WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 94 Teror Datang


__ADS_3

Cytra tak habis pikir kenapa niat baik tidak selalu dibalas dengan kebaikan pula. Dulu dia berniat baik mencintai Ibra, agar bebas dari hukuman mamanya sebagai playboy. Tetapi niat baik itu malah berbalas sebuah pengkhianatan. Ibra menikah dengan Marina.


Sekarang dia berniat baik menyelamatkan perusahaan almarhum suaminya, tetapi malah dituduh akan menguasai harta itu oleh Deryll, mantan istri suaminya. Bahkan kali ini bukan dirinya saja yang terancam keselamatannya, tapi juga kedua anaknya yang sangat ia sayangi itu.


Malam datang cukup mencekam dalam perasaan Cytra. Di dalam kamar dia sulit memejamkan matanya. Bukan karena gelisah besok pagi akan pergi meninggalkan anak-anaknya ke Bali. Tetapi memikirkan terus apa yang dikatakan Radita sore tadi.


Karena sumpek berada di dalam kamar akhirnya ia keluar mencari angin di beranda samping. Ternyata di tempat itu sudah ada Radita yang sedang santai sendirian sambil ngopi dan menghisap filter. Sedangkan Vika istrinya sedang pergi. Katanya ke rumah kakaknya.


"Kamu sekarang merokok, Dit?" sapa Cytra sambil duduk di kursi sampingnya.


"Ya. Iseng-iseng saja ketika lagi suntuk," jawab Radita seenaknya.


"Suntuk apa orang kamu tidak kurang suatu apa pun," kilah Cytra.


"Harta dan kekayaan tidak menjamin orang tidak punya masalah, Cy."


"Memang kamu punya masalah?"


"Tidak perlu kamu tahu." Radita kelihatan tidak mau diganggu apa yang sedang bergemuruh di dalam kepalanya.


"Apakah ada masalah dengan Prama Group?" tanya Cytra kemudian.


"Tidak ada. Prama Group Masih berjalan sampai sekarang."


"Apakah karena ulah anak-anaku tadi?"


"Tidak juga."


Cytra berhenti untuk menanyakan sesuatu yang sudah menggantung di bibirnya. Karena memang sangat pribadi kalau ia tanyakan.


Cytra masih ingat Radita menikahi Vika karena terpaksa gadis itu sudah hamil duluan. Padahal waktu itu masih ada jalinan asmara antara Radita dengan wanita yang lebih tua darinya yaitu Vionita. Apa mungkin sekarang dia masih memendam perasaan cinta dengan Vionita?


"Apakah kamu sedang ada masalah dengan Vika?" akhirnya keluar juga pertanyaan tersebut dari mulut Cytra.


Radita terdiam tidak mungkin mengiyakan pertanyaan Cytra itu. Benar, dia memang sedang ada masalah dengan Vika. Istri yang dinikahinya karena terpaksa sudah hamil duluan itu sekarang sering pergi meninggalkan rumah sendirian. Seperti malam itu.


"Tidak. Saya memang sedang pingin sendirian," ucap Radita kemudian berbohong.


"Jangan membohongi diri sendiri. Aku tahu kok suasana hatimu sekarang ini," kata Cytra yakin kalau Radita sedang mengingat cinta pertamanya.


"Seperti dukun saja bisa menebak isi hati orang," kilah Radita sedikit kesal.

__ADS_1


"Pasti sekarang kamu sedang mengingat Vionita kan?" Celetuk Cytra langsung pada pokok masalah yang sedang dipikirkan Radita.


"Vionita? Ah! Itu masa lalu. Sudah aku kubur dalam-dalam," Radita tak mau mengakui.


"Jangan bohong, saya mau membantumu loh," Cytra tambah yakin dengan dugaannya.


"Kenapa kamu merasa yakin dengan tebakanmu?"


"Di kursi ini dulu bukankah kamu menyatakan cinta pertamamu dengan Vionita," Cytra makin mengorek isi hatinya.


"Memang disini dulu aku pernah menyatakan cinta pertamaku kepada Vionita. Tetapi itu kan dulu. Sudah berlalu lama. Tidak mungkin bisa terjadi kembali," Radita akhirnya mengungkapkan perasaan hatinya kepada Cytra.


"Kalau kamu ingin mengulang kembali dengannya aku bisa membantumu mendatangkan Vionita kembali kesini," kata Cytra memberanikan diri menyampaikan usul.


"Tidak mungkin dia mau kembali. Karena telah aku sakiti." Radita nampak pesimistis.


"Tetapi seandainya dia mau kembali kepadamu apakah kamu mau menerimanya?" tanya Cytra.


Radita diam tak menjawab.


"Ya sudah kalau kamu belum bisa mengataķannya sekarang. Tapi yang jelas aku siap membantumu mengenai hal itu kapan saja. Kamu sudah banyak membantuku, mengurus anak-anakku. Mengingatkanku adanya ancaman terhadap keselamatanku. Maka wajarlah kalau sekarang aku ingin membalas kebaikanmu."


"Kalau saya tidak takut dengan hal-hal semacam itu. Saya sudah biasa hidup di lingkungan keras. Tapi yang saya khawatirkan adalah anak. Saya tidak bisa membayangkan apabila di kemudian hari anak saya terkena imbasnya atas aktivitasku sekarang ini," kata Cytra.


"Kalau masih dengan saya, semoga mereka baik-baik saja," balas Radita menenangkan perasaan Cytra.


"Harapan saya juga begitu. Tetapi kalau kemarin di sekolah sudah ada orang yang mengincar Putra dan Sanjaya, apakah kamu masih bisa menjamin keselamatan mereka?"


"Saya sudah ada rencana untuk membuat diri mereka makin aman. Tenang saja. Orang-orang saya banyak di luar," kata Radita lebih meyakinkan Cytra.


"Terimakasih kamu sudah banyak berbuat untuk anak-anakku."


"Mereka adalah anak keturunan Samyokgie yang terakhir. Saya pribadi sangat berharap keselamatan mereka tetap terjamin sampai kelak mereka meneruskan kejayaan Prama Group."


"Ok. Kalau begitu besok saya sudah bisa tenang berangkat ke Bali," kata Cytra.


"Kamu tidak pakai pengawal?" tanya Radita mengingatkan.


"Pengawalku sudah stand by. Tinggal aku telpon saja, mereka pasti datang," ucap Cytra sedikit sombong.


Cytra kemudian bangkit dari kursi dan berjalan masuk ke kamarnya. Tapi belum sempat dia rebahan di tempat tidur, tiba-tiba terdengar rentetan senjata di depan rumah.

__ADS_1


Cytra langsung keluar kamar lagi dan melihat Radita masuk ke dalam rumah dengan menundukan kepalanya, ketakutan.


"Ada apa, Dit?" tanya Cytra gugup.


"Mungkin benar yang aku katakan tadi sore," ucap Radita terbata-bata.


Tak lama setelah itu seorang security rumah dengan tergopoh-gopoh masuk. Dia melaporkan kalau pos penjagaan di pintu gerbang ditembaki oleh dua pengendara sepeda motor. Untung tidak ada petugas yang terkena tembakan.


"Penembak gelap itu mungkin hanya ingin mengacau saja," kata petugas security itu.


Setelah Radita memberikan arahan petugas security itu pergi kembali ke pos penjagaan.


"Teror mulai datang," ucap Radita pendek kepada Cytra.


"Kalau teror itu ditujukan ķepadaku apakah mereka tahu kalau aku ada di rumah ini?" tanya Cytra.


"Mungkin juga teror itu ditujukan kepada diriku" ungkap Radita.


"Kau punya masalah apa dengan peneror itu?" tanya Cytra heran Radita punya masalah yang sama.


"Tadi sore sebenarnya aku sedang bertengkar dengan Vika. Dia menuntut pembagian harta kekayaan yang besar kalau nanti kami bercerai," kata Radita terus terang.


"Ya, ampuuun, Dit! Masalahmu dengan Vika ternyata sudah separah itu. Aku tahunya selama ini kamu hidup rukun dengannya?" seru Cytra nyaris tak percaya.


"Memang perselisihan itu kami simpan rapat-rapat selama ini. Aku tidak ingin masalah ini diketahui orang banyak. Jangan sampai nanti malah berdampak kepada perusahaan."


"Jangan takut dan jangan kuatir. Aku akan membantumu kalau kau butuh bantuanku," kata Cutra menawarkan jasa.


"Sebenarnya aku sudah lama mau minta bantuanmu. Tapi malu. Karena selama ini rasanya aku tak pernah berbuat baik kepadamu."


Cytra sebenarnya sudah lama mendengar dari Ibra kalau Radita sedang kesulitan mengelola perusahaannya. Bahkan sampai akan memijamkan Putra dan Sanjaya kepada Ibra, asal Ibra mau memberikan pinjaman yang cukup besar jumlahnya. Saat itu Ibra memang sedang merayu Cytra agar mau menikah dengannya atas tuntutan Mami Andante.


"Kalau teror itu ditujukan kepadamu apa mungkin Vika bisa bermain strategi sampai melibatkan orang-orang bayaran seperti itu?" kata Cytra tak percaya.


Cytra tahu bahwa Vika adalah adik sahabat karibnya, Jenet. Jenet memang pernah mengeluh atas kenakalan adiknya itu. Tapi saat itu Cytra tahunya cuma kenakalan biasa seorang gadis. Tidak tahunya sekarang menjadi istri Radita dan sedang bermasalah cukup berat.


"Itu baru dugaan saya, Cy. Dan bisa juga teror itu ditujukan kepada kamu. Kita belum tahu apa keinginan mereka. Kita tunggu saja apa yang terjadi berikutnya."


Cytra pun diam tak menanggapi lagi. Kepanikan itu akhirnya dibawa mereka ke kamar masing-masing. Cytra tak bisa tidur memikirkan urusan pribadi dan pekerjaannya. Begitu juga Radita. Mereka sama-sama menghadapi masalah yang tak jauh berbeda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2