragu.
"Oh ya?, selamat dit." ucap Davian sambil berdiri dan memeluk Aditya.
Aditya terkejut melihat respon dari Davian yang bahkan tersenyum setelah mendengar kabar pertunangan yang akan dia lakukan.
Aditya sebelumnya merasa sangat berat memberitahu Davian, dia takut Davian marah ketika mendengar kabar itu.
"Kenapa malah bengong?" tegur Davian yang melihat Aditya tidak membalas pelukannya.
"Eh maaf Dav." ucap Aditya tersadar.
"Aku tak mungkin marah melihatmu bahagian, aku sudah menerima keputusan Andini, mungkin dia memang jodohmu." kata Davian kembali ke kursinya.
Aditya hanya mengangguk dan tersenyum dia sangat bahagia memiliki keluarga seperti Davian.
"Terimakasih Dav." ucap Aditya.
"Tapi ingat janjimu?" kata Davian yang membuat Aditya berfikir.
"Kamu akan terus menjaganya." lanjut Davian melihat Aditya bingung.
__ADS_1
"Maukah kamu mendampingi ku sebagai keluarga." pinta Aditya kemudian.
"Tentu saja, tanpa meminta pun aku akan mendampingi mu." jawab Davian sembari tertawa.