
Cytra yang beberapa pekan ini tinggal di Jakarta, merasa bersyukur. Apa yang diangan-angankannya sejak dulu sudah terwujud. Yaitu memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama kedua anaknya yang sudah semakin besar dan pintar.
"Sekarang aku telah mencapai apa yang kuinginkan. Kalau aku menikah lagi apakah nanti tidak akan menghadirkan masalah baru dalam hidupku," kata hati Cytra hari itu ketika kedua anaknya sudah berangkat sekolah dikawal oleh sopir khusus antar jemput.
Sambil duduk membaca buku di ruang keluarga itu, ia memperhatikan kinerja para asisten rumah tangganya yang semuanya berjalan dengan sangat baik. Cepat dan rapih. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan roda kehidupan rumah tangganya.
"Tetapi kalau begini terus apakah tidak menimbulkan rasa jenuh? Sampai kapan aku bisa hidup sendiri seperti ini?" Perasaan yang lain muncul di benaknya.
Ya, selama beberapa pekan ini memang ia merasakan kehidupan yang smooth. Rasa kecewanya terhadap Radita dan Vionita sudah tidak ada lagi. Seperti debu yang mudah tertiup angin. Tapi bagaimana dengan beberapa pekan, bulan dan tahun berikutnya, apakah ia tetap akan enjoy hidup sendiri.
Apalagi usianya masih relatif muda. Suatu saat ranjangnya akan terasa sepi tanpa teman curhat di sampingnya. Apalagi nanti bila hujan turun dan hawa dingin menyelinap membungkus tubuhnya, siapa nanti yang akan mendekap tubuhnya.
"Tapi siapa yang akan kujadikan teman seiring sejalan dan penuh kasih sayang?" tanya Cytra dalam hati.
Pengalamannya selama ini sudah banyak makan asam garam dalam percintaan. Dan lelaki yang ia rasakan paling mencintainya sepenuh hati hanyalah Mr Morgant. Lelaki bule itu telah memberikan segalanya baik cinta maupun harta kepada Cytra. Sayang umurnya tidak panjang.
Sedangkan dengan Samyokgie sebenarnya Cytra tidak merasakan adanya kasih sayang dalam kehidupannya sehari-hari. Yang ia rasakan Samyokgie menggaulinya hanya karena nafsu belaka. Tidak ada imbal baliknya yang telah Cytra berikan baik Cinta maupun harta benda.
Warisan yang ditinggalkan oleh Samyokgie hanyakah Putra dan Sanjaya. Sementara harta dan aset perusahaan yang melimpah ruah itu dikuasai oleh Radita. Putra dan Sanjaya yang statusnya juga sebagai anak kandung Samyokgie tidak mendapatkan warisan atau peninggalan apa pun.
Tidak tahu nanti dengan Vionita. Apakah setelah menikah dengan Radita akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
"Ah! Kenapa pikiranku nglantur begini," pikir Cytra sambil meletakan buku yang dibaca di meja.
Cytra lalu beranjak dari kursinya dan mengambil segelas air putih dari dispenser. Lalu membuka hapenya. Ia teringat telpon dan pesan whatsapp dari Vionita yang belum ia baca. Malas dia menerima telpon dari Mamanya beberapa hari yang lalu. Karena hatinya masih terbakar cemburu. Sehingga saat itu ia biarkan saja dering telpon dari Vionita sampai berhenti sendiri.
Sekarang pun dia masih ragu membuka pesan yang sudah tersimpan beberapa hari itu. Tapi merasa penasaran juga ingin tahu. Lalu ia buka isi pesannya dan dibacanya dengan serius.
//SELAMAT MALAM, MAMA TIDAK AKAN MARAH KALAU KAMU MEMBENCI MAMA. MALAM INI MAMA CUMA MAU MINTA MAAF ATAS KEJADIAN KEMARIN. TERUS TERANG MAMA MASIH SAKIT HATI ATAS PERBUATANMU DENGAN TUAN SAMYOKGIE DI MASA LALU. SEHINGGA DENGAN TERPAKSA AKU LAKUKAN HAL ITU DENGAN RADITA. TERSERAH KAMU AKAN MENILAI MAMA SEPERTI APA. SETELAH INI MUNGKIN AKU HIDUP BERSAMA RADITA. SEMOGA ENGKAU PUN BAIK-BAIK SAJA HIDUP BERSAMA KEDUA ANAKMU//
__ADS_1
Cytra menyandarkan badannya ke sofa setelah membaca pesan tersebut. Ada perasaan kehilangan dalam hatinya. Tapi ada pula harapan Vionita bisa hidup bahagia dengan Radita. Wanita itu sudah lama menderita. Sekaranglah saatnya untuk mereguk kebahagiaan.
\*\*
Sementara itu di dalam rumah yang lain Ridwan masih berdebat dengan Maulana. Anak urakan itu tidak mau menjelaskan alasannya dengan jelas kenapa menghalangi Ridwan menikah dengan Cytra.
Kedua orangtuanya hanya bisa nenonton mereka berdebat di meja makan. Juga berjaga-jaga melerai apabila sewaktu-waktu berkembang sampai ke perkelahian.
"Biarkan saja mereka berdebat, Mi. Debat itu kan sehat bisa mengasah otak masing-masing. Asal tidak sampai berkelahi," kata Papi Aris.
"Kata siapa? Berisik saya mendengarnya," ucap Umi Salmah lalu melangkah pergi menuju ke kamarnya.
"Sudah kamu tinggal tidur saja sana!" seru Aris mengiringi Umi Salmah masuk ke kamarnya.
Perempuan itu sebenarnya sudah sangat menjemukan karena sikap-sikapnya. Kalau diijinkan Aris ingin kembali bersama Mira, mamamya Maulana.
BRAK!!
"Terserah kamu kalau tidak mau menjelaskan alasanmu. Saya tetap akan jalan terus untuk mendekati Cytra," kata Ridwan sambil menahan emosinya agar tidak terlalu meledak.
"Ya, itu memang hak kamu. Tapi jangan minta tolong aku kalau nanti menjumpai kesulitan."
"Bisa bantu apa kau sama Kakak. Memangnya kau tahu siapa Cytra? Paling cuma baru lihat wajahnya saja. Kalau aku tidak kenal Cytra saja, tapi kedua anaknya juga sudah kenal akrab," Ridwan pamerkan sebegitu dekatnya dengan Cytra.
"Hebat. Saya acungi jempol Kakak sudah kenal dia sejauh itu. Tapi jangan menyesal nanti kalau tahu siapa sebenarnya Cytra," Maulana tak menyerah terus mempengaruhi Kakaknya agar membatalkan menikah dengan wanita cantik itu.
"Lama-lama saya jadi curiga sama kamu kok ngotot menghalangiku. Jangan-jangan kamu naksir dia juga."
"Buat apa saya naksir sama janda, kalau saya lebih baik cari yang masih gadis, daripada janda punya anak dua," kata Maulana bernada mengejek Kakaknya.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Maulana seperti itu tentu saja Ridwan merasa tersinggung. Seolah adiknya itu telah menganggap rendah wanita yang telah dipilih menjadi calon istrinya.
Maka emosinya pun meledak. Semangkok sayur dilemparkannya ke muka adiknya yang bermulut kasar itu.
"Hai! hai!! Jangan gitu dong, Kak. Debat boleh tapi jangan main kasar begitu," papinya melerai dengan memegangi tangan Ridwan yang mau melayangkan lagi tanggannya ke muka Maulana.
Mendengar suara mangkok terpelanting dari meja makan dan jatuh ke lantai, Umi Salmah keluar dari kamarnya.
"Ada apa, Pi. Siapa ini yang melempar mangkok sayur sampai berantakan begini?"
"Tuh yang melakukan, Mi." Maulana menunjuk ke arah Ridwan yang masih dipegangi oleh Papinya.
"Kamu itu pemicu keributan ini. Coba kalau kamu tidak ada di rumah ini. Pasti rumah ini tenang. Tidak sampai ada keributan seperti ini," Umi Salmah malah menyalahkan Maulana.
"Kok Mami malah menyalahkan saya. Ndak adil itu namanya, Mi. Jadi ibu itu yang adil dong," mulut anak urakan itu semakin membabi buta.
"Diam kau! Sekarang kau kembali saja ke rimahmu sana. Biar rumah ini tenang," Umi Salmah marah sekali.
"Umi jangan menambah keruh suasana!" Papi Aris mengingatkan.
"Biar keruh sekalian! Tetapi setelah itu rumah menjadi tenang kembali!" Umi Salmah tak peduli peringatan suaminya.
"Ok. Aku akan pulang ke Mama Mira sekarang. Tapi jangan menyesal kamu Kak, kalau tidak jadi menikah dengan Cytra," ancam Maulana.
Cowok itu kemudian pergi meninggalkan Ridwan dan Mami Papinya. Dalam hati dia tertawa sinis.
"Tidak bakal Ridwan mendapatkan wanita cantik yang kaya raya itu," gumamnya.
Maulana memang punya senjata ampuh yang akan dia gunakan untuk menggagalkan rencana pernikahan itu.
__ADS_1
Berambung