
Pagi yang cerah. Cytra sudah berdandan rapih. Begitu juga dua anaknya Putra dan Sanjaya. Sedangkan Radita yang menunggu di depan juga sudah siap mendampingi mereka untuk pergi ke Bali.
"Ini ke Bali bersama anak-anak, Dit?" Kata Cytra tak percaya.
"Sekali-kali mereka diajak rekreasi. Agar tahu dunia luar. Jangan hanya di rumah saja, nanti kuper," balas Radita penuh percaya diri.
"Kamu yakin, Dit? Apakah keamanan kita semua terjamin?" kata Cytra dengan mimik prihatin.
"Saya membawa dua bodyguard. Ditambah dua bodyguard dari pihak kamu. Saya kira cukup mantap mengawal kita sampai ke Bali," kata Radita sungguh-sungguh.
"Aku kok masih ketir-ketir. Situasi sekarang ini kita kan sedang diincar oleh orang-orang yang tidak puas atas kebijakan yang saya terapkan di perusahaan. Sementara kejadian teror itu juga belum terungkap siapa otak pelakunya sampai sekarang," Cytra paparkan situasi menurut asumsinya.
"Sudah kamu tenang saja. Paling mereka cuma menakut-nakuti tidak berani bertindak lebih jauh dari itu," Radita berusaha membuat perasaan Cytra tenang.
"Menurut saya biarlah saya berangkat sendiri saja. Karena saya ke Bali untuk urusan pekerjaan. Tidak usah rame-rame seperti ini, membawa anak-anak segala," Cytra menyampaikan lagi usulannya yang dari awal sudah ia sampaikan kepada Radita.
"Tapi aku ingin ikut juga ke Bali dan anak-anak masa kita tinggal sendirian di rumah. Kasihan mereka belum pernah melihat Bali," Radita bersikukuh ingin mengajak anak-anak pergi.
"Dasar!" gumam Cytra. Lelaki kalau sedang jatuh cinta memang pinginnya dekat terus.
"Nanti saja kalau situasi sudah aman kita rekreasi bersama. Gimana?" rayu Cytra.
"Tidak sekarang saja mumpung anak-anak sedang libur sekolah," Radita tetap pada pendiriannya.
Cytra tahu apa maksud Radita bersikukuh mengajak Putra dan Sanjaya mengikuti Mamanya pergi. Karena sebenarnya dia khawatir Cytra diganggu pria lain. Nanti bisa perhatiannya terhadap dirinya bisa buyar kembali. Apalagi di Bali ada Ibra. Pria yang juga sangat mendambakan Cytra menjadi istrinya.
"Ayoo kita berangkat. Pengawal kita semua sudah bersiap-siap di depan," ajak Radita tak sabar.
Dengan rada kesal Cytra akhirnya melangkah keluar. Sangat kontras yang terlihat pada diri Cytra. Penampilan Lady Boss dengan kaca mata hitamnya yang keren itu berjalan menggandeng dua anaknya sekaligus.
"Kamu belum pantas menggandeng anak-anak. Karena masih kelihatan lebih muda dari usiamu," goda Radita yang berjalan di belakangnya.
Cytra cuma mencibirkan bibirnya sambil melangkah menuju ke mobilnya.
Setelah Cytra, anak-anak dan Radita masuk ke mobil mewah warna hitam, dan empat orang bodyguard juga sudah berada di mobilnya masing-masing, mereka berangkat beriringan keluar dari pintu gerbang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan dari rumah tidak ada hal-hal mencurigakan. Atau tidak ada seseorang atau kendaraan yang mengikuti.
Iring-iringan tiga mobil itu melaju dengan kecepatan menyesuaikan situasi jalan raya. Putra dan Sanjaya berceloteh sendiri di jok belakang dengan penuh ceria. Kadang suara ramai mereka reda karena tertidur. Kemudian rame kembali ketika bangun.
Sementara Cytra dan Radita banyak diamnya. Bicara kalau ada perlunya saja. Sopir mobil mewah itu sangat piawai memegang kemudi sepanjang perjalanan. Setelah istirahat empat kali di rest area, sampailah mereka di Bali menjelang subuh.
Dua mobil yang dinaiki bodyguard berhenti mengapit mobil mewah warna hitam di area parkir sebuah hotel. Cytra, Radita dan dua bocah yang imut itu berjalan ke loby hotel dengan dikawal ketat oleh empat bodyguard.
Cytra mengambil satu kamar twin room bersama dua anaknya. Sedangkan Radita masuk ke kamar single room. Sementara empat bodyguard berada di dua kamar standart room yang tidak jauh dari kamar bos mereka.
Hingga pagi merekah kembali tidak ada kejadian yang menonjol. Anak-anak bangun lebih cepat dari Cytra. Mereka sudah berceloteh sendiri di atas kasur ketika Cytra membuka matanya pukul 7.30.
"Sudah mandi belum kalian. Ayo belajar mandi sendiri sekarang. Mama tidak membawa babysitter," ucap Cytra masih dengan suara serak karena baru bangun tidur.
"Dingin, Ma. Nanti saja!" seru Putra anak yang pertama.
"Kan ada air panasnya di kamar mandi," kata Cytra.
"Putra tidak tahu pakai kran yang mana, Ma."
Melihat mamanya berjalan ke kamar mandi kedua bocah yang lincah itu mengikutinya.
"Ini yang ada tanda merahnya air panas. Sedangkan yang hijau air dingin. Ayo kalian mandi jangan bergurau terus!"
Setelah memberi petunjuk cara menggunakan kran di kamar mandi, Cytra kembali berbaring meneruskan tidurnya yang belum tuntas. Namun beberapa menit kemudian Cytra kaget mendengar Putra menjerit memanggil-manggil namanya dan asap mengepul sampai berkabut di kamar mandi.
"Ya, ampuuun! Kalian kebanyakan mengucurkan air panasnya. Jadi banyak asap begini!" teriak Cytra gemas.
Dua anaknya cuma diam ketakutan di sudut kamar mandi. Setelah kabut asap itu hilang dan air yang mengucur normal kembali, Cytra lalu memandikan anaknya satu persatu.
Setelah selesai mandi lalu ia kenakan pakaian anaknya dengan perasaan kesal. Bukan kesal karena direpotkan oleh pekerjaan yang tidak pernah dilakukannya itu. Tetapi kesal kepada Radita. Karena dia yang menyuruh Cytra mengajak anak-anak. Padahal Cytra ke Bali bukan untuk foya-foya. Tetapi karena ada kepentingan pekerjaan.
"Uuh! Capek juga ternyata ngurus anak-anak," keluh cytra setelah melihat kedua anaknya sudah berpakaian rapih dengan sisiran rambutnya yang bergaya ala casanova.
"Sekarang Mama yang akan mandi. Kalian duduk saja disini jangan kemana-mana. Setelah mama mandi nanti kita sarapan bareng di lantai bawah," pesan Cytra kepada anak-anaknya.
__ADS_1
"Ya, Ma. Mama cepat mandinya. Putra sudah lapar," ucap Putra anak tertua.
"Iya, Ma. Sanjaya juga udah lapar," balas adiknya.
Cytra hanya mengangguk lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Setelah seluruh pakaiannya ia tanggalkan, termasuk bra dan cd-nya, kran ia hidupkan. Maka mengucurlah air dari shower. Membasahi seluruh tubuhnya. Bulir-bulir air berkilau menempel di kulitnya yang putih dan halus itu.
Tidak seperti biasanya ia berlama-lama di kamar mandi untuk membersihkan badannya. Karena teringat kedua anaknya tanpa ada yang menjaganya di dalam kamar. Takut anaknya yang super aktif itu berulah yang membahayakan.
Setelah mengguyur tubuhnya kembali hingga buih sabun yang menempel di kulit hilang semua, Cytra buru-buru mengeringkan badannya dengan handuk. Lalu keluar hanya mengenakan bra dan cd. Tapi apa yang terjadi dengan kedua anaknya?
"Ya, Tuhan!" Cytra menjerit karena tidak melihat kedua anaknya lagi. Kemana mereka? Apa ke restoran sendiri untuk makan pagi. Karena tadi bilang sudah lapar. Tapi anak sekecil itu sangat berbahaya sekali turun dari kamar yang berada di lantai sepuluh itu.
Perasaan Cytra sudah tidak karuan. Hanya berpakaian apa adanya Cytra keluar kamar dan berlari ke kamar Radita. Ia gedor pintu bertubi-tubi tak sabar.
"Ada apa, Cy?" tanya Radita ketika pintu ia buka.
"Apakah anak-anak ada di kamarmu?" tanya Cytra gelisah.
"Gimana sih. Kan tadi malam tidur bersamamu," Radita langsung nampak cemas.
"Iya tadi sudah saya mandikan mereka semua. Kemudian saya tinggal mandi sebentar. Selesai mandi saya keluar tapi mereka sudah tidak ada!"
"Waduh!" seru Radita panik.
"Mungkin apa ke restoran di lantai bawah. Karena tadi bilang sudah lapar."
"Ya, hayo cepat kita susul ke sana!" seru Radita dan bergegas menggandeng tangan Cytra menuju ke lantai bawah.
Empat bodyguard yang ditelpon Radita langsung keluar dari kamarnya. Mereka menyusul ke restoran.
......Halo pembaca tahu tidak kemana sebenarnya Putra dan Sanjaya? Terimakasih ya masih mengikuti kisahnya 🙏
Bersambung
__ADS_1