
"Buktikan kalau kamu tidak main dengan Cytra hari ini!" Ucap Vionita kesal karena Radita tidak mau minum kopi buatannya dan enggan diajak kuda-kudaan.
"Untuk apa dibuktikan. Aku tidak berbohong kepadamu. Aku hanya mengantar Cytra periksa dokter dan ternyata dia harus diopname. Ketika diperiksa suhu badannya mencapai 40 derajat celcius," Radita menjabarkan dengan sejujur-jujurnya.
"Demam tidak dia?"
"Ya demam."
"Ok saya percaya tapi kenapa engkau jadi enggan menggauliku malam ini dengan alasan badan tidak vit. Maksudnya apa? Apa kau tidak suka lagi denganku?" tembakan kata-kata Vionita begitu menghentak.
Radita merasa terpojok. Akhirnya ia ungkapkan saja apa yang ingin ia ketahui soal serbuk perangsang itu.
Vionita tidak menunjukkan perasaan kaget atau malu ketika Radita menceritakan persetubuhan mereka di rumah Tante Mira terjadi karena pengaruh serbuk perangsang di dalam kopinya.
"Dan tadi kau melakukan lagi hal serupa pada kopi ini. Maksudnya apa?".
"Serbuk itu memang kucampurkan dalam kopi. Karena aku ingin mendapatkan sensasi lebih dari tubuhmu. Tanpa itu mungkin kamu masih malu-malu. Kurang total," kata Vionita datar tidak nampak takut atau rikuh dengan Radita
"Kau tidak saja mendapatkan sensasi lebih dari tubuhku saat itu. Tapi kau juga telah menghancurkan hubunganku dengan Cytra," Radita kesal tak peduli Vionita akan tersinggung dengan kalimatnya itu atau tidak.
"Jadi kau kecewa kopimu kuberi serbuk perangsang. Atau kau menyesal telah menikahiku secara resmi?" tanya Vionita dengan wajah memerah dan kedua matanya mengembang basah.
"Aku tidak kecewa kita menikah. Aku hanya kecewa hubunganku dengan Cytra akhirnya jadi berantakan," jawab Radita kasar.
"Membingungkan sekali alasanmu, Dit. Tegas saja kau sebenarnya mencintai aku atau Cytra?" tanya Vionita lagi dengan tetesan air mata ke pipinya.
Radita tidak mungkin menjawab jujur bahwa dia lebih cinta kepada Cytra. Tapi juga terlalu sayang kalau Vionita ia lepaskan.
"Kalau boleh jujur aku mencintai kalian semua. Karena kalian wanita-wanita yang terbaik yang pernah aku kenal."
__ADS_1
"Serakah! Itu namanya kamu tidak punya pendirian. Masa aku dan Cytra akan kau jadikan istrimu semua. Tahu hukum apa tidak sih kamu," Vionita nampak marah.
"Siapa yang bilang aku akan menikahi kalian berdua. Saya kan cuma mengatakan mencintai kalian berdua," kata Radita beralasan.
"Menurutku hal itu tetap tidak bisa. Kau harus pilih salah satu. Aku atau Cytra. Percuma kau mencintaiku, tapi hatimu kepada Cytra. Begitu juga sebaliknya kau menikahi Cytra tapi hatimu tertuju kepadaku."
"Tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri juga kamu, bahwa aku masih mencintai Cytra."
"Kalau begitu percuma kau menikahiku, tetapi tidak mencintaiku," kata Vionita ngambek lalu memalingkan mukanya dari Radita.
Kalimat Vionita itu bertendensi ingin menguasai Radita secara utuh. Baik cinta dan tubuhnya. Ia tidak ingin ada wanita lain yang ikut memiliki hatinya dan raganya. Sejak ia menyerahkan tubuhnya kepada Radita, pada saat itulah tekad itu muncul.
Wajar bila Vionita punya semangat untuk memiliki Radita seutuhnya. Ia punya rencana besar yang masih ada dalam otaknya sekarang.
Pernikahannya dengan Radita itu sebagai langkah awal dari rencana besarnya itu. Dua tiga tahun lagi seluruh kekayaan mendiang Tuan Samyogie harus dia kuasai seluruhnya. Maka siapa pun yang menghalangi, walaupun itu adalah anaknya sendiri, akan ia sikat habis!
Juga tidak logis bila soal persetubuhan yang direkayasa oleh Vionita itu ia jadikan alasan untuk menggugurkan pernikahan.
"Sayang, kalau kau masih mencintai Cytra, silahkan kau usir lagi diriku seperti dulu. Mungkin nasib diriku memang harus menjadi orang yang tersisih, terbuang dan tak terabaikan sampai sekarang," kata Vionita dengan suara seperti merintih.
Hati Radita luluh mendengarnya. Radita kemudian belai rambut Cytra yang tergerai indah itu dengan lembut.
"Sudahlah sayang. Kita lupakan saja persoalan serbuk perangsang itu. Kita harus berpikir ke depan. Seperti katamu bahwa dalam kehidupan ini yang baik adalah tidak menyesali masa lalu. Tetapi hadapilah persoalan masa depan," ujar Radita menirukan ucapan Vionita tempo hari.
Mendengar itu Vionita menoleh kepada Radita yang juga sedang memandangnya.
Lelaki di depannya itu mengingatkan dia dengan mendiang suaminya dulu. Dimana Vionita gagal memikat hatinya hingga tak pernah dianggap sebagai pendamping yang syah selama menjadi istrinya.
Situasinya hampir sama dengan yang sedang Vionita hadapi sekarang. Radita masih tetap saja mencintai Cytra walaupun sekarang sudah menikah dengannya. Namun bedanya dengan Samyokgie, Radita lebih halus perasaannya.
__ADS_1
"Wajahmu mengingatkan aku pada Papamu dulu. Wajah yang menggambarkan kekerasan pada kesetiaan. Papamu dulu sangat setia kepada Mamamu. Saya ikhlas kalau waktu itu aku diabaikan. Karena aku kagum atas kesetiannya kepada almarhum Mamamu. Dan sekarang kesetian itu semestinya menitis dalam dirimu," ucap Vionita yang cukup menggetarkan perasaan Radita.
"Memang almarhum Papa orangnya seperti itu. Walaupun sikapnya keras tapi bila sudah mencintai orang maka tidak akan berpaling kepada orang lain."
"Kenapa kamu tidak meniru Papamu. Mencintaiku seperti Papamu mencintai Mamamu. Hingga akhir hayatnya tak bisa berpaling ke lain hati."
"Aku belum ada apa-apanya dengan Papa. Mengendalikan cinta saja aku masih sering bimbang. Apalagi mengendalikan perusahaannya yang besar itu," Radita menanggapi ungkapan Vionita dengan serius.
Vionita merasa mendapat angin segar untuk melancarkan rencana besarnya.
"Jangan kuatir, Sayang. Selama aku masih berada di sampingmu kelemahanmu dalam mengendalikan perusahaan itu mudah-mudahan bisa cepat tertangani," kata Vionita.
Dulu waktu Cytra masih SMP, Vionita pernah kuliah ekonomi. Namun tidak sampai tamat. Karena terkendala biaya. Honornya sebagai penyanyi cafe tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Apalagi untuk bayar kuliah dan kontrak rumah. Modal ilmu yang sedikit di bangku kuliah itu bisa untuk membantu Radita.
"Oya? Saya kok baru tahu kalau kau pernah kuliah," kata Radita senang setelah Vionita cerita soal kuliahnya.
"Mana mungkin kau tahu. Karena Cytra sendiri waktu itu masih kecil. Masih duduk di bangku SMP. Kamu pun mungkin dulu sama dengan Cytra. Karena usia kalian kan hampir sebaya."
Radita membatin. Usianya dengan Cytra memang hampir sebaya. Lebih pantas jika Vionita menjadi Mamanya. Tapi fisik dan wajah wanita ini memiliki kelebihan yang luar biasa. Belum nampak kerutan di wajahnya. Sehingga masih terlihat muda dan pantas bila bersanding dengan dirinya.
Mendengar bahwa Vionita pernah kuliah jurusan bisnis. Radita nampak senang. Dalam pikirannya Cytra saja bisa berhasil mengelola perusahaan besar dalam waktu relatif singkat. Apalagi Mamanya. Pasti jauh lebih berpengalaman dibandingkan Cytra.
"Tapi bukannya aku tidak percaya kepadamu. Namun apakah pantas istri seorang CEO ikut bekerja mengurusi perusahaan?"
"Andaikan aku diberi kepercayaan untuk mengurus perusahaan, aku akan tangani dulu dari masalah yang kecil-kecil. Seperti kedisiplinan, mental dan etos kerja karyawan. Baru kemudian menginjak ke masalah intinya yang menyebabkan perusahaan selama ini berjalan stagnan," ujar Vionita menerangkan.
"Ide yang bagus itu, Sayang. Aku jadi semakin yakin kalau kita bersama-sama memimpin perusahaan pasti semua persoalan akan tertangani dengan cepat," kata Radita prnuh keyakinan
Bersambung
__ADS_1